Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #13

GURATAN YANG MENYALA

Asap tipis keluar dari pawon lalu bergerak lambat ke halaman belakang, menyusuri sela daun pisang yang masih basah oleh embun. Aroma kayu bakar bercampur santan hangat memenuhi rumah dengan cara yang begitu akrab sampai Jenaning merasa tubuhnya lebih dulu mengenali suasana itu dibanding pikirannya sendiri.

Ia duduk bersila di lantai kamar depan dengan kotak kayu berada tepat di hadapannya. Cahaya dari jendela jatuh miring mengenai permukaan tutup kotak yang mulai kusam dimakan usia.

Belum ada keberanian untuk membongkar semuanya sekaligus. Tangannya hanya bergerak pelan menyusuri guratan kayu yang halus, lalu berhenti pada bagian-bagian kecil yang cekung seperti terlalu sering disentuh oleh tangan yang sama selama bertahun-tahun.

Dari sela kecil di sisi kotak masih tercium bau jelaga dan rempah tua. Bau yang tidak asing. Bau yang tiba-tiba membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.

Ia membuka tutupnya perlahan.

Tidak ada benda aneh. Tidak ada rahasia besar. Hanya tumpukan kehidupan yang tertinggal: lembar resep lusuh, catatan belanja, potongan kain pembungkus rempah,

beberapa foto yang mulai memudar, serta kertas-kertas kecil dengan tulisan tangan yang nyaris hilang.

Namun, justru kesederhanaan itu yang membuat Jenaning tidak mampu berpaling. Seolah ia sedang mengintip hidup seseorang dari sela-sela benda yang sengaja ditinggalkan diam-diam.

“Sudah dibuka, Ning?”

Suara Sari muncul dari ambang pintu bersama aroma teh panas dan singkong goreng yang masih mengepulkan uap tipis.

Jenaning mengangguk kecil.

“Masuk aja, Sar.”

Sari duduk di sebelahnya lalu memandangi isi kotak dengan rasa penasaran yang sejak semalam terus ditahannya.

“Kirain isinya bakal lebih dramatis.”

“Dramatis kayak apa?”

“Entahlah.” Sari mengangkat bahu. “Minimal surat cinta tersembunyi atau peta harta karun.”

Jenaning mendengus pelan. “Kalau Mbah punya harta karun, kita nggak bakal rebutan gas melon tiap akhir bulan.”

Sari langsung tertawa. Tawa itu ringan, tetapi cukup membuat rumah terasa hidup kembali. Sudah lama Jenaning tidak mendengar suara seperti itu memenuhi ruang depan rumahnya.

Mereka mulai membuka isi kotak satu demi satu.

Ada daftar belanja pasar bertuliskan: cabai dua kilo, gula merah, daun salam, kelapa muda. Ada catatan pesanan hajatan warga kampung. Ada kain pembungkus kunyit dengan noda kuning pekat yang masih membekas. Ada pula lipatan daun pisang kering yang disimpan rapi entah untuk alasan apa.

“Kenapa daun beginian disimpan?” tanya Sari sambil mengangkatnya hati-hati.

“Mbah memang suka simpan apa aja.”

“Ini namanya kolektor sampah.”

“Kurang ajar.”

Namun, diam-diam Jenaning tersenyum. Karena ia tahu persis bagaimana Mbah Sriyati memperlakukan benda-benda kecil.

Tidak pernah ada yang benar-benar dianggap sepele.

 

***

 

Sari membuka salah satu resep lalu membaca keras-keras.

Sega liwet untuk tiga puluh orang…” Ia berhenti mendadak. “Hah? Cabainya segini doang?”

“Mbah memang nggak suka pedas berlebihan.”

“Kenapa begitu?”

“Mbah pernah bilang kalau pedas itu bukan rasa. Pedas itu cuma sensasi.”

Sari mendelik. “Pantas aku dulu sering dimarahi ibu-ibu waktu bantu masak hajatan.”

“Karena?”

“Aku selalu nambah cabai diam-diam.”

Jenaning terkekeh kecil. “Dan Mbah selalu tahu.”

“Iya!” Sari menunjuknya cepat. “Aku sampai bingung beliau bisa tahu cuma dari bau.”

Kalimat itu membuat Jenaning mendadak diam. Ingatan lama muncul begitu saja tanpa dipanggil. Suara ulekan batu yang berat. Irama tangan renta Mbah Sriyati yang teratur. Serta suara macapat yang dinyanyikan lirih seperti gumaman angin.

Mbah selalu memasak sambil bernyanyi. Kadang nadanya nyaris tidak terdengar. Kadang hanya sepenggal bait. Namun, suara itu selalu memenuhi pawon dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Jenaning menunduk pada lembar resep di tangannya. “Mbah dulu suka marah kalau aku motong daun bawang terlalu besar.”

Sari langsung tertawa.

Lihat selengkapnya