Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #23

YANG MENGINTAI TANPA SUARA

Ada saat-saat ketika kehidupan tampak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi hati manusia diam-diam menangkap sesuatu yang tidak beres. Bukan melalui suara. Bukan melalui peristiwa besar. Melainkan melalui hal-hal kecil yang sulit dijelaskan.

Cara angin berembus.

Cara seekor burung mendadak terbang meninggalkan rantingnya.

Atau cara sebuah rumah yang telah dikenal selama bertahun-tahun tiba-tiba terasa sedikit berbeda.

Pagi itu, Pawon Sriyati membuka hari seperti biasanya.

Pintu kayu dibuka. Bangku-bangku diturunkan dari atas meja. Air direbus. Radio tua dinyalakan. Suara keroncong yang sedikit berdesis kembali memenuhi udara, bercampur dengan aroma kopi dan kayu bakar yang masih tertinggal dari dapur belakang.

Segalanya tampak sama.

Namun, sejak membuka mata, Jenaning merasa ada sesuatu yang mengganjal. Bukan sesuatu yang bisa ia tunjuk. Bukan pula sesuatu yang bisa ia ceritakan kepada orang lain. Hanya perasaan kecil yang terus mengikutinya ke mana pun ia bergerak. Seperti bayangan yang berjalan setengah langkah di belakang tubuhnya.

Ia sedang menyusun gelas-gelas kaca di rak depan ketika Pak Wiryo keluar membawa nampan berisi gorengan.

“Masih melamun?”

Jenaning tersentak kecil. “Hah?”

Pak Wiryo tersenyum tipis. “Sejak bangun tadi mukamu seperti orang yang lagi bingung bayar utangnya.”

“Nggak, kok. Aku biasa aja, Pak.”

“Nah, biasanya orang yang bilang biasa saja itu justru lagi ndak biasa."

Jenaning tertawa kecil. Namun, tawanya tidak bertahan lama.

Pak Wiryo memperhatikannya beberapa saat. “Lagi mikir simbol itu?”

Pertanyaan itu membuat Jenaning berhenti sejenak.

Simbol lima kelopak.

Titik di tengah.

Makna penjaga.

Percakapan dengan Sari kemarin sore.

Semua kembali muncul begitu saja.

“Mungkin.”

“Mungkin atau iya?”

“Iya.”

Pak Wiryo meletakkan nampan di meja. Lalu duduk di bangku bambu yang biasa ia tempati ketika warung belum ramai.

“Kalau boleh Pak Wiryo kasih tahu...”

Jenaning menoleh.

“...ndak semua pertanyaan harus dikejar setiap hari, Nduk.”

“Kalau pertanyaannya terus mengikuti?”

“Ya biarkan mengikuti.”

“Lho?”

Pak Wiryo terkekeh. “Kamu ini mirip sekali sama almarhumah ibumu.”

Jenaning terdiam. Pak Wiryo jarang menyebut ibunya secara tiba-tiba.

“Dulu ibumu juga begitu.”

“Seperti aku?”

Iyo.” Pak Wiryo menatap halaman. “Kalau sedang penasaran satu hal, dia bisa lupa makan.”

“Itu berlebihan.”

“Makanya ibumu sering dimarahi Mbah Sriyati.”

Jenaning tersenyum. Sulit membayangkan ibunya yang selama ini hanya hidup dalam kenangan orang-orang pernah duduk di tempat yang sama, berbicara tentang hal-hal yang sama, dan dimarahi karena alasan yang sama.

Pak Wiryo melanjutkan. “Dulu Mbahmu selalu bilang...” Beliau berhenti sebentar, seolah sedang mengingat kalimat yang tepat. “'Kalau hidupmu habis buat mengejar jawaban, nanti kamu lupa menikmati pertanyaannya.'”

Jenaning mengerutkan kening. “Kedengarannya memang seperti jawaban Mbah.”

“Memang.”

“Membingungkan, deh.”

Pak Wiryo tertawa pelan. “Itulah sebabnya kamu cucunya.”

Warung mulai menerima pelanggan pertama. Seorang petani datang membeli kopi. Seorang ibu memesan nasi bungkus. Seorang anak kecil mampir membeli kerupuk.

Pagi bergerak perlahan seperti biasanya. Namun, perasaan ganjil itu tidak juga pergi. Bahkan semakin siang, semakin jelas keberadaannya.

 

***

 

Menjelang matahari naik lebih tinggi, Jenaning membawa ember kecil ke halaman belakang. Ia hendak mengambil beberapa batang serai untuk dapur. Aktivitas yang sudah dilakukannya ratusan kali.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada alasan untuk mengingatnya. Tetapi justru di situlah semuanya bermula. Langkahnya melambat. Lalu berhenti. Di dekat pagar bambu, tidak jauh dari rumpun serai, ada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Awalnya ia mengira itu hanya tanah basah. Bekas hujan beberapa hari lalu. Namun, ketika mendekat, ia langsung tahu bahwa ia salah. Tanah itu menghitam. Tidak luas. Mungkin hanya sebesar dua telapak tangan orang dewasa.

Tetapi warna hitamnya terlalu pekat.

Terlalu asing.

Seolah ada sesuatu yang pernah terbakar di sana.

Jenaning berjongkok. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena takut. Melainkan karena rasa tidak cocok yang mendadak muncul.

Rumah ini dikenalnya hampir seumur hidup. Ia tahu letak pohon mangga. Ia tahu retakan di dinding pawon. Ia tahu bagian halaman mana yang becek setiap musim hujan. Karena itu ia juga tahu: bekas hangus ini tidak ada kemarin.

Tangannya hampir menyentuh tanah itu ketika matanya menangkap sesuatu yang lain.

Sepotong kain.

Terselip di antara rumput liar.

Sebagian tepinya gosong. Sebagian lagi masih utuh. Seolah api pernah berusaha menghabisinya tetapi berhenti sebelum selesai.

Bulu kuduknya meremang tipis. Bukan karena benda itu menyeramkan. Melainkan karena keberadaannya terasa terlalu disengaja.

“Ngapain kamu jongkok di situ?”

Suara Sari datang dari belakang.

Jenaning menoleh.

Sari membawa keranjang sayur dari dapur. Rambutnya masih diikat seadanya. Wajahnya belum sepenuhnya lepas dari kantuk. Namun, begitu melihat ekspresi Jenaning, langkahnya melambat.

“Ada apa, Ning?”

“Coba lihat ini, Sar.”

Sari mendekat. Lalu ikut berjongkok. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hanya ada desir daun pisang yang digerakkan angin. Dan suara radio tua dari warung yang terdengar samar sampai ke belakang rumah.

“Aku ndak suka ini.”

Jenaning mengangguk. “Aku juga.”

Sari menunjuk tanah hitam itu. “Ini baru, ‘kan?”

“Iya. Kayaknya.”

“Kamu lihat semalam?”

“Nggak.”

“Kemarin sore?”

“Nggak ada, Sar.”

Sari diam beberapa saat. Kemudian memungut sehelai rumput kering dan menggunakannya untuk membalik potongan kain tanpa menyentuh langsung.

“Menurutmu ini apa?”

“Mana aku tahu.”

“Bekas bakar sampah?”

“Sar, kalau cuma bakar sampah, kenapa di sini? Kamu, Banyu, Pak Wiryo atau aku, nggak pernah ada yang bakar sampah di sini.”

Sari menoleh. Pertanyaan itu masuk akal. Tempat itu bukan tempat biasa orang membakar apa pun. Terlalu dekat dengan pagar. Terlalu jauh dari dapur. Terlalu aneh. Sari mengamati area di sekitarnya. Lalu berbisik pelan.

“Ning.”

“Hm?”

“Kamu masih ingat semalam?”

Jenaning langsung mengerti maksudnya. Percakapan tentang simbol. Makna penjaga. Kegelisahan yang tidak selesai. Dan entah kenapa, semua itu tiba-tiba terasa lebih dekat daripada sebelumnya.

“Masih.”

“Jangan-jangan...”

Sari tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun, keduanya sama-sama memahami arah pikirannya.

Jenaning mengembuskan napas panjang.

“Aku nggak mau langsung menyimpulkan.”

“Ya, aku juga.”

“Tapi aku juga nggak bisa pura-pura ini biasa saja.”

Sari mengangguk pelan. “Ya, aku juga.”

Beberapa saat mereka hanya memandangi tanah hitam itu. Seolah berharap benda-benda di hadapan mereka tiba-tiba menjelaskan dirinya sendiri.

Tentu saja tidak terjadi. Karena misteri yang paling menyusahkan selalu datang tanpa petunjuk yang cukup.

Lalu diam.

Menunggu manusia menyusunnya sendiri.

 

***

 

Kabar tentang tanah hangus itu tidak langsung dibicarakan kepada Pak Wiryo.

Bukan karena Jenaning dan Sari ingin menyembunyikannya. Mereka hanya belum tahu apa yang sebenarnya mereka temukan.

Terlalu cepat bercerita tentang sesuatu yang belum dipahami sering kali hanya menghasilkan kepanikan yang tidak perlu. Maka untuk sementara, mereka memilih diam.

Setidaknya sampai ada hal lain yang bisa menjelaskan bekas hitam itu. Namun, diam ternyata tidak membuat kegelisahan ikut diam.

Ia justru tumbuh.

Pelan.

Nyaris tanpa suara.

Seperti akar yang menyusup ke bawah lantai rumah.

 

***

 

Menjelang siang, pawon kembali sibuk. Banyu berdiri di depan tungku sambil mengaduk santan dalam panci besar. Uap hangat naik perlahan, memenuhi ruangan dengan aroma gurih yang akrab.

Di sudut lain, Sari sedang memotong kacang panjang. Sementara Jenaning membersihkan daun-daun kemangi yang baru dipetik dari halaman.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Hanya suara pisau yang beradu dengan talenan. Suara santan yang sesekali bergolak pelan. Dan suara radio dari warung depan yang terdengar samar.

Akhirnya Sari meletakkan pisau.

Ndak tahan.”

Banyu mengangkat kepala.

“Apanya?”

“Aku ndak tahan pura-pura biasa.”

“Sejak kapan kamu bisa pura-pura biasa?”

Sari melotot.

Banyu langsung mengangkat kedua tangan. “Iyo, iyo. Aku diem.”

“Tahu gitu ndak usah dikasih tahu apa-apa.”

Jenaning tersenyum tipis. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Karena pikiran mereka bertiga kembali menuju tempat yang sama: Tanah hitam di belakang rumah. Potongan kain yang gosong. Dan perasaan aneh yang belum menemukan nama.

Sari menatap Banyu. “Kamu nanti lihat sebentar ya.”

“Lihat apa?”

“Yang di belakang.”

“Ular?”

“Bukan.’Kan tadi udah diceritain, toh.”

“Iya, tapi kalau bukan ular berarti nggak menarik.”

Jenaning melempar daun kemangi ke arahnya.

Banyu tertawa. Namun, ketika melihat wajah kedua perempuan itu tidak ikut tertawa, senyumnya perlahan menghilang.

“Oh.”

“Nah.”

“Oh.”

“Iya, oh.”

Banyu meletakkan sendok kayunya. “Kalian serius?”

“Sangat.”

Lantas mereka bertiga bergegas ke halaman belakang. Di sana mereka berdiri membentuk lingkaran.

Matahari sudah lebih tinggi. Cahaya siang jatuh terang di atas tanah. Namun, bekas hangus itu tetap tampak mencolok. Seolah warna hitamnya menolak larut ke dalam warna-warna lain.

Banyu berjongkok. Tidak langsung menyentuh apa pun. Ia hanya memperhatikan.

Lama.

Lebih lama daripada yang diperkirakan Jenaning.

“Gimana menurutmu?”

Banyu tidak menjawab. Tangannya mengambil ranting kecil. Mengorek sedikit bagian pinggir tanah. Lalu mengendus ujung ranting itu.

Sari mengernyit. “Kamu lagi ngapain?”

“Aku lagi mikir.”

“Nah, ‘kan… sekarang kamu yang mikir.”

“Diam dulu.”

Sari mendecak. Namun, kali ini ia menurut.

Banyu kembali mengamati tanah itu. Kemudian memungut sedikit serpihan hitam. Menggosoknya di antara jari. Alisnya perlahan berkerut.

“Aneh.”

Jantung Jenaning langsung menegang. “Aneh bagaimana?”

“Ini jelas bukan bekas kayu dapur.”

“Kamu yakin, Nyu?”

“Kalau kayu dapur aku hafal betul baunya.”

Sari menyilangkan tangan. “Memangnya semua kayu punya bau berbeda?”

Iyo.”

“Serius?”

Banyu menatapnya seolah baru mendengar pertanyaan paling aneh hari itu. “Tentu saja.”

Sari memandang Jenaning. “Ning, aku baru tahu.”

“Aku juga.”

Banyu mendesah panjang. “Kalian ini hidup di pawon bertahun-tahun.”

“Makanya jelaskan.”

Banyu kembali melihat tanah itu. “Kalau kayu bakar biasa, baunya beda.”

“Ya terus?”

“Ini panasnya terlalu tinggi.”

Jenaning dan Sari saling berpandangan.

“Maksudmu?”

Banyu mencari kata yang tepat. Ia bukan orang yang terbiasa menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar. Namun, kali ini ia berusaha.

“Kalau api dapur, nyalanya hidup lama.”

“Kalau ini?”

“Kalau ini...” Banyu menunjuk tanah hitam itu. “...sepertinya nyala apinya besar, tapi sebentar.”

Sari mengernyit. “Memangnya bisa tahu dari tanah?”

“Bisa sedikit.”

“Sedikit atau yakin, Nyu?”

“Ya nggak seratus persen juga.” Banyu mengusap tengkuknya. “Tapi rasanya seperti orang yang sengaja membakar sesuatu.”

Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat.

“Sesuatu?” tanya Jenaning.

Banyu mengangguk. “Bukan sekadar nyalain api.”

“Lalu apa?”

“Seperti...” Banyu berhenti. Mencari kata yang pas. “...seperti orang yang ingin menghilangkan sesuatu, Ning.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Seekor capung melintas rendah di atas rerumputan. Angin bergerak pelan. Namun, ketenangan halaman tiba-tiba terasa tipis. Seolah bisa robek kapan saja.

 

***

 

“Terus kain itu?”

Banyu menoleh.

Sari menunjuk potongan kain gosong yang tadi mereka temukan.

Banyu mengambilnya hati-hati. Membaliknya. Mengamati sisi yang masih utuh. Lalu wajahnya berubah. Tidak drastic, tetapi cukup untuk membuat Jenaning memperhatikannya.

Lihat selengkapnya