Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #41

Potret Pria Paruh Baya

Alamat yang diberikan melalui penyeranta membawa kami ke sebuah rumah yang letaknya agak jauh dari keramaian. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terawat. Halamannya dipenuhi beberapa pot tanaman yang ditata berderet di sepanjang pagar. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan panjangku mencari Ibu.

Aku turun dari mobil bersama Dharma. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri di depan pagar.

“Benarkah alamatnya ini?” tanya Dharma.

Aku mengeluarkan penyeranta dan memastikan sekali lagi. “Benar.”

Dharma menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya muncul. Begitu pintu terbuka, Dharma langsung terkesiap melihat sosok di balik pintu tersebut.

Aku melihat wajahnya berubah. Pria itu pun sama. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Bapak?” Suara Dharma terdengar pelan.

Pria itu menatap anaknya. “Dharma.”

Aku baru menyadari sesuatu yang selama ini hanya menjadi kemungkinan di dalam kepalaku. Orang di balik penyeranta itu adalah ayah Dharma. Benang merah yang masih terasa rumit kian memiliki arti. Segalanya terhubung.

Pria itu mempersilakan kami masuk. Namun baru beberapa langkah, Dharma berhenti.

“Apa ini semua alasan Bapak mengirimkan kumpulan potret karya Ratih padaku beberapa tahun lalu?” Dharma menghela napas cukup panjang, membiarkan kalimatnya menggantung di udara sejenak. “Agar Bapak bisa menemukannya lewat aku?”

“Itu benar, Dharma. Maafkan Ayah.” Nada suara pria itu membuat Dharma terdiam.

Aku melihat keduanya saling berhadapan seperti dua orang yang sebenarnya sudah terlalu lama menyimpan percakapan yang sama. Aku tidak ingin menjadi orang yang memisahkan keduanya, tetapi namaku berada di tengah-tengah percakapan itu.

“Bagaimana Om mengenal Ibu saya?”

Pria itu menatapku. Untuk pertama kalinya, matanya terlihat berubah. “Ajeng …” Ia menarik kursi. “Duduklah.”

Kami duduk berhadapan. Pria itu mengusap wajahnya sebelum akhirnya bercerita. Ibu adalah cinta pertamanya. Sebelum menikah dengan ibu Dharma, ia pernah menjalin hubungan dengan Ibu. Mereka saling mencintai. Namun keluarganya sudah memiliki rencana lain. Ia telah dijodohkan dengan perempuan yang kelak menjadi ibu Dharma.

“Aku bilang kepada Ibumu untuk menunggu,” katanya. “Aku berjanji akan tetap bersamanya setelah semuanya memungkinkan. Namun, Ajeng bukanlah perempuan seperti itu—yang akan menunggu kehancuran sebuah hubungan dan menjadi orang ketiga di dalamnya—karena tentu saja dia menolak.”

Lihat selengkapnya