Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #38

Potret Dongeng The Snow Queen

Sebagaimana janji yang telah aku dan Dharma buat di taman bermain hari itu. Kami berangkat menjelang siang menuju kediaman ibu Dharma.

Dharma menyetir sementara aku duduk di sampingnya dengan rekening koran yang sejak beberapa hari lalu tidak pernah benar-benar lepas dari pikiranku. Nama Nurmala Hermawati masih tertera di sana, bersama deretan angka yang selama ini masuk secara rutin ke rekening Paman tanpa pernah aku ketahui dari mana asalnya. Semakin lama aku pikirkan, semakin terasa bahwa mungkin selama ini aku hidup dari sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kukenal.

Aku memandangi Dharma yang fokus menghadap ke jalan di depan. “Dharma.” Helaan napasku cukup panjang di antara kalimat ini. “Bagaimana cara kamu mengingat ibumu?”

Dharma diam beberapa saat. Tangannya tetap berada di kemudi. “Ingatan aku tentang Ibu adalah sosok yang lebih banyak kosong.”

Aku tidak menyela.

“Mungkin terutama setelah Ibu berpisah dengan Ayah. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Bukan hanya dari rumah, tapi dari dirinya sendiri.” Dharma menghela napas. “Tapi sewaktu kecil, hal yang paling aku ingat ketika Ibu suka menceritakan dongeng sebelum tidur.”

“Dongeng apa yang paling kamu suka?”

“Aku tidak tahu kamu pernah mendengarnya atau tidak. Tapi aku sangat menyukai dongeng berbau dinasti, kerajaan, atau sejenisnya.” Dharma tertawa pelan mengingat masa kanak-kanaknya. “Judulnya The Snow Queen.”

Aku tersenyum tipis. “Yang ratu es itu, bukan? Aku tahu.”

Dharma mengangguk. “Ibu selalu bilang cinta itu terkadang bisa membuat orang menjadi bodoh.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dalam cerita itu ada dua tokoh bernama Kai dan Gerda. Menurut Ibu, dirinya lebih mirip dengan Ratu Es dalam cerita itu.”

Aku mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”

“Bukan dalam arti jahat.” Dharma ikut tersenyum. “Selayaknya Ratu Es, Ibu berusaha membekukan hati Kai supaya tidak lagi merindukan Gerda. Namun, usahanya selalu gagal.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Karena Ayah tetap mencintai perempuan lain,” pungkas Dharma.

Rumah ibu Dharma berada di sebuah kawasan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. Bangunannya sederhana, dengan halaman depan yang dipenuhi beberapa pot tanaman. Tidak ada sesuatu yang terlihat istimewa dari luar, tetapi entah kenapa aku merasa gugup ketika Dharma mematikan mesin mobil.

Aku sudah beberapa kali membayangkan pertemuan ini beberapa hari sejak mengetahui nama Nurmala di rekening koran—tepatnya ketika aku memastikan firasatku yang merasa seolah nama itu pernah aku dengar sebelumnya. Dharma mengetuk pintu.

Seorang perempuan membuka pintu beberapa saat kemudian. “Dharma.”

“Ibu.”

Mereka saling tersenyum. Kemudian pandangannya beralih kepadaku.

“Ini Ratih.”

Aku mengulurkan tangan. “Salam kenal, Tante.”

Ibu Dharma memandangku selama beberapa waktu. Lalu menyimpulkan sebuah senyum ramah di wajahnya. “Silakan masuk.”

Lihat selengkapnya