Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #30

API YANG DITAHAN

Ada malam-malam ketika rasa ingin tahu tidak membuat seseorang bergerak maju. Justru membuatnya diam.

Diam terlalu lama.

Diam sampai suara jangkrik terdengar lebih keras daripada pikirannya sendiri.

Diam sampai udara yang keluar masuk paru-parunya terasa seperti sesuatu yang harus ia hitung satu per satu agar tidak kehilangan kendali.

Malam itu menjadi salah satunya. Pawon Sriyati telah lama gelap. Lampu-lampu warung dimatikan lebih awal. Sari sudah masuk ke kamar tamu. Banyu pulang sebelum Isya setelah membantu membereskan meja-meja yang masih basah oleh hujan sore. Pak Wiryo juga telah kembali ke rumahnya.

Namun, Jenaning masih duduk sendirian. Foto tua itu berada di atas meja. Foto yang kini tidak lagi sekadar foto. Karena ia telah menemukan sesuatu yang membuat seluruh arah pencarian berubah.

Pawon Kenanga.

Dua kata itu terus berputar di kepalanya. Bukan nama orang. Bukan petunjuk tentang T.W. Bukan pula jawaban tentang siapa penulis Serat Rasa.

Namun, justru karena bukan jawaban, dua kata itu terasa lebih mengganggu. Karena untuk pertama kalinya petunjuk itu memiliki tempat. Tempat yang mungkin lebih tua daripada semua cerita yang selama ini mereka kumpulkan. Tempat yang mungkin menjadi awal dari semuanya.

Atau akhir.

Angin malam bergerak perlahan melewati halaman. Bunga kenanga jatuh satu demi satu dari pohon tua dekat sumur. Tidak ada suara. Tetapi entah mengapa setiap bunga yang jatuh terasa seperti penanda waktu. Seolah malam sedang menghitung sesuatu.

Dan Jenaning tidak menyukainya.

Ia mencoba membaca ulang catatan-catatan yang selama ini tersimpan di meja.

Tidak berhasil.

Mencoba menonton ulang beberapa video lama di kanal YouTube miliknya.

Tidak berhasil.

Bahkan mencoba tidur.

Tetap tidak berhasil.

Karena setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat wajah Pak Gondho di Padepokan Kenanga. Wajah tua yang selama ini tampak tenang. Wajah yang nyaris tidak pernah kehilangan kendali. Namun, berubah hanya karena sebuah foto.

Dan yang paling mengganggunya bukanlah keterkejutan itu. Melainkan ketakutan.

Pak Gondho takut.

Jenaning yakin tentang itu.

Bukan takut kepada mereka. Bukan takut pada foto. Melainkan takut pada sesuatu yang berada di balik foto tersebut.

Ada nama yang seharusnya tetap tidur.”

Kalimat itu kembali muncul.

Lalu kembali.

Dan kembali.

Seperti seseorang yang terus mengetuk dari balik pintu.

Jenaning mengusap wajahnya pelan. Matanya terasa panas. Namun, kantuk tidak datang. Akhirnya ia berdiri, lalu berjalan menuju kamar Mbah Sriyati.

Ruangan itu masih menyimpan aroma yang sama. Minyak kayu putih. Daun pandan kering. Kain-kain lama. Dan sesuatu yang tidak pernah bisa ia jelaskan.

Aroma rumah. Aroma yang hanya bisa dimiliki seseorang yang telah tinggal terlalu lama di satu tempat.

Lemari tua di sudut ruangan masih terbuka sedikit. Beberapa hari terakhir Jenaning sudah berkali-kali membongkar isinya, tetapi malam ini ia kembali mendekat. Tanpa alasan yang jelas. Atau mungkin justru karena terlalu banyak alasan.

Tangannya menyentuh rak paling bawah.

Lalu berhenti.

Ada sesuatu yang terasa tidak biasa. Sebuah papan kayu tipis tampak sedikit menonjol. Tidak banyak. Cukup untuk menarik perhatian seseorang yang sedang gelisah.

Jenaning berjongkok. Menyentuhnya. Lalu perlahan menarik papan tersebut.

Debu tipis beterbangan. Dan di baliknya tersembunyi sebuah kotak kecil dari kayu jati tua. Dadanya langsung berdebar.

Kotak itu tidak besar. Panjangnya hanya sekitar dua puluh sentimeter. Namun, ukiran di permukaannya membuat Jenaning menahan napas.

Lima kelopak.

Dan satu titik kecil di tengah.

Simbol yang sama. Simbol yang terus muncul. Simbol yang kini terasa seperti seseorang yang diam-diam berjalan mengikuti mereka dari belakang.

Tangannya bergerak lebih hati-hati. Membuka penutup kotak itu perlahan. Engsel tuanya mengeluarkan bunyi lirih. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar kertas yang dilipat rapi.

Tidak ada benda lain. Tidak ada perhiasan. Tidak ada foto. Tidak ada naskah. Hanya tulisan tangan.

Dan begitu melihat bentuk hurufnya, Jenaning langsung mengenalinya.

Mbah Sriyati.

Bukan tulisan resep. Bukan daftar belanja. Bukan catatan dapur.

Tulisan ini berbeda. Lebih lambat. Lebih hati-hati. Seolah setiap kata ditimbang sebelum dituliskan.

Jantung Jenaning berdetak lebih cepat. Ia membawa kertas-kertas itu kembali ke pawon. Menyalakan lampu kecil di dekat meja. Lalu membuka lipatan pertama.

Tulisan Jawa halus memenuhi hampir seluruh halaman. Tinta hitamnya mulai pudar. Namun, masih bisa dibaca. Ia mulai membaca pelan.

Yen ana sing maca tulisan iki, tegese wektu wis nggawa kowe tekan panggonan sing ora tau tak karepake.”

Jenaning terdiam. Tangannya berhenti. Bukan karena ia tidak mengerti. Justru karena ia mengerti.

Terlalu mengerti.

Ia melanjutkan.

Ora kabeh sing lawas kudu digoleki. Ora kabeh sing ilang kudu ditemokake.”

Angin malam menyentuh jendela bambu. Lampu kecil di meja bergoyang tipis.

Jenaning membaca terus.

Ana perkara sing luwih aman yen tetep dadi bayangan.”

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada petunjuk langsung. Sama seperti Mbah Sriyati yang ia kenal sepanjang hidupnya. Tidak pernah menjelaskan terlalu banyak. Tidak pernah memaksa orang mengerti. Hanya memberi cukup petunjuk agar seseorang menemukan jalannya sendiri.

Namun, justru karena itu, isi surat tersebut terasa lebih berat. Karena Mbah Sriyati jelas tahu sesuatu. Sesuatu yang bahkan sekarang masih sengaja ia sembunyikan.

Jenaning membuka lembar berikutnya. Tulisan di sana lebih pendek.

Aku tau rasa bisa nyambungake manungsa. Nanging rasa uga bisa mbukak lawang sing kudune tetep ketutup.”

Jantung Jenaning berdenyut pelan.

Lalu semakin keras.

Karena kalimat itu terasa terlalu dekat dengan apa yang terjadi selama beberapa minggu terakhir. Orang-orang yang menangis setelah mencicipi masakannya. Ingatan yang tiba-tiba muncul. Luka lama yang terbuka. Dan semua hal yang belum bisa ia jelaskan.

Ia membaca sampai halaman terakhir. Namun, tidak menemukan satu nama pun.

Tidak menemukan T.W.

Tidak menemukan Pawon Kenanga.

Tidak menemukan siapa pun.

Hanya peringatan.

Peringatan yang ditulis oleh seseorang yang tampaknya pernah melihat sesuatu yang membuatnya memilih diam.

Dan justru itu yang paling menakutkan.

 

***

 

Menjelang subuh, Jenaning masih belum tidur. Tetapi ada satu hal yang berubah. Ketika biasanya ia selalu terdorong membuka lebih banyak lapisan misteri, kali ini muncul keinginan yang berbeda.

Menahan.

Menghentikan.

Menguji sesuatu.

Pagi datang perlahan. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika ia masuk ke pawon. Tungku tua berdiri di tempatnya.

Diam. Menunggu. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Jenaning memutuskan melakukan sesuatu yang berbeda.

Ia akan memasak, tetapi bukan mengikuti rasa. Bukan mengikuti dorongan yang selama ini datang entah dari mana.

Ia akan memasak seperti dulu. Seperti sebelum Serat Rasa. Seperti sebelum simbol lima kelopak. Seperti sebelum ia tahu tentang Pawon Kenanga.

Ia mulai menyiapkan bahan:

Daun salam.

Bawang merah.

Temu kunci.

Sedikit jagung muda.

Sedikit bayam.

Masakan sederhana. Masakan yang tidak membutuhkan intuisi. Yang hanya membutuhkan resep biasa.

Namun, saat tangannya mulai bergerak, sesuatu terjadi. Dorongan itu datang lagi.

Pelan.

Nyaris tidak terasa.

Keinginan menambahkan satu bahan lain. Sedikit saja. Tidak banyak. Cukup untuk mengubah arah rasa.

Jari-jarinya hampir bergerak. Namun, kali ini ia menahannya.

Lihat selengkapnya