Yang lebih dulu terjaga di rumah joglo itu bukan langkah manusia, melainkan tembang.
Suara macapat dari radio tua di ruang tengah mengalun lirih dengan napas serak yang sesekali pecah oleh desis gelombang. Tidak bening. Tidak utuh. Namun justru karena retak-retak kecil itulah, suaranya terdengar seperti sesuatu yang hidup. Seolah bukan radio yang sedang bernyanyi, melainkan ingatan lama yang dipaksa bangun dari tidur panjangnya.
Nada-nada tua itu tidak memenuhi rumah. Ia hanya bergerak pelan. Menyusuri tiang kayu. Singgah di sela anyaman bambu. Lalu menetap diam di sudut-sudut joglo yang sejak malam kemarin terasa asing bagi dirinya sendiri.
Sejak gentong itu dibuka sebelum waktunya, rumah ini seperti pelan-pelan berubah menjadi tubuh yang sadar sedang diperhatikan.
Di serambi, Jenaning duduk bersila dengan punggung bersandar pada saka kayu yang warnanya mulai pudar dimakan musim. Wajahnya tampak tenang, tetapi kedua matanya menyimpan letih yang tidak selesai hanya dengan memejamkan mata semalam.
Tidurnya pecah berkali-kali. Bukan oleh mimpi buruk. Melainkan oleh aroma yang terus muncul tanpa benar-benar pergi. Tanah basah. Kayu lembap. Bunga yang nyaris busuk karena terlalu lama disimpan dalam ruang tertutup.
Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Sesuatu yang terasa seperti kenangan masa kecil yang dikubur hidup-hidup, lalu mendadak dibangunkan kembali.
Di hadapannya, sebuah kotak kaca sederhana tergeletak di atas meja rendah. Di dalamnya: piring tembikar retak, kain batik tua, dan serpihan daun pembungkus lontar yang mulai mengering di tepi.
Benda-benda itu diam. Namun, diam mereka kini terasa berbeda. Bukan lagi diam barang peninggalan, tetapi diam sesuatu yang sedang menunggu disentuh kembali.
Cahaya matahari jatuh miring dari sela jendela, memantulkan debu-debu halus yang melayang lambat di udara. Jenaning memandanginya cukup lama sampai ia merasa debu-debu itu tampak lebih tenang daripada isi kepalanya sendiri.
Tangannya melingkar di lutut. Jemarinya saling menggenggam erat tanpa sadar. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terus bergerak sejak semalam. Bukan rasa penasaran. Bukan pula ketakutan sepenuhnya.
Lebih seperti tarikan halus yang tidak henti-henti memanggilnya mendekat. Seolah ada seseorang di tempat yang sangat jauh sedang menyebut namanya pelan-pelan, lalu sabar menunggu ia menoleh.
“Sar...” suara Jenaning rendah, nyaris tenggelam oleh tembang dari radio. “Menurutmu... rumah bisa nyimpen marah?”
Langkah Sari terdengar dari dalam rumah. Pelan. Nyaris tanpa bunyi. Ia membawa nampan kecil berisi wedang jahe, pisang rebus, dan sedikit garam di pinggir piring. Kebiasaan lama peninggalan Mbah Sriyati yang diwariskan begitu saja tanpa pernah benar-benar dijelaskan alasannya.
Sari duduk di samping Jenaning tanpa banyak gerakan. Aroma jahe hangat bercampur dengan bau kayu tua dan sisa asap pawon yang masih menggantung tipis sejak dini hari.
“Rumah nggak marah, Ning,” jawabnya akhirnya.
Nada suaranya tenang, tetapi terlalu hati-hati untuk terdengar ringan. Tatapannya jatuh pada kotak kaca di depan mereka.
“Yang berubah biasanya...” ia berhenti sebentar, seperti sedang memilih kata yang tidak akan membuat udara semakin berat, “hal yang dibangunin sebelum waktunya.”
Kalimat itu membuat tengkuk Jenaning menegang tipis.
Radio tua mendesis lirih. Suara sinden di dalamnya terdengar makin jauh, tetapi anehnya justru terasa semakin dekat ke dada.
“Sumpah, aku nggak bisa tidur semalam,” gumam Jenaning.
Sari menoleh perlahan. “Mimpi buruk? Atau mimpi aneh lagi?”
Jenaning menggeleng. “Serius, Sar. Aromanya muncul terus.”
“Aroma? Dari pawon?”
“Bukan.” Jenaning diam sebentar sebelum melanjutkan, “Di kamar.” Jeda kecil. “Di bantal.” Matanya turun pada kedua tangannya sendiri. “Bahkan di tangan.”
Sari tidak segera menjawab. Karena sejak subuh tadi, ia juga mencium aroma samar yang sama. Tipis. Lembap. Seperti tanah makam yang baru pertama kali disentuh hujan setelah kemarau panjang.
Dan yang paling membuat dadanya dingin: bau itu tidak lagi terasa berasal dari pawon.
Melainkan seperti sedang mencari tubuh baru untuk ditinggali.
***
Bunyi ember yang menghantam lantai serambi pecah terlalu keras untuk rumah yang sejak tadi bergerak hati-hati menjaga sunyinya.
Burung-burung di pohon sawo belakang rumah beterbangan pendek. Radio tua di ruang tengah mendesis panjang sebelum suara macapat di dalamnya kembali timbul-tenggelam seperti orang kehabisan napas.
Dan di antara semua bunyi itu, napas Banyu terdengar paling jelas. Ia muncul dari arah halaman belakang dengan ujung celana bercak lumpur dan telapak kaki yang masih basah oleh air sumur. Rambut di dekat pelipisnya lengket oleh embun dan keringat.
Namun, bukan penampilannya yang membuat Jenaning langsung menegakkan tubuh. Melainkan wajahnya. Ada sesuatu di sana yang belum selesai ia cerna sendiri. Sesuatu yang membuat rahangnya tampak terlalu kaku untuk pagi yang seharusnya biasa.