Hujan turun tipis sejak sore, meninggalkan bau tanah basah yang merambat sampai ke dapur belakang. Air menetes pelan dari ujung genting. Sesekali terdengar suara motor melintas di jalan desa yang mulai lengang. Sementara di dalam pawon, cahaya lampu kuning menggantung redup di atas meja kayu penuh tumpukan resep tua.
Jenaning duduk bersila di lantai. Rambutnya diikat seadanya. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Di depannya, kotak kayu peninggalan Mbah Sriyati kembali terbuka. Sudah hampir satu jam ia membolak-balik isi kotak tanpa banyak bicara.
Sari yang semula membantu membereskan warung akhirnya ikut duduk di dekatnya sambil membawa dua gelas teh panas.
“Kamu kalau lagi begini mirip orang kesurupan, Ning.”
Jenaning menerima gelasnya tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau kesurupan nggak mungkin masih mikirin teh.”
“Belum tentu.”
“Kalau aku mulai makan bunga melati, baru panik.”
Sari tertawa kecil.
Suasana di antara mereka terasa lebih ringan dibanding beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, kelelahan tetap tampak jelas di wajah Jenaning. Matanya mulai sering sembap karena kurang tidur.
Namun, ada sesuatu yang juga mulai berubah dalam dirinya. Ia tampak lebih tenang ketika berada dekat resep-resep lama itu. Seolah ada bagian dirinya yang perlahan menemukan tempat pulang.
“Kok, aku baru sadar satu hal ya, Sar,” gumam Jenaning sambil membuka lipatan kain tua.
“Apa?”
“Aku nggak pernah benar-benar kenal Mbah Sriyati.”
Sari memiringkan kepala. “Kamu itu cucu kandungnya. Kamu juga tinggal sama beliau bertahun-tahun.”
“Iya, tapi yaudah itu aja, ‘kan? Aku cuma kenal Mbah sebagai nenek.” Jenaning tersenyum kecil. “Aku nggak pernah mikir beliau pernah jadi anak muda.”
Kalimat itu membuat Sari diam.
Jenaning mengambil sebuah kain kecil dari dalam kotak lalu mengusapnya pelan. “Dulu aku pikir hidup Mbah ya cuma dapur, pasar, sama rumah. Aku nggak pernah tahu gimana masa kecil Mbah Sriyati, kaya apa Mbah Sriyati remaja sampai dewasa, dan… apa yang Mbah Sriyati lakukan sampai jadi Mbah yang aku kenal sebagai cucunya.”
“Ya itulah kehidupan, Ning. Kadang ada hal-hal yang gak sempat diceritakan atau memang sengaja buat disimpan.”
“Tapi Mbah nyimpen banyak hal. Bahkan terlalu banyak.”
Sari memperhatikan wajah sahabatnya beberapa saat. “Kamu takut sama apa yang bakal kamu temuin?”
Jenaning tidak langsung menjawab. Di luar rumah, angin bergerak pelan melewati pohon pisang hingga daun-daunnya saling bergesekan seperti bisikan halus.
“Aku takut kalau ternyata Mbah pernah hidup jauh lebih rumit dari yang aku tahu.”
“Dan menurutmu itu buruk?”
“Ya enggak juga.” Jenaning menunduk. “Cuma aneh aja.”
Sari menyeruput tehnya pelan. “Kita semua nggak pernah benar-benar tahu hidup orang tua kita, Ning.”
Jenaning tersenyum tipis. “Kamu mendadak bijak.”
“Aku lapar. Biasanya orang yang kelaparan tuh filosofis.”
“Ngarang.”
***
Di dasar kotak kayu, terselip sebuah amplop tipis berwarna kecokelatan. Sudutnya sudah rapuh.
Sebagian permukaannya bahkan tampak lengket karena usia dan minyak dapur yang mungkin pernah mengenainya.
Jenaning membukanya perlahan.
Satu lembar foto tua jatuh ke pangkuannya.