Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #3

SERAT RASA DAN BAYANGAN LELUHUR

Ada jenis sunyi yang tidak terasa kosong. Ia justru terlalu penuh oleh hal-hal yang tak tampak, tapi diam-diam hadir dan duduk di sekeliling kita.

Malam itu, rumah joglo peninggalan Mbah Sriyati juga dipenuhi sunyi. Bukan sunyi kota setelah listrik padam. Bukan pula sunyi dini hari yang sebentar lagi pecah oleh kendaraan dan orang-orang yang berangkat bekerja. Sunyi di Wonokuncar lebih tua daripada itu. Ia hidup dari tanah yang lembap, dari kayu-kayu yang menyimpan usia, dari napas pohon bambu yang bergesekan pelan di belakang rumah.

Malam di desa tidak benar-benar gelap. Ia hanya tidak suka menunjukkan semuanya sekaligus. Lampu sentir di ruang tengah menyala kecil, menggantung rendah dengan cahaya kekuningan yang gemetar halus diterpa angin. Bayang-bayang perabot kayu jatuh panjang di lantai, membuat rumah itu tampak lebih luas sekaligus lebih sepi.

Dari kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan.

Lalu diam.

Lalu mulai lagi.

Seperti seseorang yang sedang mencoba menjaga dunia tetap terjaga.

Jenaning duduk sendiri di ruang tengah, memeluk lutut dengan selimut tipis yang tidak benar-benar mengusir dingin. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi. Aroma sabun bercampur samar dengan bau kayu tua dan asap pawon yang seperti telah meresap ke seluruh rumah.

Sari sudah masuk kamar sejak satu jam lalu.

Banyu pun pulang setelah membantu membereskan warung. Seperti biasanya, laki-laki itu pergi tanpa banyak suara. Bahkan langkah kakinya seperti sudah hafal cara meninggalkan rumah tanpa mengganggu apa pun yang tinggal di dalamnya.

Kini yang tersisa hanya rumah tua itu.

Dan sesuatu yang sejak tadi terus bergerak pelan di dalam dada Jenaning. Sesuatu yang belum bisa ia pahami, tetapi juga tak lagi bisa ia abaikan.

Ia menatap sekeliling.

Segalanya terasa begitu akrab sampai terasa asing.

Lemari kayu di sudut ruangan masih sama. Jam dinding tua masih berdetak lambat seperti orang tua yang menolak tergesa. Bahkan taplak meja bunga cokelat itu pun belum diganti.

Waktu rupanya tidak benar-benar berjalan di rumah ini. Ia hanya mengendap. Lalu menunggu.

Jenaning menarik napas panjang.

Di Jakarta, malam biasanya dipenuhi suara: notifikasi, mesin pendingin udara, televisi tetangga, kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur. Ada begitu banyak bunyi sampai seseorang tidak sempat mendengar isi kepalanya sendiri.

Namun di sini, kesunyian justru bekerja seperti cermin. Ia memantulkan apa saja yang selama ini berusaha dihindari. Mungkin saja rasa bersalah, kehilangan, atau rindu yang datang terlambat.

Pandangan Jenaning jatuh pada lorong kecil menuju pawon.

Gelap.

Tapi tidak terasa kosong.

Ada bagian dari dirinya yang hampir berharap Mbah Sriyati tiba-tiba muncul dari sana, membawa nampan teh panas atau mengomel karena ia belum tidur.

Wong wedok kok turune bengi terus...

Jenaning tersenyum kecil.

Lalu senyumnya hilang begitu saja. Karena untuk pertama kalinya sejak pulang, ia benar-benar sadar: tidak akan ada lagi suara itu.

Kesadaran itu datang pelan, tetapi jauh lebih menyakitkan daripada kabar kematian yang ia baca lewat layar ponsel beberapa hari lalu.

Ia menunduk.

Tangannya meraih sendok kayu kecil yang sedari tadi ada di sampingnya. Sendok yang ia bawa dari Jakarta, sendok yang bahkan tak pernah benar-benar ia pakai. Kayunya sudah mulai kusam di bagian gagang. Bekas diputar-putar oleh jari saat cemas. Bekas dibawa berpindah kota tanpa alasan yang jelas.

Jenaning mengusap permukaannya perlahan. Dan entah kenapa, malam itu rumah tua itu terasa seperti sedang mengawasinya diam-diam.

Bukan dengan ancaman.

Melainkan dengan kesabaran panjang yang hanya dimiliki sesuatu yang telah menunggu terlalu lama.

 

***

 

Peti kayu itu masih berada di sudut yang sama.

Tidak pernah benar-benar disembunyikan, tetapi juga tidak diletakkan di tempat yang mengundang orang untuk membuka. Ia diam di dekat dinding, sedikit jauh dari pusat ruangan, seperti seseorang sekarat yang memilih duduk di pinggir percakapan karena tahu waktunya tak lagi banyak.

Jenaning memandanginya cukup lama sebelum bergerak. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak ragu. Bukan takut menemukan apa-apa. Justru takut menemukan terlalu banyak.

Langkahnya pelan di atas lantai kayu yang mulai renggang dimakan usia. Setiap pijakan memunculkan bunyi lirih. Bunyi rumah tua yang masih mengingat siapa saja yang pernah tumbuh di dalamnya.

Ia berjongkok di depan peti itu.

Permukaan kayunya tidak lagi halus. Serat-serat tua mulai terangkat, kasar di telapak tangan. Di bagian tutup, ukiran bunga kecil masih tampak samar meski sebagian sisinya telah aus oleh waktu.

Melati. Atau mungkin dulu melati.

Kini bentuknya nyaris larut bersama warna kayu yang menggelap.

Jari Jenaning mengikuti lekuk ukiran itu perlahan. Dan seperti aroma yang tiba-tiba muncul dari pakaian lama, ingatan itu datang tanpa dipanggil.

Mbah Sriyati.

Duduk bersila di depan peti yang sama. Lampu sentir kecil di sampingnya. Suara malam. Dan jemari renta yang membuka lembar demi lembar kertas dengan hati-hati, seolah benda-benda itu bernapas dan bisa terluka bila disentuh terlalu keras.

Kadang Mbah menyalin ulang tulisan-tulisan tua sampai larut. Kadang hanya membaca diam-diam. Kadang memejamkan mata cukup lama setelahnya, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain.

Dulu Jenaning mengira itu hanya kebiasaan perempuan tua yang terlalu lama hidup bersama kenangan.

Kini ia tidak terlalu yakin.

“Mbah selalu buka ini malam-malam...” gumamnya pelan.

Kalimat itu jatuh begitu saja ke udara.

Tidak terdengar seperti cerita. Lebih mirip sesuatu yang akhirnya berhasil kembali ke permukaan setelah lama tenggelam.

Tangannya berpindah ke anak kunci kecil yang menggantung di sisi peti. Logamnya dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin benda yang terlalu lama tak disentuh tangan lain.

Jenaning menarik napas perlahan.

Lalu memutarnya.

Klik.

Suara kecil itu memecah kesunyian rumah seperti batu jatuh ke sumur tua.

Dan anehnya, dada Jenaning ikut bergetar.

 

***

 

Tutup peti terbuka pelan, mengeluarkan aroma yang membuat waktu seperti bergerak mundur beberapa puluh tahun sekaligus.

Bukan bau lembap. Bukan pula harum yang menyenangkan. Melainkan campuran kayu tua, kain yang lama disimpan, kertas yang menua perlahan, dan sesuatu yang lebih samar dari semuanya.

Sesuatu yang terasa seperti ingatan manusia.

Aroma yang tidak masuk ke hidung. Melainkan langsung ke dada.

Isi peti itu tertata rapi. Terlalu rapi untuk ukuran barang-barang lama.

Kain batik dilipat hati-hati dalam tumpukan kecil. Buku catatan bersampul cokelat diikat tali kain agar tidak tercerai. Di sudutnya ada kotak kayu kecil berisi rempah-rempah kering yang aromanya masih samar tercium.

Mbah rupanya menyimpan benda-benda ini seperti orang menjaga doa.

Lalu pandangan Jenaning berhenti pada satu naskah. Tidak paling besar. Tidak pula paling indah.

Sampulnya hanya kain lurik sederhana dengan tali rami yang mulai kusut di bagian simpul. Namun, justru karena kesederhanaannya itulah, benda itu terasa berbeda. Seperti sesuatu yang sengaja tidak ingin menarik perhatian. Agar hanya ditemukan oleh orang yang memang mencarinya.

Entah kenapa, ujung jari Jenaning mendadak dingin saat menyentuhnya.

Serat Rasa...” bisiknya hampir tak terdengar.

Nama itu terasa aneh di lidahnya.

Tua.

Pelan.

Tetapi seperti memiliki napas sendiri.

Ia membuka tali pengikatnya dengan hati-hati. Tidak ada alasan logis untuk bergerak selembut itu. Namun tubuhnya seperti tahu: beberapa hal tidak boleh dibuka dengan tergesa.

Halaman pertama terbentang.

Lihat selengkapnya