Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #42

Potret Suara Ibu

Aku tidak langsung membuka kamera itu ketika sampai di kamar.

Entah kenapa, benda kecil yang selama ini kucari justru terasa terlalu berat untuk disentuh. Selama berbulan-bulan, aku mengejar benda ini melalui nama-nama yang bahkan sebelumnya tidak kukenal. Dari dokumen gadai, rekening koran, cerita Paman, hingga seorang pria yang ternyata pernah menjadi bagian dari kehidupan Ibu.

Sekarang kamera itu ada di tanganku. Tidak ada lagi alasan untuk menundanya. Aku meletakkannya di atas meja dan membuka penutupnya perlahan. Di dalamnya masih terdapat beberapa gulungan film yang tersimpan rapi. Ada pula beberapa benda kecil yang mungkin sengaja diselipkan Ibu di dalam tas kameranya.

Aku menarik napas. Kemudian mulai melihat satu per satu. Foto pertama membuatku terdiam. Seorang anak kecil berdiri di depan kamera dengan rambut yang berantakan dan kedua tangan memegang ujung bajunya. Aku mengenal wajah itu. Foto Ratih kecil.

Aku membalik foto berikutnya. Menampilkan diriku sedang duduk di sebuah kursi kecil dan menoleh. Kali ini mungkin Ibu mengambil foto itu dari belakangku. Foto berikutnya membuatku tertawa. Aku sedang tertidur pulas saat foto tersebut diambil. Lalu foto lain ketika aku sedang makan. Kemudian foto ketika aku sedang bermain yang berhasil menjawab pertanyaanku hari itu di ayunan—apakah aku pernah menghabiskan waktu bersenang-senang dengan Ibu dan jawabannya pernah.

Satu demi satu. Aku terus memutarnya. Sampai akhirnya tanganku berhenti. Ada sebuah foto di mana bukan aku yang menjadi objek di dalamnya. Melainkan seorang perempuan muda. Ibu. Barangkali foto itu adalah foto pertama yang aku potret dengan meminjam kamera analog tersebut. Wajahnya terlihat dengan jelas. Matanya tertuju kepadaku dari balik kamera. Ada senyum lebar di bibirnya. Senyum yang selama ini tidak pernah berhasil aku ingat.

Aku menutup mulut. Air mataku terjatuh begitu saja. Ternyata selama ini aku tidak kehilangan seluruh ingatanku tentang Ibu. Semua yang orang-orang ceritakan kepadaku selama perjalanan menelusuri jejak Ibu itu tiba-tiba seolah menemukan tempatnya masing-masing.

Kepingan-kepingan dari sosok Ibu dari cerita orang-orang yang pernah menjadi saksi hidupnya. Ibu yang mengunjungi asrama kemudian menangis ketika melihat anak-anak lelaki bermain karena mengingatkannya pada anak laki-laki yang hampir dia miliki sebelum aku lahir di dunia. Ibu yang pernah menjadi cinta pertama dari seorang lelaki yang bahkan hingga saat ini masih menyimpan cinta kepadanya. Ibu yang memilih kasih daripada kepahitan di dalam hidupnya. Kemudian Ibu yang menyimpan seluruh kenangan tentangku dalam kumpulan potret yang dirinya ambil.

Lihat selengkapnya