Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #27

YANG MENGINTAI TANPA SUARA

Pagi tidak datang dengan cara yang sama setiap hari. Ada kalanya ia lahir bersama embun dan suara burung yang riuh. Ada kalanya ia datang bersama kesibukan yang tergesa-gesa. Namun, ada pula pagi yang turun seperti seseorang yang memilih duduk diam di beranda, membiarkan dunia bergerak lebih dahulu sebelum ikut berbicara.

Hari itu termasuk yang terakhir.

Di halaman Pawon Sriyati, cahaya matahari jatuh melalui sela-sela daun kenanga dan membentuk bercak-bercak keemasan di tanah. Udara masih menyimpan sisa kesejukan malam. Aroma kayu bakar dari pawon bercampur dengan wangi daun pisang yang baru dipetik.

Warung sudah buka sejak subuh.

Pak Wiryo sedang menyusun gelas-gelas teh di rak kayu. Sari menyiapkan pesanan pelanggan yang datang lebih awal. Banyu membantu memindahkan karung beras ke gudang belakang sambil sesekali bersiul mengikuti lagu dari radio tua yang tergantung di dekat pintu.

Semuanya tampak biasa. Terlalu biasa.

Dan justru itulah yang membuat Jenaning merasa aneh. Ia duduk di dekat jendela pawon dengan secangkir teh hangat di tangan. Di pangkuannya terletak buku catatan yang biasa ia gunakan untuk menulis ide-ide konten.

Sudah beberapa bulan buku itu kosong. Tidak ada daftar lokasi kuliner. Tidak ada rencana pengambilan gambar. Tidak ada sketsa naskah untuk video berikutnya. Padahal selama bertahun-tahun, buku itulah yang selalu menjadi benda pertama yang ia buka setiap pagi.

Jemarinya membolak-balik halaman kosong.

Lalu berhenti.

Di salah satu halaman lama, tertulis sebuah kalimat yang pernah ia catat berbulan-bulan lalu.

Makanan bukan hanya soal rasa. Makanan adalah cara keluarga mengingat.

Ia membaca kalimat itu pelan.

Sekali.

Lalu sekali lagi.

Entah mengapa, kalimat yang dulu terasa sederhana kini terdengar berbeda. Karena sekarang ia tahu bahwa mengingat ternyata tidak sesederhana menyimpan cerita. Kadang-kadang seseorang harus memilih apa yang perlu diingat dan apa yang harus tetap dibiarkan tidur.

“Ning.”

Suara Sari membuatnya mengangkat kepala.

“Hm?”

“Kamu dari tadi lihat itu terus. Ada apa?”

“Nggak apa-apa. Aku lagi mikir aja, Sar.”

Sari tertawa kecil. “Kalau aku dapat seratus ribu setiap kali kamu bilang lagi mikir, mungkin sekarang aku sudah kaya.”

“Aku serius, Sar.”

“Memang. Kamu terlalu serius sampai-sampai lupa gimana caranya sesekali mentertawakan hidup.”

Sari duduk di bangku sebelahnya. Beberapa saat mereka hanya mendengar suara pelanggan yang mengobrol di depan warung. Lalu Sari melirik buku catatan di pangkuannya.

“Ini bukan kali pertama aku memergoki kamu kangen sama kerjaanmu lho, Ning.”

Pernyataan itu datang begitu saja. Namun, tepat mengenai sesuatu yang selama ini tidak ingin diakui Jenaning.

Jenaning diam beberapa saat.

“Kangen itu bukan kata yang tepat.”

“Kamu harus lebih jujur sama dirimu.”

“Jujur?”

Sari mengangguk.

“Jujur aku bingung, sih.”

“Bingung?”

Jenaning mengembuskan napas perlahan. “Aku nggak tahu apakah aku harus balik ke kehidupan yang lama atau nggak. Aku bingung, Sar.”

Sari tidak langsung menjawab. Ia membiarkan sahabatnya melanjutkan sendiri.

“Dulu semuanya sederhana.”

“Itu menurutmu.”

“Iya, menurutku.”

“Apa yang sederhana?”

Freelance jadi penulis. Bikin konten. Datang ke tempat baru. Makan. Cerita. Rekam video. Upload.”

“Terus?”

“Terus selesai gitu aja.”

Sari mengangguk pelan. “Sekarang?”

Jenaning menoleh ke arah pawon. Ke arah lemari kayu tempat Serat Rasa disimpan.

“Sekarang nggak sesederhana itu lagi.”

 

***

 

Percakapan Jenaning dan Sari terputus ketika seorang pelanggan tua memasuki warung. Pria itu berjalan perlahan menggunakan tongkat bambu. Tubuhnya kurus. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun, matanya masih tajam.

Pak Wiryo yang sedang menyusun piring langsung tersenyum.

“Lho, Pak Kasan.”

“Masih hidup ternyata kamu, Yo.”

“Kalau saya mati siapa yang mau bayar utang bapak?”

Pak Kasan terkekeh. “Kurang ajar.”

Mereka tertawa. Tawa yang hanya bisa lahir dari persahabatan puluhan tahun.

Pak Kasan duduk di bangku dekat jendela. Matanya berkeliling ruangan. Lalu berhenti pada Jenaning.

“Jenaning?”

“Iya, Pak?”

“Kamu makin mirip ibumu.”

Kalimat itu membuat Jenaning tersenyum kecil. Sudah banyak orang mengatakan hal yang sama. Namun, setiap kali mendengarnya, tetap ada sesuatu yang bergerak di dalam dada.

“Masa, Pak?”

“Bukan mukanya.”

“Huh?”

“Cara duduknya.” Pak Kasan menunjuk buku catatan di pangkuannya. “Ibumu dulu kalau sedang mikir juga begitu. Bahkan Mbahmu juga begitu.”

Sari langsung tertawa. “Nah, ‘kan.”

“Diam, Sar.”

“Berarti memang turunan. Tiga generasi.”

Pak Kasan ikut tertawa. Kemudian wajahnya perlahan berubah lebih lembut.

“Bapakmu juga begitu.”

Kali ini Jenaning benar-benar terdiam. Ayahnya jarang disebut orang. Terlalu jarang. Bukan karena tidak dicintai. Melainkan karena waktu telah membuat banyak orang lebih sering mengingat yang masih hidup daripada yang telah pergi.

“Ayah?”

Pak Kasan mengangguk. “Kalau sudah pegang buku, dunia runtuh pun dia belum tentu sadar.”

Jenaning tersenyum. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul. Seolah seseorang baru saja membuka jendela menuju masa lalu yang tidak pernah sempat ia lihat.

 

***

 

Menjelang siang, pelanggan mulai berkurang.

Pak Kasan masih duduk di tempatnya. Tehnya sudah habis sejak lama. Namun, ia tampaknya menikmati duduk di sana. Memandangi orang-orang datang dan pergi. Mendengarkan radio tua. Menyaksikan Pawon Sriyati bernapas seperti dahulu.

“Aneh yo,” katanya tiba-tiba.

“Kenapa, Pak?” tanya Jenaning.

“Dulu orang datang ke sini cuma buat makan.”

“Sekarang?”

Pak Kasan melirik sekeliling. “Sekarang orang datang juga buat mengingat.”

Kalimat itu membuat Jenaning terdiam.

Pak Kasan menatap halaman. “Rumah ini menyimpan terlalu banyak cerita.”

“Cerita Mbah Sriyati?”

“Bukan cuma Sriyati.”

“Terus?”

Lihat selengkapnya