Perjalanan turun dari Gunung Kenanga berlangsung jauh lebih sunyi dibanding perjalanan ketika mereka naik. Mobil bak terbuka yang mereka tumpangi melaju pelan melewati jalan berbatu yang membelah lereng.
Angin sore bertiup dari sela-sela pepohonan pinus. Kabut tipis mulai turun dari punggung bukit. Namun, tak satu pun dari mereka benar-benar menikmati pemandangan.
Ucapan Pak Gondho masih menggantung di kepala masing-masing.
“Ada nama yang seharusnya tetap tidur.”
Kalimat itu pendek.
Tetapi justru karena pendek, ia terasa semakin berat. Seolah setiap kata menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.
Mereka bertiga duduk di bak belakang. Jenaning duduk di samping Banyu sambil memeluk map berisi foto tua itu. Tangannya tidak bergerak. Matanya memandang jalan. Namun, pikirannya berada jauh di tempat lain.
Beberapa kali ia mencoba menafsirkan maksud Pak Gondho. Namun, setiap kali sampai pada sebuah kemungkinan, pikirannya kembali mentok.
Pak Gondho tidak takut pada foto itu.
Pak Gondho juga tidak takut pada simbol lima kelopak.
Yang ditakuti lelaki tua itu adalah nama.
Seseorang.
Sosok yang bahkan belum mereka kenal.
Dan itulah yang justru membuat semuanya terasa lebih mengganggu. Karena bagaimana mungkin seseorang yang nyaris hilang dari sejarah masih bisa membuat orang lain takut membicarakannya?
Sari memecah kesunyian ketika mereka berhenti di sebuah warung kecil dekat kaki gunung.
“Aku masih nggak suka cara Pak Gondho lihat foto itu.”
Banyu menoleh. “Yang mana?”
“Waktu lihat bagian belakang foto.”
Jenaning mengangkat kepala. “Aku juga lihat.”
“Pak Gondho bukan cuma kaget, Ning.”
“Terus?”
“Beliau kenal orang di foto itu.”
Banyu mengangguk pelan. “Aku juga mikir begitu.”
Jenaning diam. Karena sebenarnya ia memiliki perasaan yang sama.
Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya: Pak Gondho tidak tampak seperti seseorang yang menemukan rahasia, melainkan seperti seseorang yang menemukan kembali kenangan lama yang ingin ia lupakan.
Dan itu berbeda.
Sangat berbeda.
***
Menjelang magrib mereka tiba kembali di Pawon Sriyati.
Warung sudah hampir tutup.
Pak Wiryo sedang menyusun kursi. Radio tua menggantung seperti biasa di dekat rak bumbu. Suara tembang Jawa mengalun pelan.
Semuanya tampak normal.
Terlalu normal.
Seolah tidak ada apa-apa yang berubah.
Padahal bagi Jenaning, rasanya dunia baru saja bergeser beberapa inci dari tempatnya semula.
“Akhirnya kalian pulang juga.”
Pak Wiryo menatap mereka satu per satu.
“Kalian kayak habis pulang dari pemakaman.”
“Ndak jauh beda rasanya, Pak,” gumam Sari.
Pak Wiryo mengernyit. Namun, tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah cukup lama hidup bersama orang-orang yang sedang menyimpan pikiran.
Kadang pertanyaan tidak membantu.
***
Malam itu mereka kembali membuka foto lama tersebut. Meja panjang di pawon dipenuhi berbagai benda.
Foto asli.
Kaca pembesar.
Laptop.
Lampu belajar.
Beberapa lembar catatan.
Sari bahkan membawa penggaris dan pensil warna seperti mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir.
“Kita mulai dari awal.”
Banyu duduk sambil menyandarkan punggung ke tiang kayu. “Dari mana?”
“Dari foto.”
“Kan dari kemarin juga dari foto, Sar.”
Sari menatapnya tajam. “Makanya jangan cuma lihat orangnya.”
“Lha, lalu lihat apa?”
“Semuanya.”
Mereka mulai memindai ulang foto dengan resolusi yang lebih tinggi.
Jenaning memperbesar gambar sedikit demi sedikit. Awalnya tidak ada yang aneh. Tetap Mbah Sriyati muda. Tetap sosok samar di belakang. Tetap tungku besar. Tetap dapur.
Namun, semakin diperbesar, semakin banyak detail kecil yang muncul.
Dan justru detail-detail kecil itulah yang mulai merusak asumsi mereka selama ini.
Sari tiba-tiba mendekat.
“Tunggu.”
“Kenapa?”
“Coba perbesar bagian ini, Ning.”
Jenaning mengikuti arah jarinya. Sudut kiri foto. Dekat dinding. Tidak mencolok. Hanya bagian latar.
Namun, setelah diperbesar beberapa kali, sesuatu mulai terlihat. Bukan benda. Melainkan bentuk bangunan.
Sari mengerutkan dahi.
Lama.
Sangat lama.
Lalu perlahan ia menggeleng, “Ndak mungkin.”
“Apa, Sar?”
“Itu bukan Pawon Sriyati. Bukan di sini, Ning. Bukan rumah ini.”
Sunyi.
Jenaning menoleh. “Masa, sih?”
Sari menunjuk layar. “Lihat dindingnya.”
Mereka memperhatikan lebih saksama.
Dan benar.
Dinding dalam foto tidak sama dengan bangunan Pawon Sriyati. Terlalu tinggi. Terlalu rapi. Strukturnya berbeda.
“Mungkin… Mbah pernah renovasi rumah ini, makanya kelihatan beda.”
Sari langsung menggeleng. “Ndak, Ning.”
“Kok, kamu bisa yakin banget?” tanya Banyu.
“Karena jendelanya.” Ia menunjuk bagian lain. “Rumah Jawa biasa nggak pakai susunan seperti itu.”
Jenaning mulai merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Pelan.
Namun, pasti.
“Jadi?”
Sari menelan ludah. “Foto ini diambil di tempat lain.”
Tidak ada yang langsung berbicara. Karena implikasinya terlalu besar.
Selama ini mereka mengira foto itu adalah foto Mbah Sriyati di rumah keluarga. Di Pawon Sriyati. Di tempat yang sama dengan tempat mereka tinggal sekarang.
Namun, jika Sari benar, maka mereka selama ini memulai penyelidikan dari asumsi yang salah.
Dan jika lokasi foto salah, maka semua pertanyaan harus dimulai ulang.
***
Banyu yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
“Lihat sini.”
Ia menunjuk bagian bawah foto. Tepat di depan tungku.
“Menurut kalian ini apa?”
Jenaning memperbesar gambar. Awalnya tidak jelas. Namun, setelah beberapa kali diperbesar, bentuknya mulai terlihat.
Susunan batu.
Lubang udara.
Dan posisi tungku yang tidak biasa.
Sari mengernyit. “Apa?”