Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #14

BAYANG-BAYANG DI BALIK SERAT

Pawon kembali dipenuhi bunyi-bunyian lama yang pernah hilang dari rumah itu. Suara pisau membelah bawang. Dentang halus cobek yang bersentuhan dengan ulekan. Kayu bakar yang sesekali patah di dalam tungku. Serta aroma santan panas yang perlahan memenuhi udara hingga ke ruang depan.

Jenaning berdiri di dekat meja kayu sambil menatap lembar resep lusuh di tangannya. Kertas itu sudah mulai menguning di bagian pinggir, tetapi tulisan di atasnya masih cukup jelas terbaca.

Brongkos kacang tolo.

Di bawah nama masakan itu terdapat catatan kecil:

Jangan terburu api besar. Rasa butuh napas.”

Kalimat itu membuat Jenaning diam beberapa saat. Entah kenapa, ia bisa membayangkan seseorang menulisnya sambil berdiri di dekat tungku seperti sekarang.

“Mau masak itu, Ning?” tanya Sari yang sedang membersihkan daun pisang.

Jenaning mengangguk kecil. “Aneh, ya?”

“Mmm… bukan aneh.” Sari mendekat lalu membaca resep itu sekilas. “Cuma… kamu serius mau ngikutin catatan orang puluhan tahun lalu ini?”

“Masakan itu nggak cepat tua.”

“Orangnya iya, Ning.”

Jenaning terkekeh pelan. “Aku cuma pengin tahu rasanya.”

“Kalau rasanya gak sesuai ekspektasi alias gagal?”

“Ya kita makan sambil nangis.”

Sari tertawa kecil lalu kembali duduk di lantai sambil mengikat daun pisang dengan tali bambu tipis.

Dari halaman belakang, suara Banyu terdengar sedang berbicara dengan pemasok sayur. Nada suaranya terdengar lebih berat dibanding biasanya. Sudah beberapa hari terakhir ia sering diam. Dan Jenaning tahu penyebabnya.

Warung mulai berjalan tidak teratur. Ia terlalu sering menghabiskan waktu membaca resep, mencatat ulang tulisan lama, atau membongkar isi kotak sampai lupa memikirkan hal-hal lain.

Namun, kali ini ia tidak ingin berhenti. Ada sesuatu dalam catatan-catatan itu yang terasa hidup. Bukan karena mistik, tetapi karena setiap tulisan seolah menyimpan cara seseorang memandang rasa.

Jenaning mulai menghaluskan bawang dan kemiri di atas cobek batu. Gerak tangannya pelan, nyaris hati-hati.

“Mbah dulu kalau ngulek selalu nyanyi,” gumamnya tiba-tiba.

Sari melirik. “Kamu masih inget?”

“Sedikit.”

“Aku malah lebih inget omelannya.”

“Seorang Sari Wening pernah diomelin Mbah Sriyati?”

“Sering.” Sari mendengus kecil. “Aku pernah salah motong lengkuas, terus disuruh ngulang semuanya.”

“Karena kamu motongnya kayak lagi nebang pohon kali.”

“Makanan itu kejam.”

Jenaning tertawa lagi. Namun, beberapa detik kemudian tawanya perlahan menghilang ketika aroma bawang yang mulai matang naik bersama asap tipis dari wajan. Dadanya mendadak terasa sesak oleh kenangan yang datang terlalu cepat.

Ia ingat tangan Mbah Sriyati yang keriput memegang sendok kayu. Ingat suara minyak mendesis. Ingat cahaya tungku yang membuat wajah tua itu terlihat hangat. Bahkan ia ingat bagaimana Mbah selalu mencicip kuah dengan mata terpejam sesaat, seolah rasa adalah sesuatu yang harus didengarkan lebih dulu sebelum dinilai.

Sari memperhatikannya beberapa lama. “Kamu kenapa?”

“Bau ini…”

“Kenapa sama baunya?”

Jenaning menggeleng pelan. “Aku baru sadar, deh. Udah lama banget aku nggak nyium aroma kayak gini.”

“Padahal tiap hari kita masak, lho.”

“Beda.”

Jenaning sendiri kesulitan menjelaskan bedanya. Seolah selama ini ia memasak hanya untuk kenyang dan ramai pelanggan. Sementara aroma yang sekarang memenuhi pawon terasa seperti sesuatu yang lebih tua dari sekadar makanan.

 

***

 

Lihat selengkapnya