Pawon Sriyati tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika tidak ada pelanggan yang datang, tidak ada suara piring beradu, atau tidak ada asap yang mengepul dari tungku, rumah itu tetap memiliki denyutnya sendiri. Seperti tubuh tua yang telah terlalu lama hidup bersama banyak kisah sehingga kesunyian pun terdengar seperti percakapan.
Beberapa hari telah berlalu sejak ditemukannya tanah hangus di halaman belakang. Tidak ada kejadian baru. Tidak ada orang asing yang datang lagi. Tidak ada pesan lain. Tidak ada jejak mencurigakan.
Segalanya kembali berjalan seperti biasa.
Justru itulah yang membuat Jenaning merasa gelisah. Sebab hidup sering kali paling berbahaya ketika ia tampak tenang.
Warung kembali ramai menjelang siang.
Pak Wiryo sibuk menata toples kerupuk di rak depan. Sari melayani pembeli yang datang silih berganti. Banyu keluar masuk pawon sambil membawa bahan makanan dan sesekali bercanda dengan pelanggan tetap.
Suasana itu seharusnya menenangkan. Namun, pikiran Jenaning justru berkeliaran ke tempat lain. Beberapa kali tangannya berhenti ketika sedang mengiris bawang. Beberapa kali ia kehilangan fokus ketika menakar santan. Dan beberapa kali pula ia mendapati dirinya menatap layar ponsel lebih lama daripada yang seharusnya.
Awalnya ia hanya membuka galeri foto. Lalu menemukan beberapa foto lama. Foto makanan. Foto perjalanan kuliner. Foto-foto yang pernah menjadi bagian dari hidupnya ketika ia masih tinggal di kota.
Ketika ia masih aktif mengunggah video. Ketika ribuan orang menunggu unggahan berikutnya. Ketika nama Jenaning Tyas lebih dikenal sebagai kreator kuliner daripada cucu Mbah Sriyati.
Jarinya bergerak sendiri. Membuka aplikasi yang sudah lama tidak ia sentuh.
Layar kanal YouTube miliknya muncul.
Masih sama. Masih ada. Masih hidup. Jumlah pelanggan tidak berkurang banyak. Bahkan beberapa video lama masih terus mendapatkan komentar.
Jenaning membaca satu per satu.
“Kak Jenaning kapan balik upload?”
“Saya kangen cerita-cerita fusion food-nya kakak.”
“Resep kakak yang dari nenek itu masih saya masak sampai sekarang.”
“Semoga sehat selalu, Kak Jen.”
Ia tidak sadar berapa lama duduk memandangi layar. Sampai suara Sari membuatnya mengangkat kepala.
“Kamu ngapain, Ning?”
Spontan Jenaning mematikan layar.
“Nggak apa-apa.”
Sari langsung menyipitkan mata. “Kalau memang ndak apa-apa, kenapa langsung ditutup gitu?”
“Apanya? Nggak ditutup, kok.”
“Aku ini memang orang desa, tapi aku nggak buta, Ning.”
Jenaning mendesah, lalu Sari duduk di bangku sebelahnya.
“Apa yang mengganggumu?”
“YouTube. Channel YouTube-ku.”
“Oh.”
Jawaban itu terlalu pendek. Terlalu datar. Dan justru karena terlalu datar, Jenaning tahu Sari sedang berpikir.
“Kamu buka channel-mu karena mau bikin bahan baru?”
“Enggak. Cuma lihat-lihat.”
“Lihat-lihat itu sering jadi awal masalah.”
Jenaning tertawa kecil. “Masak lihat channel sendiri bisa jadi masalah?”
“Bukan channel-nya.”
“Ya terus?”
Sari mengambil cabai dari tampah di depannya. “Maksudku, kadang masalah tuh muncul waktu kita mulai melihat sesuatu yang sudah lama kita tinggalkan.”
Jenaning diam.
Sari melanjutkan pekerjaannya. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang sengaja memberi ruang bagi lawan bicaranya untuk berpikir.
“Aku cuma kangen aja,” kata Jenaning akhirnya.
“Kangen apa?”
“Masak.”
Sari mengangkat alis. “Kamu itu tiap hari masak, lho.”
“Bukan itu, Sar.”
“Lalu?”
Jenaning mencari kata-kata yang tepat.
Sulit.
Karena yang ia rindukan bukan sekadar memasak. Ia merindukan perasaan ketika sesuatu yang ia buat bisa sampai kepada banyak orang. Perasaan ketika resep yang ia bagikan dicoba oleh orang yang bahkan tidak pernah ia kenal. Perasaan ketika makanan menjadi jembatan.
“Aku kangen berbagi dengan mereka.”
Sari berhenti mengiris. Kalimat itu menggantung beberapa saat. Lalu ia bertanya pelan, “Berbagi dengan mereka atau kepengin dikenal sama mereka?”
Pertanyaan itu membuat Jenaning menoleh. “Apa maksud kamu, Sar?”
“Ya itu. Kamu tahu persis apa maksudku, Ning”
“Kamu pikir aku cuma pengin cari perhatian?”
“Aku sama sekali nggak pernah berpikir begitu tentangmu.”
“Terus?”
Sari tersenyum tipis. “Aku cuma mau bilang, kadang yang paling sulit dibedakan itu bukan niat baik dan niat buruk.”
Jenaning menunggu.
Sari menaruh pisau.
“Terus apa?”
“Yang paling sulit dibedakan itu niat baik dan keinginan pribadi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tidak keras.
Tidak menghakimi.
Namun, anehnya terasa lebih tajam daripada teguran.
***
Menjelang sore, warung mulai sepi. Matahari condong ke barat. Cahaya keemasan masuk melalui celah-celah dinding bambu dan jatuh di lantai seperti potongan kain tua yang dijemur waktu.
Pak Wiryo sedang menghitung hasil penjualan hari itu ketika melihat Jenaning duduk sendirian di bangku depan.
Ponselnya terbuka. Tatapannya jauh. Terlalu jauh untuk seseorang yang hanya sedang melihat layar.
Pak Wiryo tidak langsung mendekat. Ia menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu. Menata uang. Menutup buku catatan. Menggantung celemek. Baru setelah itu ia duduk di sebelah Jenaning.
Tidak bertanya. Tidak menyela. Hanya duduk.
Seperti biasa. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada percakapan yang tidak boleh dipaksa keluar.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Jenaning yang bicara lebih dulu.
“Pak.”
“Iya?”
“Bapak pernah ingin kembali ke masa lalu nggak?”
Pak Wiryo tertawa pelan. “Kalau orang seumur saya jawab ndak, berarti bohong.”
“Serius.”
“Bapak sangat serius.” Ia menatap halaman. “Ada banyak hal yang kadang ingin Bapak ulang.”
“Misalnya?”
Pak Wiryo berpikir sejenak. “Lihat ibumu waktu masih kecil.”
Jantung Jenaning berdenyut pelan. “Ibuku?”
Pak Wiryo mengangguk. “Dulu dia sering duduk di tempat kamu duduk sekarang.”
Jenaning tersenyum tipis. “Ibu suka masak juga, Pak?”
“Suka juga.”
“Sama seperti Mbah?”
Pak Wiryo tertawa kecil. “Ndak.”
“Lho?”
“Mbahmu memasak karena itu hidupnya.”
“Kalau Ibu?”
“Ibumu memasak karena dia mencintainya.”
Kalimat itu membuat Jenaning diam.
Pak Wiryo melanjutkan. “Ibumu berbeda.”
“Maksud Pak Wiryo?”