Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #12

SERAT YANG TERSEMBUNYI

Kabut turun tipis sejak dini hari, menggantung rendah di antara pohon pisang belakang rumah seperti kain putih yang belum selesai diperas. Udara terasa dingin, tetapi bukan dingin yang menggigit. Lebih seperti udara yang membuat orang bicara lebih pelan dari biasanya.

Di rumah Mbah Sriyati, pagi bergerak lambat. Kayu jendela sesekali berbunyi lirih ketika disentuh angin. Dari kejauhan terdengar suara lesung bertalu pelan dari rumah tetangga, disusul kokok ayam yang datang terlambat seperti orang yang baru ingat tugasnya setelah matahari hampir muncul.

Hari itu Selasa Kliwon.

Tak ada yang mengatakannya keras-keras. Namun, suasana rumah seperti sudah mengetahui tanggal bahkan sebelum siapa pun membuka kalender.

Di kamar depan, Jenaning duduk bersila di lantai sambil memandangi lurik cokelat tua di pangkuannya. Kain itu milik Mbah Sriyati.

Ia menemukannya kemarin sore di lemari kayu belakang, terlipat rapi bersama beberapa kebaya sederhana yang masih menyimpan samar bau kapur barus dan bunga melati kering. Sudah lama sekali Jenaning tidak menyentuh kain seperti itu.

Jakarta membuat tubuhnya terbiasa pada pakaian cepat: kemeja kantor, sepatu tergesa, tas besar, dan hidup yang tak pernah benar-benar memberi waktu untuk diam. Namun pagi itu, jemarinya justru bergerak pelan merapikan lipatan lurik seolah sedang memegang sesuatu yang lebih tua daripada kain itu sendiri.

Ia mengenakannya perlahan. Kain itu terasa asing pada awalnya, tetapi beberapa saat kemudian justru pas di tubuhnya seperti sesuatu yang diam-diam sudah hafal bentuk dirinya sejak lama.

Ketukan kecil terdengar di pintu.

“Ning?”

“Masuk aja.”

Sari muncul sambil membawa dua cangkir teh panas. Rambutnya masih sedikit berantakan, matanya tampak kurang tidur. Begitu melihat Jenaning mengenakan lurik, langkahnya melambat sedikit. “Kamu jadi pakai itu?”

Jenaning tersenyum kecil. “Kenapa? Jelek, ya?”

“Bukan jelek.” Sari duduk di dekat pintu sambil menyerahkan teh. “Cuma… beda aja lihat kamu begini.”

Jenaning menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Hangatnya langsung merambat ke telapak tangannya.

“Kayaknya Mbah dulu sering pakai ini.”

“Iya.”

Sunyi kecil jatuh di antara mereka.

Dari halaman belakang terdengar suara ember sumur beradu pelan dengan batu bibir sumur. Banyu rupanya sudah bangun sejak subuh.

Sari meniup permukaan tehnya perlahan sebelum berkata, “Aku dari tadi malam kepikiran satu hal.”

“Apa?”

“Kamu nggak takut, Ning?”

Jenaning mengangkat mata. “Takut apa?”

Sari tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Takut terlalu larut sama semua ini.”

Kalimat itu membuat Jenaning diam cukup lama. Ia menunduk memandangi teh di tangannya sendiri. Uap tipis naik perlahan lalu hilang di udara dingin kamar.

“Aku juga nggak ngerti kenapa rasanya beda,” katanya akhirnya pelan. “Padahal aku cuma pulang.”

Sari tersenyum kecil, tetapi matanya tetap serius. “Kadang orang pulang justru terus berubah.”

Jenaning tertawa lirih. “Kedengerannya kok serem ya.”

“Bukan serem.” Sari menggeleng. “Hanya aja… aku takut kamu terlalu jauh masuk ke hidupmu yang dulu.”

Angin pagi bergerak pelan dari jendela. Membawa bau tanah basah, asap kayu, dan samar aroma bawang goreng dari pawon.

Aneh sekali, baru beberapa hari di rumah itu, Jenaning mulai merasa tubuhnya mengingat hal-hal yang bahkan pikirannya sendiri sudah lupa.

Cara Mbah Sriyati berjalan ke dapur sambil mengusap kain di bahu.

Suara ulekan batu tiap menjelang subuh.

Cara beliau meniup api tungku pelan-pelan sebelum memasak.

Ingatan-ingatan kecil itu muncul bukan seperti kenangan besar. Lebih seperti rasa yang tertinggal di tubuh.

“Sebenernya… aku takut kehilangan diriku sendiri,” kata Jenaning lirih tiba-tiba.

Sari menatapnya.

“Kadang rasanya aku mulai lebih ngerti rumah ini daripada hidupku sendiri di Jakarta.”

“Kamu nyesel pulang?”

Lihat selengkapnya