Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #39

Potret Setapak Altar

Hari pernikahan Rianti dan Pram akhirnya tiba.

Pagi itu rumah tempat Rianti bersiap terasa lebih ramai daripada biasanya. Ada suara orang-orang yang datang membawa bunga, bunyi pintu yang dibuka dan ditutup, percakapan yang saling bersahutan dari ruangan sebelah, dan sesekali tawa kecil yang muncul di tengah ketegangan. Aku sudah berada di sana sejak pagi, membantu memastikan segala sesuatu yang dibutuhkan Rianti tidak tertinggal.

Aku sendiri tidak tahu apakah aku lebih gugup karena hari itu adalah hari pernikahan sahabatku atau karena aku tahu siapa saja yang akan berada di sana.

Ketika keluar dari salah satu ruangan, aku berpapasan dengan Dharma di lorong. Ia berhenti. Begitupun denganku. Untuk sesaat kami hanya saling memandang. Aku kemudian pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dirapikan dan berjalan melewatinya.

“Ratih,” seru Dharma.

Namun, aku tidak berhenti.

“Ratih,” ulangnya.

Langkahku justru semakin cepat.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kuhindari. Mungkin pertanyaan yang belum siap kujawab selepas percakapan dengan ibunya hari itu. Sejak pertemuan di rumah itu, ada sesuatu yang terus bergerak di kepalaku dan aku takut Dharma akan melihatnya sebelum aku sendiri mampu memahaminya.

Aku kembali ke kamar Rianti. Ia sedang duduk di depan cermin. Rambutnya sudah ditata, riasannya hampir selesai, dan gaun putih yang dikenakannya membuatku kembali teringat pada percakapan kami beberapa minggu lalu di ruang fitting. Aku berdiri di belakangnya dan memperhatikan bayangan kami di cermin.

“Kamu cantik,” kataku.

Rianti tersenyum.

Aku membantunya merapikan sedikit bagian gaun yang terlipat. Setelah semuanya selesai, aku menggenggam tangannya.

“Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Aku harap kamu berbahagia,” ujarku.

Rianti mengangguk.

“Mari aku antar.”

Kami berjalan menuju gereja.

Aku bergegas menuju altar lebih dahulu. Di sana sudah berdiri Pram bersama Dharma dan pastor yang akan memimpin pemberkatan pernikahan mereka. Pram tampak jauh lebih tegang daripada biasanya. Ketika mataku bertemu dengannya, ia tersenyum kecil.

Aku membalas senyuman itu dan mengisyaratkan bahwa dia bisa melalui ini dengan baik. Lantas aku berjalan mendekat dan berhenti di sampingnya. “Istrimu sangat cantik,” bisikku.

Lihat selengkapnya