Kabut yang biasanya bertahan hingga lewat pukul tujuh pagi kini mulai cepat menghilang. Musim perlahan bergeser. Matahari datang lebih terang, sementara halaman Pawon Sriyati semakin sering dipenuhi suara orang-orang yang singgah untuk sarapan sebelum berangkat ke sawah atau pasar.
Di dapur belakang, suara ulekan bertemu cobek terdengar berirama. Tidak cepat. Tidak lambat. Seperti denyut yang sudah dikenal rumah itu sejak puluhan tahun lalu.
Jenaning duduk di bangku pendek dekat meja kayu. Tangannya sedang memetik daun kemangi yang baru dibawa dari kebun belakang. Sesekali ia mengangkat kepala. Melihat pelanggan datang. Melihat Sari melayani pesanan. Melihat Banyu keluar masuk pawon membawa panci.
Dan entah mengapa, pagi itu ia merasa semua berjalan terlalu tenang.
Tenang yang menyenangkan.
Tetapi juga sedikit menakutkan.
Karena hidup jarang memberi ketenangan panjang tanpa menyembunyikan sesuatu di baliknya.
Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Sekali.
Lalu dua kali.
Kemudian berkali-kali.
Jari Jenaning berhenti bergerak. Layar ponsel menyala. Puluhan notifikasi masuk hampir bersamaan: Pesan. Surel. Komentar. Panggilan tak terjawab.
Semuanya berasal dari dunia yang selama beberapa bulan terakhir nyaris tidak ia sentuh. Dunia yang pernah menjadi kehidupannya sehari-hari. Dunia yang dulu terasa sangat penting.
Jakarta.
Ia membuka salah satu pesan. Dari seorang editor yang pernah bekerja sama dengannya.
“Jen, kapan you balik bikin konten lagi?
Banyak yang nanya. Subscriber-mu masih aktif.”
Pesan lain muncul.
“Kita lagi nyusun serial dokumenter makanan tradisional. Kalau you berminat, kabari aja.”
Jenaning memandang layar cukup lama.
Sampai akhirnya suara Pak Wiryo terdengar dari belakang.
“Kalau dipelototi terus, tulisannya ndak bakal berubah, toh.”
Jenaning tersenyum kecil.
Pak Wiryo meletakkan keranjang berisi singkong di atas meja. “Kaget?”
“Sedikit.”
“Dari kota?”
“Iya, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk pelan. Seolah memang sudah menduga. “Orang kota itu lucu ya.”
“Kenapa?”
“Kalau dekat sering lupa.” Beliau mulai menyusun singkong satu per satu. “Kalau jauh baru kangen.”
Sari yang kebetulan lewat langsung menyahut. “Itu bukan orang kota, Pak. Itu namanya manusia.”
Pak Wiryo tertawa kecil. “Nah, berarti Bapak benar.”
Mereka bertiga ikut tertawa.
Namun, setelah tawa itu mereda, pesan-pesan di layar ponsel tetap ada.
Tidak ikut hilang.
Dan justru karena itulah mereka terasa semakin nyata.
***
Menjelang siang, Pawon Sriyati semakin ramai. Beberapa pelanggan datang dari desa sebelah.
Sebagian karena mendengar cerita tentang Sega liwet buatan rumah itu. Sebagian lagi hanya karena kebetulan lewat.
Namun dari semua kesibukan itu, pikiran Jenaning beberapa kali kembali kepada ponselnya. Kembali kepada pesan-pesan yang belum ia jawab.
Dulu, hidupnya dipenuhi jadwal. Menuliss. Syuting. Mengedit. Mengunggah video. Berpindah dari satu kota ke kota lain demi mencari cerita makanan.
Saat itu semuanya terasa penting. Mendesak. Tidak bisa ditunda.
Tetapi sekarang, berdiri di depan tungku yang hangat oleh kayu bakar, semua itu terasa seperti kehidupan orang lain.
“Masih kepikiran ya?”
Suara Sari muncul di sampingnya.
Jenaning tidak perlu bertanya apa yang dimaksud. “Hm.”
“Mau balik?”
Pertanyaan itu datang sederhana. Namun, jawabannya tidak sesederhana itu.
“Balik ke mana?”
“Ke tempat kamu pernah kabur dari semua ini.”
“Aku nggak pernah kabur. Merantau. Beda, Sar.”
“Oh, mungkin ingatanku yang salah mengerti. Soalnya seingatku, kamu ndak pernah pamit sama siapa-siapa.”
“Sari…”
Sari mengambil kursi lalu duduk. “Kamu kangen sama kehidupanmu di sana?”
Jenaning diam cukup lama.
“Kadang.”
“Terus?”
“Tapi aku juga nggak kangen.”