Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #6

PAWON YANG MENYIMPAN BAU MASA LALU

Pawon Sriyati selalu menyimpan bau yang tidak selesai. Bau kayu terbakar yang menempel di dinding. Bau santan yang pernah mendidih terlalu lama. Bau bawang goreng yang meresap ke serat-serat kayu tua.

Dan di antara semuanya, ada sesuatu yang lebih samar. Lebih sulit dijelaskan. Lebih seperti sisa kehadiran orang-orang yang terlalu lama hidup di dalamnya hingga sebagian dirinya tertinggal di sana.

Pagi itu, Jenaning menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata.

Rumah masih setengah gelap ketika suara kayu dibelah terdengar dari arah belakang. Pelan. Teratur. Disusul bunyi tungku dinyalakan dan desir api yang mulai mencari napasnya sendiri.

Mitung dina.

Hari ketujuh sejak Mbah Sriyati pergi.

Hari ketika doa-doa biasanya dibacakan lebih lirih, tetapi kenangan justru datang lebih keras.

Di luar rumah, langkah orang mulai berdatangan sejak subuh belum sepenuhnya pecah. Sandal-sandal digeser di tanah basah. Pagar bambu dibuka dan ditutup perlahan. Suara orang menyapa dengan nada yang diturunkan setengah, seolah rumah duka punya caranya sendiri meminta manusia berbicara lebih pelan.

Namun, pawon tetap menyala seperti biasa. Seolah kehilangan tidak pernah cukup kuat untuk membuat dapur berhenti bekerja.

Ketika Jenaning melangkah masuk, hawa hangat langsung menyambut wajahnya. Asap tipis menggantung rendah di langit-langit. Kayu nangka menyala kecil di tungku. Air dalam panci besar mulai bergetar sebelum mendidih.

Dan di dekat api itu, Banyu berdiri membungkuk sedikit sambil menyusun kayu bakar. Tangannya bergerak cekatan, tetapi tidak terburu-buru. Setiap batang kayu dipilih, diputar, lalu diletakkan dengan perhatian yang nyaris terasa berlebihan.

Namun justru di situlah sesuatu dalam diri Jenaning terusik. Lelaki itu tidak terlihat seperti orang yang sedang memasak. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu agar tidak padam.

“Kamu bangun jam berapa?” tanya Jenaning akhirnya. Suaranya masih serak oleh sisa tidur.

“Jam tiga lewat.” Banyu menjawab tanpa menoleh.

Jenaning mengernyit.

“Jam tiga? Cuma buat masak?”

“Buat nyiapin api.”

“Bedanya?”

Kini Banyu melirik sebentar. Hanya sebentar. “Api juga harus dibangunin pelan-pelan, Ning.”

Kalimat itu terdengar aneh. Terlalu puitis untuk sesuatu sesederhana kayu bakar. Namun, setelah beberapa hari di pawon itu, Jenaning mulai sadar: di tempat ini, hampir tidak ada hal yang benar-benar sederhana.

Banyu mengambil sepotong kayu lain.

“Kalau kayunya terlalu muda, apinya cepat besar, tapi gampang mati,” katanya sambil menyelipkan kayu ke bawah tungku. “Kalau terlalu tua, panasnya berat. Nasinya bisa matang, tapi rasanya capek.”

“Rasanya capek? Maksudnya tuh gimana, sih?” Jenaning mengulang pelan.

Banyu mengangkat bahu kecil. “Nanti kamu juga ngerti sendiri.”

Jenaning ingin tertawa. Atau menyanggah. Atau bilang bahwa semua itu terdengar tidak masuk akal. Namun anehnya, lidahnya tertahan. Karena beberapa hari terakhir telah membuktikan satu hal yang tidak ia sukai: terlalu banyak hal di pawon ini yang tidak bisa dijelaskan logika, tetapi tetap terasa benar.

 

***

 

Sari Wening masuk dari pintu samping sambil membawa nampan bambu berisi bawang merah, cabai rawit, dan ikatan daun pisang yang masih basah oleh embun. Aroma daun yang baru dipotong langsung bercampur dengan asap tungku.

“Warga mulai datang,” katanya pendek.

Ia meletakkan nampan di meja kayu, lalu menyibak sedikit rambut yang jatuh ke pipi. Tatapannya sempat singgah ke Banyu.

Sebentar.

Cepat.

Tidak dingin. Namun, juga belum sepenuhnya cair.

Seperti dua orang yang terlalu lama saling mengenal sampai lupa bagaimana caranya bersikap biasa.

“Liwetnya cukup?” tanya Sari.

“Kalau yang datang sesuai kabar, cukup.”

“Kalau lebih?”

Banyu menambahkan kayu kecil ke tungku. “Kita tambah sayur bening sama sambal.”

Praktis. Tenang. Tidak panik.

Sari mengangguk seolah jawaban itu sudah cukup.

Sementara Jenaning duduk di bangku pendek dekat meja potong, mulai mengupas bawang merah satu per satu. Tangannya bekerja otomatis. Namun, pikirannya berjalan ke tempat lain.

Ke kamar semalam. Ke ramuan weton yang masih tersimpan di dalam tas kain. Ke simbol lingkaran dengan garis patah yang belum juga bisa ia pahami.

Dan ke satu kalimat dalam Serat Rasa yang sejak tadi terus berputar di kepalanya:

 

“Sing kelangan rasa, bakal ketemu liwat wektu lan getih.”

 

Bawang di tangannya tiba-tiba terasa lebih dingin. “Aku mau nyoba satu hal hari ini.” Kalimat itu keluar begitu saja sebelum sempat ia pertimbangkan.

Sari dan Banyu sama-sama menoleh.

“Apa?” tanya Sari.

Jenaning menarik napas pelan. “Ramuan weton.”

Hening kecil jatuh di pawon. Kayu di tungku patah pelan, mengeluarkan bunyi letup pendek.

Banyu berhenti mengatur api beberapa detik. Tidak terlihat terkejut, tetapi jelas mendengar.

Sari menyipitkan mata sedikit. “Kamu yakin, Ning?”

“Nggak.” Jawaban itu keluar lebih cepat daripada yang Jenaning kira. Jujur. Mentah. “Tapi kalau aku terus nunggu ngerti semuanya dulu baru jalan…” ia menunduk sebentar, “…kayaknya aku nggak bakal mulai, deh.”

Sari memandangnya cukup lama. Seolah sedang memastikan apakah perempuan di depannya benar-benar serius, atau hanya sedang dikuasai rasa penasaran sesaat. Lalu ia menghela napas pelan.

“Oke,” ucap Sari ringan. Ia duduk di bangku dekat tungku. “Tapi jangan sendirian.”

 

***

 

Lihat selengkapnya