Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #10

SUARA YANG DISIMPAN RASA

Yang mula-mula berubah bukan rasa masakannya, namun manusia yang memakannya. Mereka tetap datang ke Pawon Sriyati seperti biasa, membawa singkong dari kebun, cabai rawit dalam kantong plastik tipis, atau sekadar kabar kecil yang lahir sambil menunggu air mendidih.

Tawa masih terdengar di serambi. Asap kayu masih naik pelan dari tungku. Pisau masih menari di atas talenan dengan bunyi akrab yang selama bertahun-tahun menjadi napas rumah itu.

Sepintas, tidak ada yang berbeda. Namun, beberapa orang mulai pulang dengan wajah yang menyimpan sesuatu.

“Lodehnya enak, Ning,” kata Bu Parti suatu siang sambil menurunkan sendok perlahan. Dahinya berkerut kecil, seperti sedang mengejar ingatan yang nyaris tertangkap. “Tapi kok… rasanya seperti ada yang beda, ya? Seperti ada yang nggak ikut masuk.”

Bu Parti tertawa sesudahnya. Pendek. Sedikit malu pada kalimatnya sendiri.

“Atau mulutku mungkin lagi aneh saja.”

Jenaning ikut tersenyum kecil, meski dadanya terasa tertarik pelan oleh sesuatu yang belum sanggup ia beri nama.

Dua hari kemudian, Pak Darmo berkata hampir serupa.

“Nasi liwetmu masih terasa gurihnya.” Lelaki tua itu mengaduk teh panas tanpa benar-benar meminumnya. Pandangannya jatuh ke halaman belakang yang mulai pucat terkena sore. “Tapi biasanya setiap saya habis makan di sini...” Ia mengetuk dada pelan. “Rasanya plong.”

Jeda sebentar.

“Sekarang kenyang, tapi hati kok kayak belum selesai makan.”

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada suara sendok yang beradu dengan gelas.

Dan sesudahnya, ucapan-ucapan serupa mulai datang satu demi satu, dengan bentuk berbeda, tetapi kegelisahan yang sama.

Sambalnya masih pedas.

Lodehnya tetap gurih.

Nasi liwet masih mengepulkan aroma santan dan daun salam yang membuat perut lapar bahkan sebelum suapan pertama.

Namun, selalu ada kata tapi yang mengikuti setelahnya. Ada sesuatu yang seperti tertinggal di ambang rasa. Sesuatu yang dahulu membuat orang diam sesudah makan, lalu mengembuskan napas panjang seperti baru pulang dari tempat yang jauh.

Kini bagian itu hilang.

Tidak lenyap sepenuhnya. Hanya seperti tidak lagi tahu jalan kembali.

Dan semakin sering mendengar orang-orang berbicara seperti itu, Jenaning mulai memahami sesuatu yang diam-diam membuat dadanya sesak: barangkali yang mereka buka malam itu bukan sekadar penutup gentong.

Mungkin itu adalah sesuatu yang selama ini disimpan agar tetap tinggal pada tempatnya.

 

***

 

Menjelang petang, Pawon Sriyati dipenuhi bau bawang goreng dan kayu nangka yang terbakar setengah kering. Api di tungku menyala kecil, memantulkan cahaya kemerahan pada dinding bambu yang mulai menggelap dimakan asap tahun demi tahun.

Sari sedang mengiris daun bawang, mendadak berhenti. Pisau di tangannya menggantung sesaat di udara.

“Kamu nyadar nggak, Ning?” tanyanya pelan.

Jenaning yang tengah mengaduk kuah lodeh menoleh. “Apa?”

Sari tidak langsung menjawab. Tatapannya bergerak ke arah panci besar di atas tungku. “Pawon ini biasanya hangat.”

Jenaning mengernyit samar. “Sekarang?”

Sari menarik napas perlahan. “Masih panas.” Ia menunduk sebentar. “Tapi ya… ndak hangat.”

Kalimat itu terdengar aneh. Namun anehnya, Jenaning mengerti. Ia merasakannya juga sejak beberapa hari terakhir.

Api tetap menyala. Masakan tetap matang. Tetapi Pawon Sriyati tidak lagi terasa seperti ruang yang memeluk orang-orang yang masuk ke dalamnya. Seolah ada sesuatu yang pelan-pelan tercabut dari akar rumah itu sendiri.

Di luar, angin sore bergerak lirih di antara daun pisang. Radio tua di ruang tengah kembali memutar tembang macapat dengan suara pecah-pecah yang terdengar seperti seseorang bernyanyi sambil menahan rindu terlalu lama.

Dan tanpa sadar, tangan Jenaning berhenti mengaduk. Karena di sela aroma santan dan asap kayu itu, ia kembali mencium bau yang sama.

Tanah basah.

Bunga yang hampir layu.

Dan sesuatu yang samar, tetapi terasa begitu dekat dengan tubuhnya sendiri.

Seketika tengkuknya menegang. Bukan karena takut. Hanya saja untuk pertama kalinya, aroma itu tidak lagi terasa datang dari gentong.

Aroma itu datang dari dalam dirinya sendiri.

 

***

 

Selasa Kliwon turun ke Wonokuncar tanpa bunyi yang benar-benar jelas. Namun sejak fajar, udara kampung itu sudah terasa seperti sesuatu yang lupa bergerak.

Langit menggantung pucat di atas rumah-rumah, menyerupai kain lama yang terlalu lama direndam hujan. Angin nyaris tidak lewat. Daun-daun pisang di belakang pawon diam menggantung, seolah urat-uratnya kehilangan tenaga untuk sekadar berdesir.

Bahkan ayam jago milik Pak Darmo terlambat berkokok. Keterlambatan kecil itu semestinya tidak berarti apa-apa. Namun, pagi itu, hal sesederhana suara ayam yang datang tidak pada waktunya terasa lebih mengganggu daripada pertengkaran keras di tengah pasar.

Banyu baru menyadari ada sesuatu yang berubah ketika ia menimba air sumur belakang rumah. Tali tambang berdecit pelan saat ditarik. Ember seng muncul perlahan dari mulut sumur, memantulkan cahaya pagi yang pucat seperti logam tua.

Airnya tidak keruh. Tidak pula berbau busuk. Namun, warnanya tampak lebih pekat dari biasanya, seolah ada sesuatu dari dasar sumur yang ikut terangkat perlahan bersama air.

Banyu menatap permukaannya cukup lama. Lalu, hampir seperti bicara kepada dirinya sendiri, ia bergumam lirih, “Airnya berubah.”

Tak jauh darinya, Sari sedang membersihkan daun jeruk di dekat pancuran bambu. Jemarinya berhenti sesaat. “Keruh?” tanyanya tanpa menoleh.

“Bukan.” Banyu menggeleng kecil. “Kayak...” Ia mencari kata yang tepat, tetapi kalimat itu tetap terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. “Kayak air yang terlalu lama nyimpen sesuatu.”

Sari akhirnya mengangkat wajah. Tidak ada tawa di sana. Karena sejak subuh tadi, ia pun merasa rumah itu seperti sedang mengembuskan napas yang berbeda.

Ada bau samar mengambang di udara.

Kenanga yang mulai layu.

Tanah lembap.

Lihat selengkapnya