Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #43

Potret Titik Nol

Hari itu kami berempat kembali ke rumah lamaku, tempat Paman tinggal. Sebagaimana percakapan dengan Rianti untuk menggunakan rumah ini menjadi tempat pameran yang akhirnya disepakati oleh agensinya dan Matera.

Rumah yang beberapa bulan terakhir hanya aku kenali sebagai tempat yang menyimpan terlalu banyak hal tentang Ibu. Tempat aku pertama kali membuka dokumen-dokumen gadai, menemukan benda-benda yang pernah disentuh tangannya, dan mulai bertanya-tanya tentang perempuan yang selama ini hanya hidup sebagai serpihan ingatan di kepalaku.

Sekarang rumah itu akan menjadi tempat pameran. Tempat semua perjalanan ini bermula. Entah mengapa melihatnya kembali dalam keadaan seperti ini membuatku merasa seolah-olah aku sedang kembali ke awal, hanya dengan membawa lebih banyak jawaban daripada ketika pertama kali datang. Dinding-dinding yang dulu terasa kosong kini dipenuhi bingkai.

Ruang tengah menjadi section tentang kelahiran. Foto-foto yang memperlihatkan tubuh manusia sebelum mengenal dunia. Potret bayi yang baru lahir. Potongan cerita tentang mereka yang pernah kehilangan dan mereka yang sedang menunggu kelahiran.

Di antara foto-foto itu, beberapa hasil jepretan Ibu tergantung berdampingan dengan karya-karyaku.

“Yang ini jangan terlalu rapat,” kataku kepada Dharma sambil menunjuk dua bingkai di dinding.

Dharma menggeser salah satunya beberapa sentimeter. “Begini?”

“Sedikit lagi.”

Ia menggesernya. “Sekarang?”

Aku mengangguk. “Agar terdapat ruang kosong di antara foto.”

Dharma menatapku. “Mengapa demikian?”

“Barangkali orang yang melihatnya butuh waktu untuk berhenti sejenak.”

Kami berjalan menuju ruangan berikutnya. Section tentang episodik memori di mana memuat perjalanan manusia mengenali dirinya berada di kamar yang dulu pernah menjadi bagian dari masa kecilku. Ada foto anak-anak, keluarga, orang-orang yang memilih pergi, dan mereka yang memilih tinggal.

Aku sempat berdiri cukup lama di ambang pintu. Dulu, aku tidak pernah membayangkan kamar-kamar di rumah ini akan dipenuhi wajah orang lain. Sekarang justru wajah-wajah itu yang membuat rumah ini terasa hidup kembali.

“Sudah?” tanya Rianti.

Aku melihat denah yang ada di tanganku. “Sudah.” Aku mengangguk lalu mataku melihat sekeliling rumah. Rasanya aneh. Berbulan-bulan kami mengerjakan sesuatu yang begitu besar, lalu tiba-tiba seluruhnya hanya tinggal menunggu hari pembukaan. Di rumah tempat semuanya bermula. Pada tempat di mana sebelumnya aku rasa hanya menyimpan kematian Ibu, tetapi ternyata menyimpan jauh lebih banyak kehidupan darinya.

Rianti tersenyum ke arahku. “Cantik.”

Aku membalas senyum Rianti menandakan bahwa aku turut sepakat dengan perkataannya. 

Dharma berjalan mendekat ketika Rianti dan Pram sedang berbicara dengan pihak vendor. “Ratih,” panggilnya.

Lihat selengkapnya