Asap tipis sudah lebih dulu bangun sebelum matahari benar-benar menampakkan diri. Asap itu keluar dari pawon pelan-pelan, menyusup ke sela udara pagi yang masih basah oleh embun dan sisa dingin malam. Bau kayu terbakar bercampur santan mentah mengendap di halaman belakang rumah, menghadirkan aroma yang anehnya terasa lebih tua daripada pagi itu sendiri.
Di dalam Pawon Sriyati, suara beras dicuci terdengar lirih.
Kresek.
Byur.
Kresek lagi.
Suara kecil yang nyaris tak berarti, tetapi di ruang sesunyi itu, semuanya terdengar lebih jelas dari seharusnya.
Jenaning berdiri di depan meja kayu dengan rambut yang masih setengah terikat. Lengan dasternya digulung asal sampai siku. Di sampingnya, Serat Rasa terbuka dalam keadaan telentang, beberapa halamannya sedikit bergelombang terkena uap air.
Ia sudah membaca bagian yang sama entah berapa kali. Namun tiap kali selesai membaca, kalimat-kalimat di dalamnya justru terasa makin jauh dari logika yang ia kenal.
“Air secukupnya sampai beras tidak merasa sendiri.”
Jenaning mendesah pelan.
“Beras nggak merasa sendiri… gimana sih maksudnya?” gumamnya sambil menatap isi tampah di depannya. “Emang dia habis ditinggal siapa? Ini yang nulis setengah waras atau aku yang udah mulai nggak waras?”
Ia terkekeh kecil setelah mengucapkannya, tetapi tawanya cepat hilang sendiri.
Anehnya, semakin ia mencoba menjadikan kalimat itu lelucon, semakin ia merasa sedang ditertawakan balik.
Ia menuangkan air dari kendi tanah liat ke atas beras. Jemarinya mulai membilas perlahan, tetapi gerakannya masih canggung, lebih seperti orang yang berusaha mengingat tarian lama hanya dari potongan mimpi.
Tidak ada irama.
Tidak ada kedekatan.
Hanya gerakan yang dilakukan karena merasa harus.
Di ambang pintu, seseorang diam-diam memperhatikannya sejak tadi.
Sari Wening.
Perempuan itu bersandar ringan pada kusen pawon sambil membawa bakul anyaman kecil berisi daun salam, serai, dan garam kasar yang dibungkus secarik kertas cokelat. Rambutnya digelung sederhana. Wajahnya masih tampak mengantuk, tetapi matanya sudah sepenuhnya bangun.
Ia tidak langsung bicara.
Hanya memerhatikan cara tangan Jenaning bergerak terlalu cepat, terlalu hati-hati sekaligus. Seperti orang yang takut salah, tetapi juga takut terlihat belum bisa.
“Kowe ngukur nganggo opo?” tanyanya akhirnya.
Jenaning sedikit menoleh.
“Feeling,” jawabnya cepat. “Mmm… maksudku, perasaan. Katanya begitu, ‘kan?” Nada suaranya ringan, tetapi ada sesuatu yang terdengar defensif di sana.
Sari masuk tanpa suara. Langkahnya pelan di atas lantai pawon yang mulai hangat oleh nyala tungku.
“Walaupun gak tinggal di Jakarta, aku juga paham bahasa Inggris. Kami juga belajar di sini, Ning.”
“Sorry, aku nggak bermaksud menyinggung.”
“Lupain aja,” katanya sambil meletakkan bakul di meja, “Feeling-mu itu… lagi rame, apa lagi kosong?”
Tangan Jenaning berhenti sebentar di dalam air.
Pertanyaan itu sederhana, bahkan terdengar seperti obrolan biasa. Namun entah kenapa, kalimat itu terasa seperti menyentuh sesuatu yang sejak tadi ia hindari.
Ia kembali mencuci beras agar tidak perlu segera menjawab.
“Aku lagi belajar, Sar,” katanya pelan. “Ya nggak mungkin langsung bisa.”
Sari mengangguk kecil. “Belajar boleh.” Ia mulai mematahkan serai dengan jemari yang sudah terbiasa bekerja. “Tapi jangan buru-buru pengin kelihatan ngerti.”
Jenaning menoleh cepat. “Aku nggak sok ngerti.”
“Aku nggak bilang sok.”
Sari mengangkat wajah. Tatapannya tenang, tetapi tidak lunak.
“Cuma, Ning… kowe kebiasaan pengin cepat sampai.”
Api di tungku mulai hidup. Kayu jati di bawahnya berderak kecil sebelum nyala merah perlahan membesar. Cahaya apinya memantul pada dinding pawon yang mulai menghitam dimakan usia.
Jenaning mengalihkan pandangan ke arah kendil tanah liat.
“Sejauh yang aku tahu, kalau nggak cepat-cepat, ya kita bakal ketinggalan, Sar,” gumamnya lirih.
“Dunia ndak peduli, soalnya mereka ndak nunggu siapa-siapa.”
Sari duduk di bangku pendek dekat tungku. Ia meniup sedikit abu kayu yang menempel di jemarinya sebelum menjawab.
“Jangan menyamakan pawon dengan tempat kamu tinggal di kota.” Jeda sebentar. “Pawon beda.”
Jenaning terdiam.
Di luar, suara ayam bersahutan dari kejauhan. Seseorang lewat di gang belakang sambil membawa ember. Angin pagi menggesek daun pisang hingga terdengar seperti bisikan yang saling bertumpuk.
Namun di dalam pawon itu, yang paling terasa justru sunyi setelah kalimat Sari tadi.
Pawon beda.
Tiga kata sederhana.
Tetapi entah kenapa, terasa seperti sedang membuka pintu menuju sesuatu yang belum benar-benar ia pahami.
Jenaning menatap lagi beras di tangannya. Air cucian mulai keruh. Dan tiba-tiba saja, ia sadar, sejak datang ke Wonokuncar, semua orang di rumah ini selalu bicara tentang rasa seolah itu makhluk hidup.
Seolah rasa bisa marah. Bisa pergi. Bisa menunggu.
Sementara selama ini, ia mengenal makanan hanya sebagai hasil akhir. Soal tampilan. Soal ukuran pasar. Soal apa yang menjual dan apa yang tidak.
Ia menunduk pelan. Lalu, hampir tanpa sadar, gerakan tangannya mulai melambat.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia berhenti mencoba cepat selesai.
***
Uap dari kendil itu terus naik, tetapi tidak lagi membawa aroma yang menenangkan. Ada bau samar gosong yang tertahan di dasar panci. Tipis, namun cukup untuk merusak seluruh niat baik yang sejak tadi dipaksakan hidup.
Jenaning menggenggam centong kayu terlalu erat sampai ruas jarinya memutih.
“Lewat waktunya buat diselamatkan.”
Kalimat Banyu masih tertinggal di udara, seperti asap yang enggan keluar dari pawon.
“Aku cuma telat sedikit,” sahut Jenaning akhirnya. Nadanya rendah, tetapi ada sesuatu yang retak di dalamnya.