Pawon Sriyati belum benar-benar ramai ketika Jenaning mulai menata kameranya. Pagi masih menggantung rendah di atas sawah. Cahaya matahari baru merayap melewati sela-sela daun pisang di belakang rumah. Udara membawa aroma tanah yang semalam diguyur hujan tipis.
Dari warung depan terdengar suara sendok beradu dengan gelas, diselingi sapaan pelanggan yang datang membeli sarapan sebelum berangkat ke sawah atau pasar.
Semuanya berjalan seperti biasa.
Terlalu biasa.
Dan justru karena itulah Jenaning merasa gelisah.
Kamera kecil yang biasa ia gunakan untuk membuat konten kuliner berdiri di atas tripod sederhana. Di depannya, meja kayu tua telah ia rapikan. Beberapa peralatan dapur peninggalan Mbah Sriyati sengaja ia susun di sana: Cobek batu. Centong kayu. Kukusan bambu. Serta sebuah kain lurik yang sudah mulai memudar warnanya.
Ia menatap layar kamera.
Lama.
Tidak menekan tombol rekam. Tidak juga mematikannya. Hanya memandang. Seolah sedang menunggu seseorang berbicara lebih dulu.
“Belum mulai juga?”
Suara Sari muncul dari belakang.
Jenaning menoleh.
Sari membawa dua gelas teh panas. Sama seperti kebiasaannya beberapa bulan terakhir.
“Aku masih mikir-mikir, Sar.”
“Kalau dipikir terus, nanti kameranya pensiun duluan sebelum kamu selesai mikir.”
Jenaning tersenyum kecil.
Sari meletakkan gelas di meja. “Lagian ini cuma video kegiatan kamu di pawon, ‘kan?”
“Nah… justru itu. Cuma video. Makanya aku takut.”
Sari mengangkat alis. “Takut kenapa?”
Jenaning tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali jatuh ke arah kamera. Dulu semuanya terasa sederhana. Ia datang ke desa karena lelah. Lalu menemukan kembali Pawon Sriyati.
Kemudian muncul gagasan untuk membuat dokumentasi tentang warung kecil itu. Tentang Mbah Sriyati. Tentang masakan Jawa. Tentang perempuan-perempuan yang menjaga dapur. Tentang kenangan. Tentang rumah. Awalnya sesederhana itu.
Namun, setelah Serat Rasa muncul, setelah simbol-simbol mulai membuka lapisan demi lapisan cerita, setelah foto-foto lama dan catatan-catatan tua mulai berbicara dengan caranya sendiri, semuanya tidak lagi terasa sederhana.
“Aku takut, Sar. Takut kalau ternyata aku cuma tahu setengah cerita.”
Sari diam.
“Dan aku lebih takut karena… setengah cerita sering lebih berbahaya daripada satu kebohongan.”
Kalimat itu keluar pelan dari mulut Jenaning. Nyaris seperti gumaman.
Sari memandang sahabatnya beberapa saat. Lalu duduk di sampingnya.
“Kamu masih kepikiran sama foto Mbah Sriyati di kotak kayu itu, ya?”
Jenaning mengangguk.
Tidak perlu bertanya foto yang mana. Mereka berdua tahu. Foto yang ditemukan di dasar kotak kayu peninggalan Mbah Sriyati.
Foto yang sejak beberapa minggu terakhir terus menghantui pikirannya.
Foto yang membuatnya sadar bahwa selama ini ia mungkin hanya mengenal sebagian kecil dari kehidupan neneknya.
Di luar rumah, suara radio tua mulai terdengar dari warung depan. Lagu lama mengalun pelan.
Pak Wiryo sedang melayani pelanggan pertama hari itu.
Sementara di dalam pawon, Jenaning masih belum sanggup menekan tombol rekam.
***
Menjelang siang, warung mulai sepi. Pak Wiryo sibuk mencatat belanja mingguan. Banyu pergi membeli beras ke pasar. Sari membantu membereskan meja.
Dan Jenaning akhirnya menyerah pada rasa penasaran yang sejak pagi mengganggunya. Ia mengeluarkan foto tua itu. Foto yang sama. Foto Mbah Sriyati muda. Foto yang selama ini hanya mereka lihat sekilas.
Jenaning meletakkannya di atas meja, lalu mengambil ponselnya.
“Kamu mau apa, Ning?” tanya Sari.
“Aku mau memindainya, Sar.”
“Memangnya bisa?”
“Bisa.”
“Tapi, kenapa, Ning?”
“Karena mungkin kita selama ini cuma melihat permukaannya aja.”
Sari tidak membantah. Karena diam-diam ia juga memiliki perasaan yang sama. Foto itu sudah berkali-kali mereka lihat. Namun, selalu ada kesan bahwa sesuatu masih tersembunyi di dalamnya. Sesuatu yang belum berhasil ditangkap mata.
Jenaning mulai memotret foto tersebut dengan resolusi tinggi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu memindahkannya ke laptop. Layar menyala. Gambar tua itu muncul lebih besar dari sebelumnya.
Mereka berdua mendekat. Awalnya tidak ada yang berbeda. Masih foto yang sama. Masih wajah muda Mbah Sriyati. Masih sosok samar di belakangnya. Masih noda-noda usia yang menggerogoti tepi kertas.
Namun, ketika Jenaning memperbesar bagian sudut bawah foto, ia mendadak berhenti.
“Tunggu, deh.”
Sari ikut mencondongkan tubuh. “Ada apa?”
Jenaning tidak langsung menjawab. Kursor bergerak perlahan. Memperbesar gambar.
Sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Di sudut yang selama ini terlihat seperti noda biasa, muncul sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Dua huruf. Samar. Nyaris hilang. Namun, tetap ada.
T.W.
Mereka berdua membeku.
“T.W.?”
Sari membaca pelan.
Jenaning mengangguk perlahan. “Kayaknya.”
“Nama orang?”
“Mungkin.”
“Atau nama tempat?”
“Mungkin juga.”
Mereka saling berpandangan. Tidak ada yang tahu.
Namun, satu hal pasti: Dua huruf itu tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Dan tiba-tiba foto tersebut terasa jauh lebih hidup.
Jauh lebih penting.
Jauh lebih berbahaya.
Penemuan berikutnya muncul beberapa menit kemudian. Kali ini di bagian belakang foto.
Setelah kontras dan pencahayaan diubah beberapa kali, sebagian tulisan yang sebelumnya tidak terbaca mulai muncul sedikit demi sedikit.
Masih tidak utuh. Masih terpotong. Namun, cukup untuk membuat mereka terdiam.
“...1925...”
Angka itu terlihat lebih jelas daripada yang lain.
Sari langsung menelan ludah. “Dua puluh lima. Waktu itu cuma kelihatan angka yang mirip kayak 25, sekarang kelihatan jelas. Lengkap. 1925.”
Jenaning mengangguk.