Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #21

JEJAK DI ATAS API

Bunyi pertama yang membangunkan rumah itu bukan kokok ayam, melainkan denting halus gelas-gelas kaca yang saling bersentuhan di rak warung.

Satu.

Lalu satu lagi.

Lalu beberapa bunyi kecil yang terdengar begitu akrab hingga nyaris tak disadari.

Pak Wiryo sedang menata gelas. Seperti yang dilakukannya hampir setiap pagi selama bertahun-tahun.

Di luar, langit masih menyimpan warna pucat sebelum matahari benar-benar naik. Cahaya tipis merembes di sela daun mangga dan pohon kenanga yang tumbuh di halaman belakang. Udara masih cukup dingin untuk membuat secangkir teh terasa seperti anugerah.

Dari pawon, aroma nasi yang baru matang mulai mengalir perlahan ke ruang depan. Pawon Sriyati sedang bangun. Bukan dengan tergesa. Melainkan dengan cara yang biasa. Cara yang manusiawi. Cara yang selama beberapa waktu terakhir nyaris terlupakan oleh Jenaning.

Jenaning keluar dari pawon sambil membawa baskom berisi daun kemangi yang baru dipetik. Masih ada butiran embun yang bertahan di beberapa helainya. Ia duduk di bangku kayu dekat meja panjang lalu mulai memilah daun-daun yang menguning.

Gerakannya sederhana.

Tenang.

Tanpa kegelisahan yang beberapa hari terakhir terus mengikutinya.

Pak Wiryo yang sedang membersihkan meja memperhatikannya sekilas. Hanya sekilas. Namun, cukup untuk membuat pria tua itu menghela napas lega dalam hati.

Sudah lama sekali ia tidak melihat Jenaning bekerja tanpa wajah yang dipenuhi pertanyaan. Tanpa mata yang terus mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Tanpa bahu yang selalu tegang.

Hari ini gadis itu tampak sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya, tetapi lebih ringan.

Dan kadang-kadang, perubahan besar memang dimulai dari sesuatu yang kecil.

 

***

 

Warung perlahan menemukan denyutnya. Bukan dengan cara yang dramatis. Tidak ada peristiwa besar yang mengawali pagi itu. Tidak ada kabar mengejutkan yang datang bersama matahari.

Kehidupan datang sebagaimana biasanya.

Pelan.

Akrab.

Nyaris tidak terdengar.

Suara sapu lidi yang bergesekan dengan halaman tetangga. Derit roda sepeda tua yang melintas di jalan depan. Panggilan seorang ibu kepada anaknya yang belum juga mandi. Lalu aroma kopi yang mulai mengepul dari dapur warung. Semua bergerak seperti aliran sungai kecil yang telah hafal jalannya sendiri.

Seorang petani datang paling awal. Capingnya masih basah oleh embun. Celana panjangnya digulung sampai betis. Ia langsung duduk di bangku langganannya tanpa perlu ditanya.

“Biasanya kalau panen bagus, saya senang. Tapi sekarang malah bingung.”

Pak Wiryo yang sedang menuang kopi mengangkat alis. “Lho, kenapa begitu, Pak?”

“Harga pupuk naik lagi.”

“Itu bukan bingung namanya. Itu tradisi.”

Petani itu tertawa pendek. “Pak Wiryo bisa saja. Tapi ternyata nasib petani sama seperti nasib orang jatuh cinta lho, Pak.”

“Kenapa?”

“Selalu keluar modal dulu.”

Warung langsung dipenuhi tawa.

Tak lama kemudian dua ibu desa datang membawa keranjang belanja. Mereka bahkan belum duduk ketika percakapan sudah dimulai.

“Ning, dua bungkus seperti biasa.”

“Pedas atau sedang, Bu?”

“Yang satu sedang. Yang satu pedas.”

“Buat siapa yang pedas?”

“Buat suami saya.”

Jenaning tersenyum kecil. “Kasihan juga ya.”

“Kasihan apanya, toh?”

“Setiap hari dapat sambal dari istrinya.”

Salah satu ibu langsung terkekeh. “Lha, kalau tidak pedas nanti dia lupa pulang, Ning.”

“Itu sambalnya buat pengingat?”

Iyo. Biar dia ingat masih punya rumah."

Ibu yang lain ikut menyahut. “Kalau suamiku ndak perlu sambal.”

“Lho? Kok, bisa?”

“Melihat wajah istrinya saja sudah cukup bikin panas toh.”

Gelak tawa pecah lebih besar. Bahkan beberapa pelanggan yang baru datang ikut tersenyum tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dibicarakan.

Begitulah desa bekerja. Kadang-kadang orang tertawa bukan karena leluconnya lucu, melainkan karena mereka sudah saling mengenal terlalu lama.

 

***

 

Radio tua yang tergantung di dekat rak bumbu akhirnya menyala. Suara keroncong mengalun pelan, sesekali tenggelam oleh desis yang muncul dari pengeras suara yang mulai renta.

Namun, tak seorang pun mengeluh. Radio itu telah menjadi bagian dari rumah. Sama seperti kursi yang sedikit miring. Sama seperti meja yang menyimpan bekas noda teh sejak bertahun-tahun lalu. Sama seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar dibersihkan.

Jenaning membungkus nasi satu per satu. Tangannya bekerja otomatis. Namun, kali ini pikirannya tidak melayang ke simbol lima kelopak. Tidak menuju halaman-halaman Serat Rasa. Tidak pula berlari mengejar pertanyaan yang belum terjawab.

Ia hanya mendengar.

Mendengar percakapan para pelanggan.

Mendengar tawa mereka.

Mendengar keluhan yang setiap hari terdengar sama, tetapi entah mengapa tidak pernah membosankan.

Barangkali karena hidup memang tersusun dari pengulangan-pengulangan kecil seperti itu.

 

***

 

Menjelang pukul sembilan, suara langkah berlari terdengar dari halaman. Seorang anak laki-laki muncul dengan napas memburu. Rambutnya masih basah. Salah satu sandalnya berwarna biru, sementara yang lain hitam.

Tidak ada seorang pun yang tampak mempermasalahkan hal itu selain dirinya sendiri.

“Mbak Ning, beli teh hangat seribu.”

“Kamu habis lari dari mana?”

“Dari rumah.”

“Dekat?”

“Dekat. Makanya aku lari.”

Pak Wiryo menggeleng sambil tersenyum. “Kamu kalau besar nanti mau jadi apa?”

Anak itu berpikir sejenak.

“Lupa.”

“Kok, bisa lupa?”

“Iya. Kemarin kayaknya kepengin jadi polisi.”

“Terus sekarang?”

“Mau jadi orang sugih mulyo saja.”

“Kenapa berubah?” tanya Jenaning.

“Kalau mau jadi polisi ternyata mahal. Sedangkan bapakku ndak punya sawah untuk dijual.”

Warung langsung dipenuhi tawa.

Bocah itu mengangkat dagu dengan bangga seolah baru saja mengucapkan kesimpulan paling cerdas di dunia.

Lihat selengkapnya