Lampu-lampu sorot bersuhu hangat berpendar lembut di atas deretan dinding ruangan yang sengaja dicat kelabu netral, tentunya setelah mendapat izin dari Paman selaku pemilik tempat. Aroma cat yang mengering, porselen dingin, dan wangi bunga lily yang sempat ditinggalkan Rianti di sudut ruangan menyatu, menciptakan atmosfer yang hening sekaligus pekat oleh ingatan.
Setelah menunda selama lebih dari satu pekan karena kematian Rianti. Hari pameran solo perdanaku akhirnya tiba.
Aku berdiri di panggung kecil di tengah aula utama, memegang mikrofon dengan jemari yang dingin. Di hadapanku, belasan pasang mata menatap lamat-lamat. Di antara kerumunan itu, pandanganku beradu dengan orang-orang yang wajahnya mewarnai ruang-ruang dalam bidikan kameraku beberapa bulan terakhir. Sarah yang kini menggendong bayinya, Bu Rini dari panti asuhan, Febri dan ibunya yang datang berhias senyum tanpa kostum badut, hingga Siska dan Bibi Malika.
Aku menarik napas panjang, menetralkan desir dada sebelum mengangkat mikrofon mendekati bibir. "Selamat datang," suaraku bergema halus lewat pengeras suara. "Terima kasih telah bersedia melangkah ke dalam ruangan yang jujur saja pernah menjadi tempat yang teramat ingin aku tinggalkan."
Aku memberi jeda sejenak, memandang jemariku sendiri.
"Bagi sebagian besar manusia, termasuk aku, duka adalah sesuatu yang dihindari. Namun dalam proses melahirkan pameran ini, aku teringat pada dongeng tentang seekor domba. Domba yang kerap dianggap bernasib malang karena membawa duka yang teramat berat menindih kepalanya. Seekor anak domba musim dingin yang tidak diinginkan oleh induk maupun kawanannya. Namun, jika domba itu terus berjalan menembus dinginnya musim, membawa tanda itu di atas dahinya, kita lambat laun menyadari satu hal. Domba itu membawa duka tersebut bukan karena dia dikutuk, melainkan karena dia pernah diberikan kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan begitu besarnya. Hingga akhirnya aku belajar bahwa barangkali, duka tidak pernah benar-benar diciptakan untuk menghancurkan kita. Barangkali duka hanyalah buah tangan yang tersisa dari cinta."
Ujung bibirku terangkat tipis, menghimpun seluruh keberanian yang tersisa di dalam rahim ingatanku. "Maka dari itu duka adalah bagian dari ingatan, bahwa setidaknya dalam hidup ini kita pernah mencintai dan dicintai. Selayaknya kasih ibu yang tidak pernah meninggalkan anaknya. Dan selamat datang di Pameran Mitokondria, tempat di mana langkah kita selalu beriringan dengan kehadiran Ibu, hadir atau tidak hadirnya di sini."
Tepuk tangan terdengar bergemuruh, namun mataku sibuk menangkap pendar kehangatan dari orang-orang yang saling bertukar kontak mata denganku. Rianti mengangguk bangga dengan mata berkaca-kaca. Pram tersenyum tipis di barisan belakang. Dharma menatapku dengan sorot tenang dari balik kameranya. Paman berdiri dengan dada terbusung halus, mengusap sudut matanya.
Para hadirin mulai menyebar, membiarkan diri mereka ditarik masuk oleh alur eksplorasi empat section pameran yang telah kurancang.
Pengunjung pertama kali melangkah masuk ke dalam lorong temaram bermandikan pendar cahaya kebiruan yang redup, menyerupai rahim hangat. Menapaki bagian pertama pameran, Prenatal Memory.
Di dinding lorong ini, terpampang jajaran cetakan foto monokrom berukuran besar yang diambil dari birth center dan rumah sakit. Foto-foto pencitraan USG empat dimensi menampilkan siluet janin yang merengkuh dirinya sendiri di dalam perut sang ibu. Janin itu tidak lain adalah anak di dalam kandungan Rianti.
Namun yang paling menyita perhatian adalah suara yang menggema pelan dari penyuara telinga tersembunyi. Bukan musik, melainkan rekaman audio berfrekuensi rendah—suara detak jantung Rianti saat ia mengandung bayinya.
Thump-thump, thump-thump. Ritme itu bergaung konstan dan intim, bertaut dengan desir napas sang ibu.
Di lorong ini, para pengunjung terdiam, menyadari bahwa jauh sebelum kita memiliki nama dan bahasa, kita pernah menetap di sebuah tempat yang beralaskan detak jantung seorang wanita.