Jakarta, Juli 2022
Ada hari-hari ketika angka bisa terdengar lebih kejam daripada omongan manusia.
38.721.
Angka itu diam di sudut layar laptop Jenaning sejak tiga jam lalu. Tidak bertambah, tidak bergerak, seperti sesuatu yang diam-diam sudah menyerah lebih dulu sebelum ia sempat berharap.
Di luar jendela apartemen, Jakarta masih menyala seperti biasa. Klakson bersahut dari jalan layang. Lampu gedung berkedip seperti mata yang terlalu lelah untuk benar-benar terjaga. Hujan tipis turun tanpa niat mendinginkan apa pun.
Di dalam kamar itu, waktu seperti mengendap.
Jemari Jenaning masih berada di atas papan tombol laptop, meski tak lagi tahu apa yang sedang ditunggu.
Refresh.
Tetap sama.
38.721.
Ia tertawa kecil.
Suara yang terdengar lebih mirip napas patah daripada tawa.
“Ini orang-orang nggak bisa beli kuota atau nemu wifi gitu?” gumamnya lirih. “Kenapa mentoknya cuma segini?”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dadanya terasa seperti baru saja mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari.
“Perasaan kontennya udah bagus. Kayaknya selera mereka aja yang jelek.”
Ia menutup dasbor YouTube terlalu cepat, seolah takut angka itu sempat menatap balik ke dirinya. Lalu terbukalah berkas lain yang belum selesai sejak berbulan-bulan lalu:
“Eksplorasi Rasa: Fusion Food Jawa–Jepang sebagai Wajah Baru Kuliner Urban.”
Bahkan judulnya saja terdengar lelah.
Kursor berkedip di ujung paragraf terakhir seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah kosong.
Menunggu.
Tidak sabar.
Namun juga tidak benar-benar berharap ada yang menjawab.
Di meja kerjanya, kopi americano pun sudah kehilangan aroma. Bekas lipstik tipis di bibir gelas tampak seperti sisa seseorang yang sempat singgah lalu lupa kembali. Dua kotak makanan delivery menumpuk di samping laptop, masih menyisakan bau minyak dingin dan saus instan yang mengendap di udara sempit apartemen studio itu.
Tak jauh dari sana, dapur kecil berdiri terlalu bersih untuk disebut dapur. Kompor induksi mengilap tanpa noda. Wajan tergantung tanpa bekas api.
Tak ada suara ulekan.
Tak ada bau bawang.
Tak ada kehidupan.
Jenaning menatapnya cukup lama.
Lalu entah kenapa, dadanya terasa sesak.
Padahal dulu, ia pernah percaya hidupnya akan berakhir di dapur. Bukan dapur mahal dengan pencahayaan estetik dan kamera mahal seperti sekarang, tapi dapur yang hangat. Dapur yang berisik. Dapur yang membuat orang betah tinggal lebih lama meski makanan sudah habis.
Ia membuka kulkas. Lampu putih menyala dingin. Dua butir telur. Saus botolan. Air mineral. Tidak ada yang benar-benar bisa dimasak. Sama seperti dirinya belakangan ini.
Pintu kulkas ditutup pelan. Tangannya meraih ponsel hampir otomatis.
Scroll.
Video demi video lewat seperti etalase hidup orang lain yang terlalu terang.
Thumbnail penuh warna.
Judul bombastis.
Tawa yang terdengar keras dan mudah.
Sampai ia berhenti pada satu video. Seorang kreator baru. Masih muda. Dapur seadanya. Tidak banyak penyuntingan. Tidak ada plating mewah. Hanya sepiring nasi hangat, telur dadar setengah gosong, dan suara ibunya yang sesekali terdengar dari belakang kamera.
Penontonnya: 1,2 juta.
Jenaning mendecih kecil.
“Wah… masak beginian doang,” bisiknya.
Namun ia tidak menggeser video itu. Ia menonton sampai habis. Lalu diam cukup lama setelahnya. Ada sesuatu yang terasa asing di dadanya. Bukan iri. Atau mungkin iri, tapi bukan pada jumlah penontonnya.
Melainkan pada sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.
Sesuatu yang tampak hidup di video itu, dan entah sejak kapan hilang dari dirinya sendiri.
Ia meletakkan ponsel perlahan.
Tangannya meraih sendok kayu kecil di samping laptop. Sendok itu sudah bersamanya bertahun-tahun. Kayunya mulai kusam di bagian gagang. Ada bekas retak kecil dekat ujungnya. Tidak mahal. Tidak cantik. Bahkan mungkin sudah tidak layak dipakai. Namun, benda itu selalu ikut pindah ke mana pun ia pergi.
Kadang hanya disentuh.
Kadang diputar-putar di sela jari.
Kadang, di malam-malam tertentu, ia dekatkan ke hidungnya sendiri seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat aroma masa kecil sebelum lupa sepenuhnya.
Hari itu, ia hanya menggenggamnya lama.
Lalu berkata pelan, nyaris seperti pengakuan pada dirinya sendiri:
“Dulu aku ngerasa baik-baik aja dengan semua ini. I’m fine. I’m okay. Tapi, kenapa sekarang kayak… kosong?”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamar itu terasa benar-benar sunyi.
***
Notifikasi itu muncul tanpa bunyi. Hanya kilatan kecil di sudut layer, seperti seseorang mengetuk pintu rumah kosong yang sudah lama tidak dihuni rasa.
“Jen, artikel belum masuk. Jangan telat lagi ya. Client nunggu.”
Jempol Jenaning menggantung di atas layar ponsel. Tidak bergerak. Tidak membalas. Kata-kata itu lewat begitu saja di matanya, seperti iklan jalanan yang terlalu sering muncul sampai kehilangan makna.
Beberapa detik kemudian, layar kembali menyala.
Nomor tak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya, sebelum matanya menangkap deretan kata berbahasa Jawa yang terasa asing sekaligus akrab di tubuhnya sendiri.
“Nduk, punika Pak Dukuh. Mbah Sriyati sampun seda. Pun dinten kaping tiga. Mugi saged wangsul.”
Waktu seperti tersangkut.
Bukan berhenti, hanya mendadak kehilangan arah.
Jari Jenaning mengeras di sisi ponsel. Napasnya tertahan tanpa sadar. Di luar apartemen, Jakarta tetap bergerak dengan kesibukan yang nyaris kasar: suara klakson bersahut-sahutan, deru motor memecah malam, lampu-lampu kendaraan mengalir seperti urat panas yang tak pernah tidur. Namun, di dalam ruangan sempit itu, semuanya mendadak terasa terlalu jauh.
“Mbah Sriyati sampun seda.”
Kalimat itu sederhana. Tidak puitis. Tidak dramatis.
Justru karena itulah ia terasa begitu telak.
Jenaning membaca ulang pesan itu perlahan. Sekali. Dua kali. Seolah huruf-hurufnya mungkin berubah kalau ditatap cukup lama.
Tapi tidak.
“Mbah Sriyati sampun seda.”
Ia menurunkan ponsel pelan-pelan.
“Mbah…”
Suaranya pecah di tengah kata sendiri, nyaris seperti milik orang lain.
Ia berdiri dari kursi. Lalu duduk lagi. Tangannya meraih gelas kopi di meja, tetapi tidak jadi diminum. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan. Bukan ledakan kesedihan, bukan pula tangis yang tiba-tiba runtuh.
Lebih seperti pintu lama yang berderit terbuka setelah bertahun-tahun terkunci.
Dan dari celah pintu itu, kenangan mulai merembes keluar.
Sebuah pawon dengan dinding kayu menghitam oleh asap. Suara kayu terbakar. Wangi santan panas. Lalu tangan keriput yang memeluk tangannya dari belakang, membimbing jemarinya menggenggam irus kayu.
“Masak kuwi nganggo ati, Nduk…”