Ada jenis pagi yang tidak benar-benar membangunkan manusia. Hanya menarik pelan kesadarannya keluar dari gelap, seperti tangan tua yang tahu cara menyentuh tanpa mengagetkan.
Kabut pagi di Wonokuncar masih bergantung rendah di atas rumpun bambu dan kebun singkong belakang rumah. Embun menempel di ujung daun pisang, gemetar kecil setiap kali disentuh angin. Dari kejauhan, suara burung emprit terdengar bersahut-sahutan di sela pohon jati, tipis dan ringan seperti bisik yang baru lahir dari tidur panjang.
Namun, yang pertama kali benar-benar menyentuh Jenaning bukan udara dingin. Melainkan aroma kayu bakar.
Aroma yang pelan-pelan merembes masuk ke kamar, menyelinap lewat celah pintu dan dinding kayu tua, lalu menetap di dadanya seperti sesuatu yang sudah terlalu lama tidak ia jumpai.
Ia membuka mata.
Langit-langit kamar tampak pucat oleh cahaya subuh yang belum sempurna. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam, mendengarkan rumah itu bernapas.
Tok… tok…
Suara bambu di luar yang saling beradu tertiup angin.
Krek…
Kayu tua yang mengembang pelan karena udara pagi.
Dan jauh dari arah belakang rumah, suara api yang menyala kecil-kecil di dalam pawon.
Jenaning mengusap wajahnya perlahan.
Tidurnya semalam tidak benar-benar lelap. Terlalu banyak kenangan bergerak diam-diam di kepalanya, seperti orang-orang lama yang masuk tanpa mengetuk. Lantas ia duduk di tepi kasur. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin.
Ada sesuatu yang terasa aneh pagi itu: tubuhnya masih lelah, tetapi batinnya seperti ditarik ke suatu tempat yang sudah mengenalnya lebih dulu sebelum ia sempat berpikir.
Bukan panggilan.
Bukan suara.
Lebih seperti kebiasaan lama yang ternyata tidak pernah benar-benar mati.
Ia bangkit perlahan, mengenakan daster pinjaman milik Sari yang kebesaran di bahunya, lalu membuka pintu kamar.
Lantai rumah berderit lirih saat diinjak, seolah setiap papan kayu di rumah itu masih mengingat berat langkahnya semasa kecil.
Ruang tengah tampak lengang.
Cahaya pagi masuk tipis-tipis dari jendela, jatuh di atas meja kayu dan kursi rotan yang mulai kusam dimakan usia. Di dinding, jam tua masih berdetak lambat, seperti tidak pernah tergesa mengikuti dunia luar.
Sari tidak ada di sana.
Namun dari arah belakang rumah, suara itu terdengar lagi.
Bukan suara orang bercakap. Bukan radio. Bukan televisi. Melainkan suara api yang sedang bekerja.
Jenaning berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Lalu, tanpa sadar, kakinya melangkah menuju pawon. Dan semakin dekat ia ke sana, semakin jelas aroma yang menyambutnya: bawang merah yang digoreng pelan, santan hangat, daun salam yang diremas, dan asap kayu nangka yang membubung tipis ke udara pagi.
Dadanya mengencang samar.
Karena tiba-tiba ia sadar, beberapa tempat tidak menyimpan kenangan dalam bentuk gambar. Melainkan dalam bau.
Dan pawon itu masih mengingatnya dengan sempurna.
***
Langkah Jenaning tertahan bahkan sebelum ia benar-benar tiba di pawon.
Di belakang rumah utama, bangunan itu berdiri seperti ingatan yang menolak roboh. Atapnya rendah, sebagian gentingnya mulai menghitam dimakan hujan dan asap tahun-tahun panjang. Dindingnya tidak sepenuhnya kayu, tidak juga sepenuhnya bata, seolah rumah kecil itu dibangun dari apa saja yang dulu sempat diselamatkan.
Di bagian depan, tergantung papan kayu sederhana yang cat putihnya mulai pecah-pecah.
Pawon Sriyati
Tulisan itu miring sedikit ke kiri. Tidak simetris. Tidak dibuat untuk menarik mata orang lewat. Seperti ditulis oleh tangan yang lebih peduli pada ketulusan daripada bentuk.
Jenaning menatapnya lama.
Dulu papan itu belum ada.
Yang ada hanya tungku kecil di emper belakang, satu dandang besar, dan perempuan tua yang memasak tanpa pernah menghitung siapa yang datang dan siapa yang pergi. Orang-orang mula-mula singgah karena lapar sehabis dari sawah. Lalu datang lagi karena ada sesuatu dalam masakan itu yang membuat dada terasa lebih tenang.
Mbah Sriyati tak pernah benar-benar membuka warung. Ia hanya membuka pintu.
“Yen ana wong luwe, yo diwenehi mangan.”
Kalau ada orang lapar, ya diberi makan.
Sesederhana itu.
Dan justru karena kesederhanaan itulah, orang-orang percaya. Dari satu piring menjadi lima. Dari satu tungku menjadi dua. Dari dapur yang awalnya hanya muat tiga orang, perlahan tumbuh tempat yang selalu punya ruang bagi siapa saja yang ingin duduk dan menghela napas sebentar dari hidupnya.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada promosi.
Tidak ada nama menu yang dibuat berlebihan.
Hanya rasa yang dijaga terlalu lama, sampai akhirnya orang-orang datang bukan lagi untuk makan, melainkan untuk pulang barang sebentar.
Jenaning menelan ludah perlahan.
“Aku bahkan nggak tahu kapan tempat ini bisa jadi sebesar ini...” gumamnya lirih.
Namun, kalimat itu terasa lebih mirip pengakuan daripada kekaguman. Karena yang sebenarnya sedang ia sadari bukan perubahan pawon itu.
Melainkan jarak dirinya sendiri.
***
Ia melangkah mendekat.
Pintu pawon terbuka separuh. Dari celahnya, cahaya api bergerak di dinding seperti napas yang hidup.
Dan di sanalah Banyu.
Laki-laki itu berdiri membelakangi pintu, lengan kausnya tergulung hingga siku. Bahunya tampak lebih lebar daripada yang Jenaning ingat, tetapi gerakannya tetap sama: tenang, hemat tenaga, seolah tubuhnya telah menyatu dengan irama pawon.
Wajan besar di atas tungku mengeluarkan bunyi mendesis pelan. Aroma bawang merah yang ditumis bersama lengkuas memenuhi udara, bercampur asap kayu nangka yang hangat dan sedikit pahit.
Banyu mengaduk tanpa tergesa. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Seperti seseorang yang tahu bahwa rasa buruk sering lahir dari tangan yang terlalu buru-buru.
Jenaning berhenti di ambang pintu.
Entah kenapa, dadanya mendadak sesak oleh sesuatu yang tak ia mengerti. Pawon itu terlalu akrab untuk terasa asing, tetapi juga terlalu jauh untuk benar-benar bisa ia sentuh kembali.
Ada bagian dari dirinya yang seperti tertinggal di ruangan itu bertahun-tahun lalu. Dan sekarang sedang memandanginya diam-diam.
“Kamu kalau berdiri di situ terus,” ujar Banyu tiba-tiba, masih tanpa menoleh, “liwetnya nggak bakal matang lebih cepat.”
Jenaning terkesiap kecil.
“Aku nggak ngintip,” balasnya spontan.
Banyu tertawa pelan. Pendek.