Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #17

JEJAK DI ANTARA LEMBAR

Pagi datang ke Wonokuncar dengan cara yang pelan dan nyaris enggan. Kabut masih menggantung rendah di antara batang pisang dan pagar bambu, sementara langit memucat seperti kain tua yang terlalu sering dijemur matahari.

Dari arah depan rumah, bunyi tutup panci beradu dengan tungku terdengar lirih.

Warung sudah buka. Seperti biasa. Seolah tak ada apa pun yang berubah sejak kemarin. Padahal Jenaning tahu, ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak lagi kembali ke tempat semula.

Jenaning duduk di serambi dengan secangkir teh yang mulai dingin di tangan. Matanya sembap karena nyaris tidak tidur semalaman. Sejak menemukan guratan samar di naskah itu, kepalanya seperti terus dipenuhi suara-suara kecil yang tak benar-benar berbentuk kata.

Bukan bisikan. Bukan mimpi. Lebih seperti ingatan yang belum selesai lahir.

Dari dapur depan, aroma bawang goreng dan santan merebak perlahan ke halaman. Biasanya aroma itu selalu membuat perut Jenaning lapar. Namun pagi ini, wangi makanan justru terasa seperti sesuatu yang jauh, akrab, tetapi tidak sepenuhnya mampu ia sentuh.

Ia memandangi halaman rumah cukup lama. Daun-daun kenanga bergoyang kecil tertiup angin pagi. Satu bunga jatuh pelan ke tanah yang masih lembap. Dan entah mengapa, dadanya terasa sesak melihatnya.

“Mau sampai kapan bengong di situ?” Suara Banyu muncul dari dalam rumah.

Jenaning menoleh.

Lelaki itu keluar sambil membawa baskom berisi piring kotor. Kaus hitamnya sedikit basah oleh uap dapur, rambutnya berantakan, dan wajahnya menyimpan lelah yang belum benar-benar hilang.

Namun, bukan itu yang membuat Jenaning diam. Melainkan cara Banyu memandang rumah itu pagi ini. Seperti seseorang yang mulai merasa asing di tempat yang paling dikenalnya sendiri.

Banyu menurunkan baskom di dekat sumur, lalu mencuci tangan cepat-cepat sebelum duduk di anak tangga serambi.

“Kamu gak tidur lagi ya semalem?”

Jenaning menggeleng kecil.

Banyu mengembuskan napas panjang. “Aku juga.”

Sunyi turun sebentar di antara mereka. Tidak canggung. Tetapi penuh oleh hal-hal yang sama-sama belum berani diucapkan.

Dari dalam warung terdengar suara pelanggan pertama pagi itu tertawa pendek meminta tambah sambal. Sari menjawab dari dapur dengan nada ringan seperti biasanya.

Pawon Sriyati tetap hidup. Namun, di sela kehidupan kecil itu, ada sesuatu yang terasa bergeser pelan.

“Aku nggak suka Pawon Sriyati yang sekaligus rumah, bukan cuma buat kamu, tapi juga buat orang-orang yang menganggap pawon ini rumah, malah berubah jadi begini,” ujar Banyu tiba-tiba.

Jenaning menoleh. “Nggak suka gimana? Lagian nggak ada yang berubah, kok. Mungkin perasaan kamu aja, Nyu.”

Banyu tertawa kecil, hambar. “Perasaanku aja?” Ia menghela napas sebelum melanjutkan, “Ning, dulu rumah ini tempat orang pulang.” Tatapannya lurus ke halaman. “Sekarang rasanya kayak semua orang malah makin jauh.”

Kalimat itu jatuh pelan. Namun, cukup membuat tenggorokan Jenaning terasa tercekat.

Karena ia mengerti. Sejak Serat Rasa dibuka, rumah itu memang berubah. Bukan menjadi menyeramkan. Bukan pula terasa asing sepenuhnya. Hanya terlalu penuh oleh hal-hal yang selama ini diam.

Dan diam yang terlalu lama disimpan sering kali lebih melelahkan daripada pertengkaran. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya berubah,” bisik Jenaning.

Banyu menatapnya sekilas. “Aku tahu.” Ia diam sebentar. “Tapi kadang sesuatu tetap berubah meskipun kita nggak berniat.”

“Terus kamu maunya gimana, huh? Kamu mau aku gimana?” sahut Jenaning cepat.

“Entahlah, Ning.” Banyu menatap Jenaning dalam diam. Cukup lama. “Yang pasti, aku nggak mau kamu sampai kehilangan dirimu sendiri hanya gara-gara obsesi kamu dengan Serat Rasa dan pawon ini.”

Jenaning mematung. Tanpa sepatah kata pun.

 

***

 

Menjelang siang, warung mulai ramai. Uap nasi liwet mengepul dari kastrol besar. Sendok beradu dengan piring enamel. Suara orang-orang bercakap tentang sawah, hujan, dan harga cabai memenuhi udara rumah dengan kehidupan yang biasa.

Lihat selengkapnya