Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #45

Epilog

Penyuara telinga yang tertempel di kedua lubang telingaku bergeser sedikit sewaktu napasku tertahan. Di dalam ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh yang dipenuhi ratusan laci baja ini, hanya ada suara khas serak-serak basah itu—suara yang selama belasan tahun mengabur dalam bentuk prasangka dan luka.

"Namanya Ratih Sanggabuana ..."

Suara Ibu. Rekaman wawancara belasan tahun lalu bersama penulis berita yang sempat tergelincir dari genggamanku di hari pameran.

Di dalam rekaman berdesis lembut itu, terdengar suara sang reporter melontarkan sebuah pertanyaan yang gaungnya menembus selang belasan tahun: "Sebagai seseorang yang pekerjaannya beririsan dengan orang meninggal. Lantas, jika suatu hari nanti waktu Anda di dunia ini habis, apa yang ingin Anda sampaikan kepada anak Anda?"

Hening sejenak di dalam pita kaset tersebut, sebelum desah napas Ibu terdengar mengudara.

"Orang-orang sering menanyakan padaku, mengapa proses melahirkan dan membesarkan anak itu begitu penuh dengan air mata dan pengorbanan," suara Ibu terdengar pelan, namun bergetar halus di bilik pendengaranku. "Tapi mereka tidak pernah tahu ... momen-momen saat aku mengusap keningnya yang demam, membelai rambut panjangnya dengan minyak kemiri, atau mendengarnya tertawa sewaktu membumbung tinggi di atas ayunan ... itulah momen-momen yang akan mengisi keseluruhan dari tujuh menit kenangan terindah yang akan diputar dalam ingatanku sebelum mataku terpejam untuk selamanya."

Aku terisak di lantai kantor pos yang dingin, merengkuh kedua lututku sendiri. Ada jeda dalam rekaman, seolah Ibu sedang mengusap sudut matanya. "Ratih, anak domba musim dinginku ... jika suatu hari nanti Ibu tidak lagi bersamamu di dunia yang fana ini, ketahuilah bahwa Ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ibu hanya sedang menunggumu di tempat di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi musim dingin yang menusuk. Hiduplah dengan baik, Sayang. Buatlah kawananmu sendiri, rasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, dan hiduplah lebih lama untuk orang-orang yang kamu sayangi."

Klik! Rekaman itu berhenti.

Lihat selengkapnya