Kabut masih menggantung rendah di antara rumpun bambu ketika Jenaning membuka pintu pawon. Udara yang masuk membawa kesejukan yang belum disentuh matahari, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan yang semalaman menyimpan embun di lekuk-lekuknya.
Dari kejauhan, suara sungai mengalir lirih, seperti seseorang yang sedang menggumamkan doa yang tak ingin didengar siapa pun selain dirinya sendiri.
Rumah Mbah Sriyati masih tenggelam dalam sunyi. Namun, sunyi itu bukan kehampaan.
Ia hidup. Ia bernapas. Ia menyimpan jejak orang-orang yang pernah tinggal, tertawa, menangis, dan meninggalkan sebagian dirinya di setiap sudut rumah.
Jenaning berdiri sejenak di ambang pawon. Pandangannya berkeliling perlahan. Tungku tanah liat di sudut ruangan. Rak kayu tua yang mulai menggelap dimakan usia. Lesung batu yang permukaannya licin karena puluhan tahun dipakai mengulek bumbu.
Semua tampak biasa. Tetapi beberapa bulan terakhir, ia mulai merasa bahwa benda-benda itu mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui. Seolah ada percakapan panjang yang telah berlangsung jauh sebelum dirinya lahir, dan kini ia hanya datang terlambat untuk mendengar sisa-sisanya.
Di dekat tungku, Serat Rasa telah terbuka pada halaman yang semalam dibacanya berulang kali. Terlalu sering. Sampai huruf-huruf tua itu terasa tidak lagi seperti tulisan. Melainkan tatapan.
Tatapan yang diam.
Tatapan yang menunggu.
***
Kayu-kayu kecil mulai menyala setelah ia menyentuhnya dengan bara. Api tumbuh perlahan. Tidak tergesa. Tidak berambisi menjadi besar. Hanya menjalankan tugasnya sebagai api.
Jenaning memperhatikan nyala itu beberapa saat sebelum mulai bekerja.
Beras yang telah dicuci dituangkannya ke dalam panci.
Santan menyusul.
Daun salam.
Serai.
Garam.
Tangannya bergerak mengikuti petunjuk yang telah dihafalnya. Masukkan ini. Tunggu aroma berubah. Aduk perlahan. Biarkan api bernapas. Jangan tergesa. Jangan menahan.
Semua langkah dilakukan dengan cermat. Terlalu cermat.
Setiap beberapa saat matanya melirik Serat Rasa. Lalu kembali ke panci. Lalu ke naskah lagi. Seolah ada pengawas tak terlihat yang akan mencatat setiap kesalahannya.
Uap mulai naik dari permukaan santan. Aroma gurih menyebar perlahan. Namun, alih-alih merasa tenang, dada Jenaning justru semakin sesak.
Ia mengaduk.
Berhenti.
Mengaduk lagi.
Berhenti lagi.
Bahu dan tengkuknya menegang tanpa ia sadari. Api terus bekerja, tetapi pikirannya berlari ke mana-mana.
***
Pintu pawon berderit pelan. Sari muncul sambil membawa kendi tanah liat. Rambutnya masih sedikit berantakan. Wajahnya masih menyimpan sisa kantuk. Ia tidak langsung bicara. Hanya duduk di dekat tungku.
Mengamati.
Mendengarkan.
Mencium aroma yang memenuhi ruangan.
Beberapa saat berlalu. Kemudian ia berkata, “Kalau orang lain lihat kamu sekarang, mereka bakal ngira kamu lagi meracik jamu buat menyembuhkan penyakit langka.”
Jenaning mendengus kecil. “Aku lagi serius, Sar.”
“Nah. Itu masalahnya.”
“Apa?”
“Kamu terlalu serius.”
Jenaning menoleh.
Sari mengambil sepotong kayu kecil lalu memutarnya di tangan. “Masak itu nggak suka dipelototin.”
“Emangnya masakan bisa tersinggung, gitu?”
“Bisa jadi.”
“Ngawur kamu.”
“Aku serius.”
Mereka saling pandang beberapa detik.
Kemudian Sari melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Kamu capek ya?”
Pertanyaan itu membuat Jenaning diam. Karena ia tahu yang ditanyakan bukan tubuhnya. Melainkan pikirannya.
“Aku cuma pengin ngerti, Sar.”
“Ngerti apa, Ning?”
“Semuanya.”
Sari tertawa pelan. “Manusia yang pengin ngerti semuanya biasanya nih ya… ujung-ujungnya malah nggak ngerti apa-apa.”
“Terima kasih, lho. Membantu sekali.”
“Oh, tentu. Dengan senang hati.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Jenaning tersenyum tipis. Namun, senyum itu cepat menghilang.
Matanya kembali pada panci.
Pada uap.
Pada naskah.
Pada pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan rumah.
***