Ada bunyi kecil yang terus berulang di halaman belakang Pawon Sriyati pagi itu.
Kret.
Lalu diam.
Kret.
Diam lagi.
Suara batang lidi patah di antara jemari.
Kabut masih menggantung rendah di atas tanah basah, belum sepenuhnya naik dari kebun belakang. Udara dingin membawa aroma kayu bakar yang samar dari pawon, bercampur wangi daun pisang dan tanah yang semalaman menyimpan embun. Di kejauhan, ayam berkokok terlambat, seperti baru sadar pagi sudah berjalan lebih dulu tanpanya.
Di bawah pohon jambu air yang mulai menggugurkan daun-daun tua, Jenaning duduk bersila sendirian.
Di pangkuannya, beberapa batang lidi kering berserakan. Ia mencoba menyusunnya satu per satu menjadi lingkaran kecil. Namun, setiap kali bentuk itu hampir utuh, satu batang bergeser. Yang lain patah. Sebagian melenting keluar dari susunannya, seolah menolak disatukan.
Jari-jarinya mengulang lagi dari awal.
Pelan. Telaten. Dan tanpa ia sadari, sedikit frustrasi. Seperti seseorang yang sedang berusaha memahami sesuatu yang terlalu tipis untuk disentuh, tetapi terlalu dekat untuk diabaikan.
Pagi di Wonokuncar memang tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya tidak suka berteriak.
Segala sesuatu di desa itu bergerak dengan cara yang nyaris tak terlihat. Uap dari tungku yang naik perlahan, daun kelor yang bergoyang kecil diterpa angin, suara orang-orang di depan warung yang mulai datang satu demi satu tanpa perlu dipanggil.
Dan di tengah semua itu, Jenaning merasa dirinya justru paling berisik. Isi kepalanya terlalu penuh. Terlalu banyak ingin mengerti. Terlalu cepat ingin sampai.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pawon.
Ringan.
Teratur.
Sari Wening muncul sambil membawa dua cangkir teh panas. Uap tipis mengepul dari bibir cangkir tanah liat itu, mengabur sebentar sebelum hilang di udara pagi. Di tangan satunya, ada selembar kertas kecil yang sudah dilipat berkali-kali. Pinggirannya mulai lusuh, seperti terlalu lama disentuh jemari yang ragu membuangnya.
Sari duduk di sebelah Jenaning tanpa banyak suara. Matanya jatuh pada lingkaran lidi yang belum selesai itu.
“Kowe durung siap, tapi pikiranmu wis mlayu adoh banget,” katanya pelan.
Jenaning mendengus kecil tanpa menoleh. “Aku cuma lagi nyoba ngerti, Sar. Kamu tuh kurang-kurangin deh skeptis kamu itu.”
“Bukan skeptis, Ning. Masalahnya tuh kamu terlalu sibuk ngerti,” jawab Sari lirih, “sampai lupa caranya ngerasain.”
Kalimat itu membuat tangan Jenaning berhenti sesaat.
Kabut bergerak pelan di sela batang pisang. Di kejauhan, terdengar bunyi sendok beradu dengan piring dari arah depan warung.
Sari menyodorkan kertas lusuh itu. “Ini aku nemu di peti Mbah.”
Jenaning menerimanya hati-hati. Lipatan kertas dibuka perlahan, seolah ada kemungkinan kenangan ikut robek jika terlalu tergesa. Tulisan tangan di dalamnya tampak goyah dimakan usia, tetapi guratan tintanya tetap tegas. Tulisan Mbah Sriyati selalu seperti itu. Rapuh di permukaan, keras di niatnya.
Lidi sing siji ora bakal kuat.
Siji-siji gampang tugel.
Nanging yen gelem ngiket awake dhewe,
bisa dadi sapu sing ngresiki lebu lan rereged pikir.
Serat iki aja diwarisna nganggo tangan wae.
Nanging nganggo rasa sing gelem andhap lan ngrungokke.
Jenaning membaca kalimat itu dua kali.
Lalu sekali lagi.
Angin pagi lewat pelan, menggoyangkan ujung rambutnya yang terlepas. Matanya turun ke lidi-lidi di pangkuannya. Tiba-tiba benda-benda kecil itu terasa berbeda. Ringkih. Tetapi juga berguna justru karena kerapuhannya.
“Berarti…” suaranya mengecil tanpa sadar, “aku nggak bisa jalan sendiri buat ngerti semua ini?”
Sari tersenyum tipis. Bukan senyum yang menghibur, melainkan senyum seseorang yang sudah lebih dulu menerima kenyataan tertentu. “Kamu bisa jalan sendiri,” katanya pelan.
Jeda sebentar.
“Tapi kamu nggak akan sampai kalau semuanya mau kamu kuasai sendiri.”
Sunyi turun pelan di antara mereka. Tidak canggung. Tidak berat. Hanya penuh sesuatu yang belum selesai dipelajari.
Jenaning memutar satu batang lidi di jemarinya. Kering. Rapuh. Sedikit kasar di kulit. “Aku takut salah,” katanya akhirnya.
Sari menatap lurus ke halaman depan, ke arah orang-orang yang mulai memenuhi Pawon Sriyati.
“Semua orang yang masuk pawon pasti pernah salah, toh.”
“Kalau salahnya bikin hancur yang udah cape-cape dibangun, gimana?”
Sari terdiam sesaat. Lalu menjawab pelan, “Yang bikin hancur biasanya bukan salahnya.”
Jenaning menoleh.
“Tapi orang yang terlalu gengsi buat ngaku kalau dia salah,” lanjut Sari ringan.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Lembut. Namun, tepat mengenai sesuatu yang selama ini disembunyikan Jenaning bahkan dari dirinya sendiri.
Di kejauhan, asap tipis dari pawon mulai naik ke udara pagi.
Tidak terburu-buru.
Tidak mencari perhatian.
Tetapi tetap terlihat.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Jenaning merasa mungkin rasa juga bekerja seperti itu. Tidak datang untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipelajari pelan-pelan, dengan cukup rendah hati agar tidak patah sebelum waktunya.
***
Dari arah depan, kehidupan mulai berdatangan sedikit demi sedikit.
Suara standar motor yang dimatikan terburu-buru. Langkah sandal yang menyeret tanah. Batuk kecil. Sapaan pendek. Tawa yang belum benar-benar pecah.
Pagi di Pawon Sriyati selalu dimulai seperti itu. Bukan oleh jam, melainkan oleh orang-orang yang selalu ingat jalan pulang menuju rasa tertentu.
Banyu muncul dari lorong pawon sambil menggulung lengan bajunya sampai siku. Sedikit asap masih menempel di kaus gelapnya. Aroma bawang goreng dan kayu bakar ikut terbawa saat ia berjalan mendekat.
Matanya jatuh pada lidi-lidi di pangkuan Jenaning. Lalu ke Sari. “Ini pawon apa kajian hati?” tanyanya datar.
Sari mendecak pelan. “Kowe ki yen ngomong mesti nyebelin, yo.”
Banyu menarik kursi bambu dengan satu tangan. “Lha, aku dari tadi masak, kalian malah ngobrol sama sapu.”
Jenaning mendengus kecil. “Ini bukan sapu.”
“Belum,” sahut Banyu cepat. “Masih gampang patah.”
Kalimat itu ringan di mulutnya, tetapi tetap terasa seperti sengaja diarahkan.
Sari menahan senyum.
Sementara Jenaning hanya memutar mata, meski diam-diam tahu laki-laki itu tidak sedang bicara soal lidi.
***
Pawon Sriyati mulai hidup seperti tubuh tua yang tidak pernah lupa caranya bangun tanpa perlu dibangunkan.
Meja-meja kayu digeser. Kursi bambu berderit pelan. Piring enamel ditumpuk bertingkat. Sendok-sendok logam beradu, menciptakan bunyi kecil yang anehnya terasa akrab.
Tidak ada musik. Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada papan promo.
Hanya aroma nasi liwet yang perlahan menyebar keluar dari pawon, menembus halaman, lalu menarik orang datang seperti ingatan yang dipanggil diam-diam.
Jenaning berdiri di balik meja saji. Untuk pertama kalinya. Dan mendadak ia sadar: selama ini ia terlalu terbiasa melihat manusia sebagai angka.
Views.
Traffic.
Engagement.
Audience retention.
Namun pagi itu, orang-orang berdiri di depannya dengan wajah sungguhan.
Seorang bapak tua dengan kuku yang masih menyimpan tanah sawah. Ibu muda yang menggendong anak sambil tetap menyuapi. Dua pemuda desa yang tertawa terlalu keras hanya karena teh mereka hampir tumpah.
Mereka tidak datang untuk estetika. Mereka datang karena lapar. Karena terbiasa. Karena percaya. Dan kepercayaan ternyata jauh lebih menegangkan daripada jumlah penonton.
“Mbakyu, liwet satu. Sambelnya sing pedhes, yo.”
“Iya, Pak.”
“Oh, tambah tempenya juga.”
“Oke.”
Tangannya bergerak cepat mengambil piring. Namun, pikirannya mulai tertinggal.