Sudah hampir tiga bulan sejak pertama kali aku membawa kamera dan mulai mengikuti jejak Ibu ke tempat-tempat yang bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya. Hari itu, aku berdiri di depan ruang rapat kantor Rianti dengan sebuah presentasi yang berisi hampir seluruh perjalanan itu.
Dharma duduk di sampingku. Rianti dan Pram berada di deretan kursi yang sama, sementara beberapa orang dari tim kantor Rianti memperhatikan layar besar di belakangku.
Satu demi satu gambar muncul.
Perempuan-perempuan yang pernah kutemui. Lorong-lorong yang pernah kulewati. Kamar Ibu. Asrama Katolik di Depok. Gereja. Panti jompo. Foto pernikahan yang telah direstorasi. Gaun yang berhasil dicairkan dari pegadaian. Kamera tua yang diberikan seorang biarawan. Bahkan beberapa gambar yang tidak pernah kurencanakan untuk masuk ke pameran.
Semua berawal dari satu pertanyaan sederhana. Bagaimana cara seseorang mampu menggali memori infantilnya?
Aku menyelesaikan presentasi dengan tangan yang terasa dingin. Ruangan hening beberapa detik sebelum salah seorang dari mereka bertepuk tangan. Disusul yang lain.
“Ini kuat sekali, Ratih,” puji Robby. Tanggapannya lebih positif daripada presentasi yang aku lakukan di awal rapat beberapa bulan lalu.
Aku tersenyum. “Masih ada satu hal yang belum selesai,” kataku.
Aku tidak perlu menjelaskan apa. Mereka semua tahu. Suara Ibu.
Waktu yang tersisa kurang dari satu bulan sebelum pameran dibuka. Selama itu pula aku masih bisa mencari. Masih bisa bertanya kepada orang-orang yang mungkin pernah mengenalnya. Barangkali juga berharap seseorang membuka sebuah kotak tua dan menemukan kaset berisi rekaman suara yang selama ini aku cari.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa lelah mengejarnya. Aku menekan tombol pada laptop dan menampilkan halaman terakhir presentasi. “Kalau sampai batas waktu terakhir suara Ibu tetap nggak ditemukan, aku punya alternatif.”
Dharma menoleh kepadaku.
Aku melanjutkan. “Selama ini kita berencana menggunakan rekaman video yang sudah dibuat Dharma sebagai dokumentasi perjalanan pameran. Cerita tentang proses pencarian, orang-orang yang kami temui, tempat-tempat yang kami datangi.” Aku berhenti sebentar. “Tapi aku ingin mengubah konsepnya.”
Beberapa orang mulai memperhatikan lebih serius.
“Aku ingin video itu disunting seolah-olah menjadi tujuh menit terakhir dalam hidupku.”
Pram mengangkat wajahnya. Rianti berhenti memainkan ujung jarinya. Dharma tidak mengatakan apa-apa.
“Katanya,” lanjutku, “ketika seseorang meninggal, ada tujuh menit terakhir ketika ingatan terindah dalam hidupnya diputar kembali sebelum semuanya benar-benar berakhir.” Aku tahu cerita itu tidak lebih dari kepercayaan yang sering beredar tentang kematian. Aku tidak sedang mencoba membuktikan apakah itu benar atau tidak. Aku hanya membutuhkan sebuah cara untuk mengatakan apa arti perjalanan ini bagiku. “Dan kalau aku harus memilih tujuh menit terakhir dalam ingatanku nanti, aku ingin isinya perjalanan ini. Perjalananku mencari suara ibuku.”