Yang tertinggal setelah slametan bukan suara doa, melainkan endapannya. Ia melekat pada dinding pawon, masuk ke pori-pori kayu tua, menempel di anyaman bambu yang menghitam oleh asap bertahun-tahun.
Rumah Mbah Sriyati malam itu tidak benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang masih bergerak pelan di dalamnya, seperti napas panjang yang belum selesai dilepaskan.
Bau nasi liwet, santan, dan kayu nangka terbakar bercampur menjadi udara yang hangat sekaligus letih. Piring-piring enamel belum seluruhnya dicuci. Daun pisang bekas alas makan ditumpuk di sudut dekat sumur belakang.
Lantai tanah yang mulai dingin masih menyimpan jejak sandal dan telapak kaki orang-orang yang sejak sore datang membawa doa, kabar kehilangan, dan kenangan tentang wanita tua yang seumur hidupnya lebih sering bicara lewat masakan daripada kata-kata.
Pawon Sriyati terasa seperti tubuh renta yang dipaksa membuka kembali ingatan-ingatan lama.
Di dekat tungku, Jenaning duduk memeluk lututnya sendiri. Bara api tinggal sebesar kepalan tangan, berpendar redup di sela arang yang perlahan patah menjadi abu. Jemarinya masih berbau bawang merah dan kunyit. Aroma yang dulu selalu ia anggap terlalu lekat, terlalu ndeso, terlalu sulit dibersihkan dari tubuh maupun harga diri.
Namun, malam itu ia justru mengangkat tangannya sendiri ke dekat wajah. Menghirupnya perlahan. Dan entah bagaimana, untuk pertama kalinya, bau rempah itu tidak terasa memalukan. Ia terasa seperti rumah. Seperti sesuatu yang selama ini hilang diam-diam dari dirinya tanpa pernah benar-benar ia sadari.
Di dekat gentong air, Banyu membersihkan cobek batu dengan gerakan lambat dan telaten. Lelaki itu tidak banyak bersuara, tetapi cara tangannya bekerja selalu membuat pawon terasa lebih tenang. Air dituang pelan. Abu sisa ulekan dibersihkan sampai ke lekukan paling kecil. Tidak ada gerakan yang asal selesai, seolah benda-benda dapur pun memiliki martabat yang tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Sementara itu, Sari Wening berdiri di ambang pintu sambil melipat sedikit lengan kebayanya. Angin malam meniup beberapa helai rambut di dekat pelipisnya, tetapi ia membiarkannya begitu saja. Tatapannya bergantian jatuh kepada Jenaning dan Banyu, lalu berhenti pada tungku yang nyaris padam.
“Aneh, ya,” gumamnya pelan.
Jenaning mengangkat wajah. “Aneh kenapa?”
Sari tersenyum tipis, tipis sekali. “Tadi pawon ini penuh orang sampai susah buat lewat.” Matanya menyapu ruangan perlahan. “Sekarang malah terasa kayak habis dipakai nyimpen sesuatu.”
“Nyimpen apa?” tanya Jenaning.
Sari mengedikkan bahu kecil. “Ndak tau.” Jeda sebentar. “Kayak habis dengar banyak suara... tapi yang paling pentingnya justru belum sempat keluar.”
Banyu berhenti menggosok cobek. Hanya sesaat. Namun, cukup untuk membuat udara di pawon berubah setipis asap.
“Bukan pawonnya yang nyimpen,” katanya tanpa mengangkat kepala.
Jeda pendek.
“Kita yang belum selesai.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada misterius, tanpa usaha terdengar bijak. Justru karena diucapkan biasa saja, ia terasa lebih mengendap.
Jenaning tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun pada bara merah di dasar tungku. Cahaya kecil itu berkedip pelan di antara abu, seperti sesuatu yang menolak benar-benar mati.
Lalu, perlahan sekali, pandangannya bergerak ke sudut pawon. Ke arah gentong tua yang sejak tadi diam di sana.
***
Gentong itu sesungguhnya tidak pernah berpindah dari sudut pawon itu.
Ia sudah ada sejak Jenaning belum cukup tinggi untuk menjangkau bibir tungku. Sejak tangan kecilnya masih sering mencuri sambal matang lalu berlari keluar sambil tertawa, sebelum akhirnya dimarahi Mbah Sriyati dengan centong kayu di tangan.
Namun, baru malam itu ia benar-benar merasa benda tua itu sedang memandang balik ke arahnya.
Letaknya di pojok dekat rak bumbu. Separuh tubuhnya tenggelam dalam bayangan, seolah sengaja menyatu dengan gelap agar keberadaannya terlupakan. Permukaannya dipenuhi retak-retak halus seperti kulit tua yang terlalu lama menyimpan musim. Pada lehernya, terikat kain kusam berwarna abu kecokelatan, warna yang lahir dari debu, asap kayu, dan waktu.
Jenaning menatapnya terlalu lama. Sampai dadanya perlahan dipenuhi sesak yang tidak punya nama.
Bukan takut. Melainkan perasaan ganjil seperti sedang berdiri di ambang ingatan yang selama ini dikunci dari dalam.
“Kayaknya aku baru ingat sesuatu,” katanya tiba-tiba.
Sari menoleh cepat. “Apa?”
Jenaning tidak segera menjawab. Matanya masih melekat pada gentong itu. “Dulu... waktu aku kecil, Mbah pernah marahin aku gara-gara main dekat situ.”
Banyu mengangkat wajah dari cobek yang sedang dibersihkannya. “Gentong itu?” Jeda sebentar, “Dari awal-awal aku bantu si Mbah di Pawon ini, belum pernah ada yang berani buka gentong itu. Bahkan sampai hari ini.”
Jenaning mengangguk kecil. “Dulu banget, aku hampir buka tutupnya.” Ia berhenti sebentar, berusaha menarik kembali serpihan masa kecil yang samar seperti kabut. “Terus Mbah langsung narik tanganku keras banget.”
“Apa katanya?” tanya Sari lirih.
Jenaning mengembuskan napas pelan. Ingatan itu datang sepotong-sepotong. Bau cabai mentah. Suara kayu terbakar. Jemari keriput yang menggenggam pergelangannya. Lalu suara Mbah Sriyati. Pelan, tetapi tegas.
“Ora kabeh sing ketutup kuwi kudu dibukak.”