Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #11

RASA YANG KEHILANGAN PULANG

Bau kenanga itu datang lagi menjelang subuh. Bukan sebagai wangi bunga yang segar dipetik dari halaman, melainkan seperti aroma yang terlalu lama terkurung di ruang lembap, manis, tetapi menyisakan getir samar di ujung napas. Ia merayap pelan dari arah pawon, menyusup ke sela pintu kamar, lalu menetap tipis di udara seperti sesuatu yang sengaja menunggu untuk dikenali.

Jenaning membuka mata dengan dada terasa penuh.

Langit di luar jendela masih gelap kebiruan. Kabut turun rendah di halaman belakang, menelan batang pisang sampai tinggal bayangannya saja. Dari kejauhan, suara ayam jago terdengar terlambat dan pendek-pendek, seperti bahkan pagi pun sedang ragu untuk benar-benar datang ke rumah itu.

Ia duduk perlahan di tepi dipan. Tenggorokannya kering. Telapak tangannya dingin. Namun, bukan itu yang paling mengganggu. Melainkan rasa asing yang sejak beberapa malam terakhir terus tinggal di dalam tubuhnya, seolah ada sesuatu yang pelan-pelan bergerak di bawah kesadarannya sendiri.

Bukan rasa sakit.

Bukan pula ketakutan sepenuhnya.

Lebih seperti seseorang yang terlalu lama mengetuk pintu dari dalam.

Di sudut kamar, salinan aksara tua itu masih tergeletak di atas meja kecil dekat jendela. Semalam Jenaning yakin ia telah menaruhnya tertutup kain batik. Namun, kini kain itu bergeser setengah bagian, memperlihatkan guratan-guratan tinta yang tampak lebih gelap daripada sebelumnya.

Jenaning bangkit perlahan. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Lalu tanpa sadar ia mendekat. Ujung jemarinya berhenti beberapa senti di atas kertas itu. Tidak menyentuh.

Namun, dadanya langsung mengencang. Ada tarikan halus dari benda itu. Bukan tarikan yang meminta dipahami. Melainkan diikuti. Seperti jalan setapak yang hanya muncul bagi orang tertentu pada waktu tertentu pula.

Aku iki lagi digawa menyang ngendi...” bisiknya nyaris tanpa suara.

Tak ada jawaban.

Mendadak udara kamar berubah samar.

Hangat.

Nyaris seperti seseorang baru saja berdiri di belakangnya lalu pergi sebelum sempat terlihat. Dan bersamaan dengan itu, suara Mbah Sriyati muncul kembali di kepalanya. Bukan seperti ingatan. Lebih seperti sesuatu yang belum selesai diucapkan.

Yen rasa wis kelangan dalan mulih, sing cilaka dudu mung pawone.

Jenaning memejamkan mata pelan. Lalu untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia benar-benar memahami kenapa Mbah Sriyati begitu keras menjaga pawon itu selama hidupnya.

Bukan karena resep.

Bukan karena warisan keluarga.

Tetapi karena ada sesuatu di sana yang harus tetap tinggal pada tempatnya.

Dan mereka telah membangunkannya terlalu cepat.

 

***     

 

Pawon masih gelap ketika Jenaning masuk. Hanya ada sisa bara kemerahan di dasar tungku dan bau kayu terbakar yang menggantung rendah di udara. Di sudut ruangan, gentong tua itu tetap berdiri diam dengan kain mori melilit di lehernya.

Namun, diamnya kini terasa berbeda. Bukan lagi seperti benda mati yang menyimpan rahasia. Melainkan seperti sesuatu yang sedang menunggu dipanggil namanya.

Sari sudah ada di sana lebih dulu. Perempuan itu duduk dekat tampah berisi beras, memisahkan batu-batu kecil dengan gerakan tenang. Namun, matanya tampak kurang tidur.

“Kamu juga nggak bisa tidur?” tanya Jenaning pelan.

Sari tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu butir beras pecah, lalu meletakkannya di sisi tampah sebelum berkata lirih, “Dari tadi malam pawon kayak… apa ya… nggak mau benar-benar sepi.”

Jenaning menoleh pelan ke arah gentong. “Ada suara lagi?”

“Bukan suara.” Sari menggeleng kecil. “Lebih kayak...” Ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. “Kayak ada orang lagi nunggu kita ngomong, Ning.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Jenaning meremang tipis. Karena ia mengerti persis maksudnya. Rumah itu tidak menjadi lebih berisik sejak gentong dibuka. Justru sebaliknya. Terlalu hening. Dan di dalam hening itulah, segala sesuatu terasa semakin hidup.

Sari menatapnya lama sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kamu masih suka dengar suara itu?”

Jenaning diam sesaat. Lalu mengangguk. “Kadang.” Suaranya mengecil. “Tapi sekarang bukan cuma kata.”

Sari menegang sedikit. “Maksudmu?”

“Ada potongan tembang.”

“Macapat?”

“Iya.” Jenaning menunduk pelan. “Kadang pas aku merem... rasanya kayak ada orang lagi nembang dekat telinga.”

Sari tidak segera menjawab. Tangannya berhenti bergerak di atas tampah. Lalu pelan sekali ia berkata, “Mbah dulu sering bilang, pawon itu nggak cuma nyimpen bau masakan.” Tatapannya jatuh pada tungku. “Tapi juga nyimpen suara orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.”

Udara di antara mereka mendadak terasa lebih rapat.

Jenaning ingin bertanya lebih jauh. Namun, langkah berat dari halaman belakang lebih dulu terdengar mendekat.

Banyu muncul sambil membawa kayu bakar di pundak. Rahangnya tampak mengeras sejak pagi. Ia meletakkan kayu-kayu itu terlalu keras di dekat tungku hingga suara benturannya memecah sunyi.

“Kamu kenapa?” tanya Sari.

Lihat selengkapnya