Ada saat-saat ketika sebuah pertanyaan tidak lagi terdengar seperti suara dari luar, melainkan tumbuh dari dalam diri sendiri. Diam-diam, perlahan, dan nyaris tak disadari. Ia tidak mengetuk. Tidak memaksa. Hanya merambat seperti akar yang mencari air di bawah tanah, sampai suatu hari seseorang menyadari bahwa seluruh pikirannya telah dipenuhi olehnya.
Pagi itu, Jenaning duduk seorang diri di dekat jendela pawon. Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam. Dari halaman belakang, aroma tanah basah bercampur wangi daun kenanga yang gugur semalam.
Cahaya matahari belum sepenuhnya menguasai rumah tua itu. Ia baru menyelinap melalui sela-sela dinding bambu, membentuk garis-garis tipis keemasan di lantai.
Di hadapannya tergeletak beberapa lembar kertas. Semuanya dipenuhi gambar yang sama.
Lima kelopak.
Satu titik di tengah.
Lima kelopak lagi.
Kemudian lima kelopak berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Jenaning sendiri tidak ingat kapan mulai menggambarnya. Mungkin sejak selepas Subuh. Mungkin lebih awal. Ujung pensilnya bergerak hampir tanpa perintah. Seolah tangannya sedang mengikuti sesuatu yang lebih tua daripada ingatan. Ia memandangi salah satu gambar.
Lima kelopak.
Titik di tengah.
Entah mengapa, kali ini matanya justru tertahan pada titik kecil itu. Bukan pada kelopaknya. Bukan pada bentuk bunganya. Melainkan pada titik yang selama ini nyaris tidak pernah ia perhatikan.
Titik kecil.
Sederhana.
Diam.
Namun, justru karena diam, ia terasa penting. Pensil di tangannya berhenti bergerak. Dan tanpa diminta, sebuah pintu lama terbuka di dalam ingatannya.
***
Pawon itu terasa jauh lebih kecil. Atau mungkin tubuh Jenaning yang waktu itu masih terlalu kecil untuk mengukurnya dengan benar.
Ia duduk di atas tikar pandan yang mulai kusam di sudut ruangan. Di depannya, Mbah Sriyati sedang mengulek sambal.
Bukan resep istimewa. Bukan pula masakan keraton. Hanya sambal sederhana untuk makan siang keluarga.
Cabai.
Garam.
Terasi.
Tomat.
Namun, di tangan Mbah Sriyati, pekerjaan paling biasa selalu tampak seperti sesuatu yang layak dihormati.
Ulekan batu bergerak perlahan. Tidak tergesa. Tidak lambat. Seolah mengikuti irama yang hanya dipahami oleh orang-orang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di depan tungku.
“Mbah.”
“Hm?”
“Kenapa nggak pakai blender saja?”
Mbah Sriyati tertawa kecil. Tawa yang lembut. Tawa yang tidak pernah mengejek.
“Karena sambal bukan cuma soal halus, Nduk.”
Jenaning kecil mengerutkan kening. “Maksudnya, Mbah?”
“Bikin sambal itu juga soal sabar.”
Jenaning mendengus. Menurutnya jawaban itu tidak masuk akal. Sambal ya sambal. Apa hubungannya dengan sabar?
Namun, Mbah Sriyati hanya tersenyum. Lalu kembali mengulek. Tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak berusaha membuat cucunya mengerti. Seolah percaya bahwa beberapa pelajaran memang harus menunggu waktu.
***
Kenangan itu bergeser. Kini suara minyak mendesis dari wajan. Jenaning kecil berdiri di dekat tungku sambil memegangi kipas bambu.
Panas membuat dahinya berkeringat. Namun, ia tetap bertahan. Karena Mbah Sriyati sedang menggoreng tempe.
Dan menurut Jenaning kecil, melihat seseorang menggoreng tempe adalah pekerjaan yang anehnya menarik.
“Mbah.”
“Opo, Nduk?”
“Kok nggak gosong?”
Mbah Sriyati tersenyum. “Lha memang harus gosong?”
“Maksud Ning… Mbah tahu dari mana kalau udah matang?”
Alih-alih menjawab, Mbah Sriyati justru memejamkan mata.
Sesaat.
Sangat singkat.
Seolah sedang mendengarkan sesuatu.
“Suara minyaknya berubah.”
Jenaning berkedip. “Emangnya minyak bisa ngomong?”
“Kamu kalau sudah besar nanti bakal ngerti.”
“Nggak mungkin.”
“Kenapa toh?”
“Soalnya minyak ya minyak, Mbah.”
Mbah Sriyati tertawa lagi. Kali ini sedikit lebih panjang. “Semua yang hidup punya cara bicaranya masing-masing, Ning.”
“Minyak emang hidup?”
“Bukan itu maksud si Mbah.”
“Terus? Apa maksud Mbah?”
Mbah Sriyati membuka mata. Menatap cucunya penuh kesabaran.
“Kalau kita benar-benar mendengarkan, banyak hal di sekitar kita yang bisa bercerita.”
Jenaning kecil tetap tidak mengerti. Namun entah mengapa, ia masih mengingat percakapan itu sampai hari ini.
***
Kenangan lain datang.
Lebih lembut.
Lebih hangat.
Aroma nasi baru matang memenuhi seluruh pawon.
Mbah Sriyati baru saja membuka tutup kukusan. Uap putih mengepul perlahan. Namun, yang menarik perhatian Jenaning bukan nasi itu. Melainkan cara Mbah Sriyati mendekatkan wajahnya.
Menghirup aromanya.
Pelan.
Seolah sedang menyapa seseorang yang baru datang dari perjalanan jauh.
“Kenapa dicium dulu, Mbah?”
Mbah Sriyati tidak langsung menjawab. Ia menghirup sekali lagi. Baru kemudian berkata, “Karena nasi itu lebih dulu bercerita lewat baunya.”
Jenaning tertawa. “Kalau begitu semua makanan cerewet, dong?”
Mbah Sriyati ikut tertawa. “Memang.”
“Termasuk sambal, Mbah?”
“Apalagi sambal.”
“Kalau sambal ngomong apa?”
Mbah Sriyati pura-pura berpikir. “Mungkin dia bilang jangan kebanyakan.”
“Mbah bohong.”
“Kenapa?”
“Soalnya Mbah yang selalu bikin banyak.”