Jalan menuju lereng gunung seperti sengaja diciptakan untuk membuat orang berpikir lebih lama daripada yang mereka inginkan.
Mobil pikap tua yang mereka tumpangi bergerak lambat di atas batu-batu basah. Setiap kali roda menghantam lubang, badan mobil berderit lirih seperti sedang mengeluh kepada usia.
Hutan pinus berdiri rapat di kiri-kanan jalan, batang-batangnya menjulang tinggi dengan warna gelap yang nyaris seragam. Kabut turun rendah di sela pepohonan, membuat gunung terlihat seperti sesuatu yang belum sepenuhnya bangun dari tidur panjang.
Jenaning duduk diam di belakang sambil memeluk tas kain cokelat di pangkuannya. Kain garuda mungkur masih tersimpan di dalamnya, terlipat rapi bersama kegelisahan yang sejak semalam tak berhasil ia tenangkan.
Udara dingin menyelinap dari celah jendela.
Banyu yang duduk di depan mengembuskan napas panjang.
“Kalau dipikir-pikir ya,” katanya sambil melihat jalan di depan, “gunung ternyata punya cara sendiri buat nyingkirin manusia.”
Sopir tua di sebelahnya terkekeh kecil. “Bukan nyingkirin. Ngetes.”
“Ngetes apa, Pak?”
“Sabar.”
“Wah, kalau begitu aku gagal dari tanjakan pertama.”
Sari mendecih pelan dari belakang. “Belum juga sampai, mulutmu sudah capek duluan.”
“Bukan cuma mulut, tapi seluruh badanku udah capek duluan.”
“Lebih capek kami yang denger ocehanmu.”
Jenaning tersenyum tipis tanpa benar-benar mendengarkan penuh percakapan mereka. Pikirannya berkeliaran jauh ke rumah. Ke pawon. Ke suara tungku. Ke rak kayu tempat Mbah Sriyati biasa menyimpan toples-toples bumbu dengan susunan yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun.
Aneh sekali bagaimana kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari. Dulu semua itu terasa biasa. Kini, justru hal-hal kecil itulah yang paling sering datang kembali.
Mobil terguncang keras ketika melewati jalan berlubang.
Banyu refleks memegangi dashboard. “Kalau aku mental keluar mobil, bilang orang-orang aku mati terhormat.”
“Terhormat dari mana?” tanya Sari.
“Meninggal demi ilmu.”
“Kamu tuh cuma naik pikap, bukan bertapa.”
Tawa kecil pecah sebentar sebelum kembali ditelan suara mesin dan desir pinus.
***
Perjalanan berhenti sejenak di sebuah warung kecil yang berdiri di tikungan menanjak. Kabut menggantung rendah hingga sebagian atap seng tampak larut bersama warna putih pucat pegunungan.
Aroma kopi hitam dan kayu basah memenuhi udara. Sari masuk ke warung membeli teh panas dan gorengan, sementara sopir turun untuk merokok di dekat pagar bambu.
Jenaning berdiri di tepi lembah. Dari sana, hamparan hijau terlihat seperti lipatan kain raksasa yang belum selesai dibentangkan. Angin gunung membawa bau tanah basah dan dedaunan pinus yang lembap. Aroma itu membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Banyu menghampiri Jenaning sambil membawa dua gelas teh.
“Nih.”
Jenaning menerimanya pelan.
Beberapa saat mereka hanya berdiri memandangi kabut yang bergerak perlahan di bawah sana.
“Aku masih belum ngerti,” ujar Banyu tiba-tiba.
“Apa lagi, Nyu?”
“Kenapa kamu mau sejauh ini buat nyari sesuatu yang bahkan belum tentu pengin ditemukan.”
Jenaning memandang permukaan teh yang masih mengepul. “Aku juga nggak yakin.”
“Lalu kenapa tetap datang?”
Pertanyaan itu menggantung lama. Karena sesungguhnya Jenaning sendiri belum punya jawaban utuh.
“Ya mungkin… ada hal-hal yang rasanya nggak bisa didiemin terus,” katanya akhirnya.
Banyu tertawa pendek tanpa humor. “Sejak naskah itu muncul, bukan cuma rumah yang berubah, tapi kamu juga.”
Jenaning diam.
“Aku pengin ngingetin aja, kalau dulu Pawon Sriyati itu tempat orang berhenti kalau hidupnya lagi berat,” lanjut Banyu lirih. “Sekarang rasanya malah semua orang sibuk nyari sesuatu sampai lupa duduk. Termasuk kamu.”
Kalimat itu terasa lebih dingin daripada angin gunung.
Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, Jenaning benar-benar menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang takut kehilangan sesuatu.
***
Setelah jalan tak lagi bisa dilalui kendaraan, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Wiryo memimpin di depan sambil membawa tongkat kayu pendek untuk menyingkirkan semak kecil di jalur setapak.
Tanah lembap menempel di alas sandal dan sepatu. Akar-akar pohon mencuat dari permukaan seperti urat tua yang sengaja memperlambat langkah manusia.
Banyu mulai mengeluh sejak lima belas menit pertama.
“Kalau habis ini ternyata yang ketemu cuma rumah kosong, aku langsung pulang jalan kaki.”
“Kamu dari tadi ngomel terus, Nyu,” sahut Sari.
“Itu teknik mengusir capek, Sar.”
“Capeknya pergi?”
“Enggak. Tapi setidaknya capekku punya teman.”
“Terserah.”
Pak Wiryo tertawa kecil di depan. “Anak muda sekarang napasnya pendek.”