Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #26

DATANG DAN TUMBUH

Pawon Sriyati mulai dikenal orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal Mbah Sriyati. Perubahan itu tidak terjadi sekaligus. Tidak ada satu hari tertentu yang bisa ditunjuk sebagai awalnya.

Itu tumbuh perlahan. Seperti tanaman liar yang diam-diam merambat di pagar, lalu suatu pagi seseorang baru menyadari bahwa seluruh dinding telah ditutupi sulurnya.

Beberapa minggu terakhir, jumlah pengunjung yang datang ke Pawon Sriyati semakin bertambah. Sebagian besar memang tetap warga sekitar: petani, pedagang, guru sekolah, pengendara yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

Namun, sesekali muncul wajah-wajah yang tidak dikenali. Orang-orang yang bertanya terlalu banyak. Orang-orang yang memperhatikan terlalu lama. Orang-orang yang tampak datang bukan semata-mata untuk makan.

Jenaning mulai menyadari perbedaan itu. Mungkin karena akhir-akhir ini ia menjadi lebih peka. Atau mungkin karena hidup memang sedang berusaha mengajarinya untuk memperhatikan.

Pagi itu, matahari baru naik beberapa tombak ketika suara kendaraan berhenti di depan halaman. Bukan motor. Bukan mobil. Melainkan sebuah minibus tua berwarna abu-abu yang catnya mulai memudar di beberapa bagian.

Dari dalamnya turun tiga orang. Dua wanita setengah baya, dan seorang wanita tua yang usianya mungkin mendekati delapan puluh. Tubuhnya kecil. Langkahnya pelan.

Namun, ada sesuatu pada sorot matanya yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Mata yang terlalu hidup untuk usia setua itu. Mata yang tampak terbiasa mengamati lebih banyak daripada berbicara.

Perempuan tua itu berhenti sejenak di depan papan kayu bertuliskan:

PAWON SRIYATI

Ia membacanya lama.

Sangat lama.

Seolah bukan sedang membaca nama sebuah warung, melainkan sedang memastikan sesuatu. Lalu ia tersenyum kecil. Senyum yang aneh. Tidak sepenuhnya bahagia. Tidak sepenuhnya sedih. Lebih mirip seseorang yang akhirnya menemukan alamat yang selama ini dicari.

 

***

 

Di dalam warung, Pak Wiryo sedang menyusun gelas. Sari sibuk melayani pembeli. Sementara Banyu baru saja mengangkat panci besar dari pawon belakang. Dan Jenaning sedang memotong daun bawang ketika wanita tua itu masuk.

“Selamat pagi,” sapa Sari.

“Pagi, Nduk.”

Suara itu lembut. Namun, memiliki ketegasan yang sulit dijelaskan. Seperti kain tua yang telah lama dipakai, tetapi belum kehilangan kekuatannya.

“Silakan duduk, Mbah.”

Wanita itu mengangguk, kemudian memilih duduk di dekat jendela. Bukan di meja paling nyaman. Bukan di tempat yang paling teduh. Melainkan di sudut yang memungkinkan ia melihat hampir seluruh ruangan.

Sebuah kebiasaan yang langsung ditangkap Jenaning. Orang yang suka mengamati biasanya memilih tempat seperti itu.

Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, sesekali matanya tetap melirik ke arah tamu tersebut.

Entah mengapa. Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Bukan mencurigakan.

Hanya seolah wanita itu datang membawa sesuatu yang belum terlihat.

“Yang paling sering dipesan apa, Nduk?”

Wanita tua itu bertanya kepada Sari.

Sega liwet, Mbah.”

“Masih dimasak pakai tungku?”

“Masih.”

“Bagus.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Terlalu mantap. Seolah ia memang berharap mendengar hal tersebut.

“Kalau begitu saya pesan sega liwet. Tiga ya.”

“Siap, Mbah.”

“Yang masak siapa?”

Pertanyaan itu membuat Sari tersenyum.

“Sekarang gantian, Mbah.”

“Gantian?”

“Kadang saya, kadang Banyu, kadang Jenaning.”

Wanita tua itu menoleh. Pandangannya langsung jatuh kepada Jenaning.

Untuk sesaat, dunia terasa melambat.

Tatapan mereka bertemu. Dan entah mengapa, Jenaning merasakan sesuatu yang aneh. Bukan ketakutan. Bukan pula ketidaknyamanan. Melainkan perasaan seperti sedang dikenali oleh seseorang yang belum pernah ia temui.

Wanita tua itu tersenyum.

“Yang itu cucunya Sriyati ya?”

Jantung Jenaning berdetak sedikit lebih keras.

Sari terlihat terkejut.

“Mbah, kenal Mbah Sriyati?”

“Sedikit.”

Sedikit.

Jawaban yang terlalu pendek untuk menjelaskan apa pun.

 

***

 

Ketika makanan akhirnya dihidangkan, wanita tua itu tidak langsung makan. Ia hanya memandangi nasi liwet di hadapannya.

Lama.

Sangat lama.

Seolah sedang mendengarkan sesuatu, atau mengingat sesuatu. Kemudian ia mengambil suapan pertama.

Perlahan. Tidak tergesa. Tidak berbicara. Tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Namun, beberapa detik kemudian, tangannya berhenti bergerak. Matanya menutup. Hanya sebentar. Lalu terbuka kembali. Dan sesuatu berubah di wajahnya. Sesuatu yang sangat halus. Namun, cukup jelas bagi orang yang memperhatikan.

Pak Wiryo memperhatikannya.

Jenaning juga.

“Bagaimana, Mbah?” tanya Sari.

Wanita tua itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu suapan lagi. Kemudian satu lagi. Baru setelah itu ia meletakkan sendok.

“Kalau yang ini, siapa yang masak?”

“Jenaning. Cucu kandungnya Mbah Sriyati.”

Wanita tua itu menoleh. Menatap Jenaning lagi. Kali ini lebih lama.

“Jenaning?” Jeda sebentar. “Sudah berapa lama belajar memasak, Nduk?”

“Kalau seriusnya... belum lama, Mbah.”

“Belum lama?”

Jenaning mengangguk.

Wanita tua itu tersenyum tipis. “Menarik.”

Banyu yang sejak tadi ikut mendengarkan mulai penasaran. “Menarik kenapa, Mbah?”

“Karena biasanya rasa yang seperti ini tidak muncul secepat itu.”

Warung mendadak terasa lebih sunyi. Tidak sepenuhnya. Tetapi cukup untuk membuat percakapan itu terdengar lebih jelas.

“Rasa seperti apa, Mbah?” tanya Jenaning.

Wanita tua itu memandang piringnya. Seolah sedang mencari kata yang tepat.

“Rasa yang tidak hanya datang dari tangan.”

Tidak ada yang menjawab.

“Kadang, orang itu belajar resep bertahun-tahun, tapi makanannya tetap terasa kosong.” Wanita tua itu tersenyum kecil. “Kadang, ada juga orang yang baru belajar sebentar, tetapi makanannya sudah membawa sesuatu.”

“Masakanku termasuk yang mana, Mbah?

“Yang nomor dua. Makananmu terasa membawa sesuatu.”

“Sesuatu apa?”

Wanita tua itu menatap Jenaning. Lalu menggeleng pelan.

Lihat selengkapnya