Ada sesuatu yang berubah di dalam Pawon Sriyati sejak lontar itu keluar dari dasar gentong dan perubahan paling berbahaya memang sering datang tanpa bunyi.
Tungku masih menyala dengan kayu nangka yang sama. Asap masih naik pelan ke sela anyaman bambu. Cobek batu tetap menghitam oleh cabai dan terasi yang ditumbuk setiap hari. Bahkan daun jeruk di belakang rumah masih dipetik dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Namun, ruang itu tidak lagi terasa sepenuhnya jinak. Seolah ada lapisan tipis tak kasatmata yang kini hidup di antara bau bawang goreng, bara kayu, dan suara sendok kayu yang beradu pelan dengan bibir wajan.
Pawon itu seperti sedang mengingat sesuatu. Dan ingatan, Jenaning mulai sadar, kadang lebih tua daripada manusia yang mewarisinya.
Menjelang petang, cahaya matahari jatuh miring melalui celah dinding bambu, memanjang di lantai tanah seperti kain keemasan yang mulai kehilangan hangatnya. Di depan cobek batu, Jenaning duduk bersila dengan rambut yang perlahan lepas dari ikatan. Beberapa helainya menempel di pelipis yang basah oleh uap dan keringat tipis.
Cabai rawit, bawang merah, garam kasar, dan terasi bakar telah lumat sempurna di bawah ulekan. Warnanya merah pekat. Mengilap. Hampir cantik. Namun ketika aroma sambal itu naik perlahan ke wajahnya, dada Jenaning justru terasa seperti ruang yang lupa diisi sesuatu.
Tangannya berhenti. Ulekan menggantung sesaat di udara. Ia menarik napas pendek, lalu mengendus lagi perlahan.
“Aneh,” gumamnya lirih.
Di dekat pintu belakang, Sari Wening sedang menata daun salam di atas tampah bambu. Jemarinya bergerak tenang, seolah bahkan waktu pun enggan tergesa di dekat perempuan itu.
“Apanya?” tanyanya tanpa langsung menoleh.
Jenaning diam beberapa detik. Keningnya mengerut kecil. “Rasanya kayak...” Ia mencari kata yang tepat, lalu menyerah setengah jalan. “...ada yang nggak ikut masuk. Aku nggak tahu apa.”
Sari meletakkan tampahnya pelan. Ia mendekat tanpa suara, lalu jongkok di sisi cobek. Dengan ujung telunjuk, ia mengambil sedikit sambal dan mencicipinya.
Pedasnya datang lebih dulu. Asinnya menyusul rapi. Terasi bakarnya meninggalkan jejak hangus yang hangat di lidah. Namun sesudah itu, kosong.
Bukan hambar.
Bukan gagal.
Melainkan seperti seseorang yang tahu bagaimana caranya tersenyum, tetapi lupa bagaimana caranya merasa.
Sari mengangkat wajah perlahan. “Ini bukannya gak enak, Ning,” katanya pelan.
“Terus?”
Tatapan Sari turun kembali pada sambal di dalam cobek. Merahnya tampak hidup, tetapi entah kenapa tidak mengundang lapar. “Ini tuh kayak… masakan yang ngerti bentuk dirinya,” ujarnya lirih, “tapi belum nemu napasnya.”
Kalimat itu jatuh pelan. Namun, sesuatu di dalam dada Jenaning terasa seperti disentuh tepat pada bagian yang selama ini ia hindari. Karena mendadak ia sadar, sesuatu memang bisa terlihat sempurna dan tetap tidak hidup.
Dan mungkin, selama ini, itu juga yang terjadi pada dirinya sendiri.
***
Banyu datang ketika cahaya sore mulai tenggelam menjadi warna tembaga kusam di halaman belakang. Langkahnya membawa bau tanah, daun basah, dan matahari yang seharian menempel di kulit.
Begitu masuk ke pawon, matanya langsung jatuh pada bungkusan kain mori di atas meja kayu. Tatapannya berubah tipis. Bukan terkejut. Lebih seperti seseorang yang diam-diam berharap sesuatu tidak benar-benar nyata, lalu mendapati harapan itu gagal.
“Kalian taruh itu di sini?” tanyanya.
“Ya emang harusnya di mana?” sahut Jenaning cepat.
Banyu mendekat beberapa langkah. Tatapannya belum lepas dari bungkusan mori itu. “Ndak tau,” katanya pelan. “Yang pasti bukan dekat tempat orang nyari makan.”
Sari mengangkat sebelah alisnya tipis. “Kamu takut, Nyu?”
Banyu terkekeh pendek. Hambar. “Orang tuh sering nyebut takut untuk hal-hal yang sebenarnya cuma belum bisa dijelaskan.”
“Dan kamu?” tanya Jenaning.
“Aku lebih suka nyebutnya hati-hati.”
Jenaning menyandarkan siku di lututnya. “Di kupingku, itu kedengerannya sama.”
“Ndak.” Kini Banyu menatap lurus ke arahnya. “Takut itu bikin orang lari.” Jeda sebentar. “Hati-hati itu bikin orang tahu kapan harus berhenti.”
Api di tungku berderak kecil. Suasana pawon perlahan mengental.
Jenaning menunduk sebentar, memandangi ujung jarinya yang masih merah oleh cabai. “Mungkin ini hanya perasaanku aja, tapi… sejak lontar itu dibuka...” suaranya lebih pelan sekarang, “aku ngerasa ada yang berubah.”
Banyu langsung menatap penuh.
“Berubah gimana?”
Jenaning menggeleng kecil. Kesulitan menjelaskan sesuatu yang bahkan belum selesai ia pahami sendiri.
“Aku jadi susah nangkep rasa.”
Ia berhenti sebentar.
“Bukan rasanya hilang. Tapi kayak...” Napasnya tertahan sejenak. “...aku nggak tahu lagi mana yang benar-benar datang dari masakan, mana yang datang dari kepalaku.”
Sunyi turun pelan.
Banyu bersandar pada tiang kayu di dekat tungku.
“Mungkin, karena sekarang kamu terlalu sibuk denger sesuatu di luar dirimu sendiri,” katanya akhirnya.
Jenaning mengangkat wajah cepat. “Maksudmu apa, Nyu?”
“Dulu kamu masak pakai lidah.” Tatapan Banyu tidak berubah. “Sekarang kamu mulai masak pakai simbol.”
Sari langsung menoleh. “Banyu.”
Namun, lelaki itu belum selesai.