Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #16

BAYANGAN KENANGA

Kabut turun rendah pagi itu, menggantung di sela batang bambu dan pagar kayu seperti kain basah yang lupa diangkat sebelum subuh. Wonokuncar belum benar-benar bangun, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya tidur.

Dari kejauhan, suara ayam terdengar patah-patah, sementara embusan angin lereng membawa bau tanah lembap dan sisa hujan semalam. Rumah Mbah Sriyati berdiri dalam diam yang berbeda. Bukan karena kosong. Melainkan karena ada sesuatu yang hilang darinya.

Di pawon, celemek batik milik Mbah Sriyati masih tergantung di dekat tungku. Sudut kainnya mengeras oleh noda santan dan minyak yang tak pernah benar-benar hilang meski sudah berkali-kali dicuci.

Di sampingnya, sebuah cangkir enamel bergaris biru masih terbalik di rak kayu, persis seperti terakhir kali disentuh pemiliknya. Tidak ada yang memindahkannya. Tidak ada yang berani. Dan justru karena itulah rumah itu terasa semakin asing.

Biasanya, pagi datang bersama bunyi sendok kayu beradu dengan wajan, atau suara lirih Mbah Sriyati yang bersenandung pelan sambil menanak nasi. Kadang tembang Jawa, kadang hanya gumaman yang tak utuh. Suara-suara kecil yang dulu nyaris tak diperhatikan itu kini meninggalkan ruang kosong yang aneh, seolah dinding rumah masih menunggu seseorang yang tidak akan kembali.

Jenaning berdiri cukup lama di ambang pawon. Tangannya terlipat di depan dada, tetapi matanya terus bergerak menyusuri ruangan kecil itu.

Tungku.

Rak bumbu.

Gentong tua di sudut tenggara.

Jejak jelaga di langit-langit.

Semuanya masih sama.

Namun, setelah foto itu ditemukan, setelah angka-angka tahun yang tersembunyi mulai memperlihatkan dirinya, rumah ini seperti perlahan mengingat sesuatu yang selama puluhan tahun sengaja disimpan rapat.

Dan anehnya, Jenaning merasa rumah itu mulai memandang balik kepadanya.

 

***

 

Di halaman belakang, pohon kluwih bergerak pelan disentuh angin pagi. Daun-daunnya yang lebar saling bergesekan lirih, menyerupai bisik yang terlalu jauh untuk dimengerti.

Sari Wening sedang menjemur kain lap di dekat sumur ketika Jenaning datang membawa gulungan kain batik tua.

“Kamu nemu lagi?” tanyanya sambil menoleh sekilas.

Jenaning mengangguk kecil. “Tadi nyelip di bawah peti kayu dekat lemari Mbah.”

Banyu, yang sejak tadi membelah kayu bakar di samping pagar, menghentikan ayunannya sesaat.

“Rumah ini isinya rahasia semua, ya,” gumamnya pelan. Namun, tak ada nada bercanda di sana.

Jenaning duduk di bangku kayu pendek dekat pohon kluwih. Dengan hati-hati, ia membuka lipatan kain itu sedikit demi sedikit.

Motif garuda mungkur tampak samar di permukaannya.

Kainnya sudah tua. Sangat tua.

Beberapa bagian mulai menipis dimakan usia. Ada bekas jahitan tangan yang longgar di sisi-sisinya. Aroma asap kayu melekat samar di sana, bau yang hanya muncul pada kain yang terlalu lama hidup di dekat dapur.

Dan entah kenapa, begitu jemarinya menyentuh permukaan batik itu, Jenaning langsung membayangkan tangan perempuan lain sebelum dirinya. Tangan yang melipat kain ini setelah dipakai memasak. Tangan yang mungkin pernah mengusap air mata diam-diam sebelum subuh. Tangan yang menjaga rahasia keluarga tanpa pernah menuliskannya keras-keras.

Kain itu tidak terasa seperti benda. Ia terasa seperti sisa kehadiran.

“Kayaknya… ini bukan kain sembarangan,” bisik Jenaning pelan.

Sari mendekat satu langkah. “Kenapa bisa bilang begitu?”

Lihat selengkapnya