Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #19

PUSAKA RASA YANG TERJAGA

Perjalanan turun gunung terasa lebih panjang dibanding saat mereka datang. Barangkali karena malam bergerak terlalu cepat di antara pepohonan. Atau mungkin karena tak satu pun dari mereka benar-benar berhasil meninggalkan jejak kaki itu di belakang.

Lampu senter bergoyang kecil mengikuti langkah Pak Wiryo di depan. Cahaya kekuningan sesekali menyapu batang pinus, semak basah, dan kabut tipis yang turun semakin rendah mendekati tanah.

Tak banyak percakapan tersisa. Bahkan Banyu yang biasanya paling sulit diam hanya sesekali berdeham kecil sambil menoleh ke belakang.

Jalan setapak terasa lebih sempit dalam gelap. Jenaning berjalan sambil memeluk tas kainnya lebih erat. Entah kenapa, setelah bertemu Pak Gondho, benda itu tidak lagi terasa seperti sekadar kain tua. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya sendiri.

Dan perubahan itu justru membuatnya gelisah.

“Ning.”

Suara Sari muncul pelan di sampingnya.

“Hm?”

“Kamu nggak apa-apa?”

Jenaning mengangguk kecil.

Tetapi Sari tahu itu bukan jawaban sungguhan.

Mereka kembali berjalan beberapa langkah sebelum Sari berkata lagi, lebih lirih kali ini, “Aku tadi sempat takut.”

“Soal jejak kaki?”

Sari mengangguk.

“Aku kira cuma aku,” gumam Jenaning.

Banyu yang berjalan di depan mereka tiba-tiba menyahut tanpa menoleh.

“Yang nggak takut cuma orang bodoh.”

“Berarti kamu takut?” tanya Sari.

“Sedikit.”

“Sedikit atau banyak?”

“Secukupnya buat tetap hidup.”

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Pak Gondho, mereka tertawa kecil lagi.

Pendek. Cepat hilang. Namun, cukup untuk membuat udara terasa sedikit lebih ringan.

 

***

 

Mereka tiba di rumah ketika malam sudah larut. Pawon gelap. Halaman basah oleh embun. Dan rumah itu menyambut mereka dengan kesunyian yang terasa akrab.

Banyu langsung memeriksa pintu belakang sebelum masuk.

“Kamu kenapa?” tanya Sari sambil melepas sandal.

“Memastikan nggak ada tamu misterius ikut turun gunung.”

“Mulai lagi.”

“Aku serius.”

Jenaning tidak ikut menanggapi. Ia berdiri beberapa saat di ambang pawon sambil memandangi tungku yang padam. Aroma kayu bakar lama masih tertinggal samar di udara. Aneh sekali. Baru sehari meninggalkan rumah, tetapi pawon itu terasa berbeda ketika ia kembali.

Atau mungkin bukan pawonnya yang berubah. Melainkan dirinya.

Sari menyalakan lampu gantung kecil di dapur. Cahaya kekuningan langsung menyentuh dinding tua, rak bumbu, dan celemek Mbah Sriyati yang masih tergantung di tempat biasa.

Jenaning menatap celemek itu cukup lama. Lalu tanpa sadar berjalan mendekat dan membenarkan lipatan talinya yang miring sedikit. Gerakan kecil. Sangat kecil.

Namun, Banyu memperhatikannya dari belakang.

“Persis Mbah banget,” gumamnya pelan.

Jenaning menoleh. “Apanya?”

“Kalau lihat sesuatu nggak rapi, tangannya langsung gerak sendiri.”

Jenaning tidak langsung menjawab. Entah kenapa, kalimat itu membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri.

 

***

 

Makan malam mereka berlangsung terlambat dan sederhana. Nasi hangat. Tempe goreng sisa pagi. Sayur lodeh yang dipanaskan ulang.

Tak ada yang benar-benar lapar, tetapi semuanya tetap duduk mengelilingi meja seperti biasa. Seolah rutinitas kecil itu perlu dipertahankan agar dunia tidak berubah terlalu jauh.

Banyu mengambil sambal lebih banyak dari biasanya. Sari menuangkan teh hangat ke gelas-gelas enamel lama. Dan Jenaning duduk sambil memandangi uap makanan yang naik perlahan di atas meja.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan berarti. Sampai akhirnya Sari membuka suara.

“Menurut kalian... jejak kaki tadi itu siapa?”

Sunyi langsung jatuh lagi.

Banyu mengunyah perlahan sebelum menjawab, “Kalau aku tahu, aku nggak bakal diem.”

“Mungkin orang sekitar sana kali, yo,” kata Sari.

“Orang sekitar nggak bakalan jalan malam-malam dekat rumah begitu.”

“Pemburu?”

Lihat selengkapnya