Ada hal-hal yang tidak datang sebagai rahasia. Ia datang sebagai gangguan. Mula-mula kecil. Hanya seperti batu yang terselip di dalam sandal. Tidak menyakitkan. Tidak menghalangi Langkah, tetapi cukup untuk membuat seseorang terus-menerus sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Dan semakin lama diabaikan, semakin sulit pula untuk berjalan seperti biasa. Begitulah Pawon Kenanga mulai hidup di dalam kepala Jenaning.
Bukan sebagai tempat.
Bukan sebagai tujuan.
Melainkan sebagai gangguan yang perlahan mengambil ruang dari segala hal lain yang selama ini penting baginya.
Pawon Sriyati tetap buka setiap pagi. Orang-orang tetap datang.
Warung kecil itu tetap dipenuhi suara gelas beradu, kursi bergeser, dan percakapan sederhana tentang cuaca, harga cabai, atau hasil panen yang tidak pernah benar-benar berubah dari tahun ke tahun.
Namun, Jenaning mulai kehilangan ritmenya. Ia masih hadir. Masih membantu. Masih memasak, tetapi tidak benar-benar berada di sana.
Pikirannya terus pergi ke tempat lain. Ke foto tua itu. Ke tulisan samar yang muncul setelah dipindai. Ke simbol lima kelopak. Ke Pawon Kenanga. Dan terutama, ke wajah Pak Gondho ketika melihat foto tersebut. Wajah seseorang yang terlalu terkejut untuk berpura-pura.
“Tehnya tumpah, Ning.”
Suara Pak Wiryo membuyarkan lamunannya.
Jenaning tersentak. Baru saat itulah ia sadar sebagian teh yang sedang dituangkannya telah meluber ke meja.
“Cah ayu.” Pak Wiryo menggeleng kecil. “Kalau pikiranmu lagi pergi, jangan sekalian ngajak teko ikut pergi.”
Biasanya Jenaning akan tertawa. Kali ini ia hanya tersenyum tipis.
“Maaf, Pak.”
Pak Wiryo memperhatikannya beberapa saat. Lalu mengambil lap. Membersihkan meja tanpa banyak bicara.
Namun, diamnya Pak Wiryo justru membuat Jenaning merasa lebih bersalah. Karena ia tahu lelaki tua itu melihat sesuatu yang tidak ia katakan.
***
Siang harinya, Sari menemukan Jenaning duduk sendirian di ruang depan. Laptop terbuka. Aplikasi edit video masih terpampang. Namun, garis waktu video itu kosong. Nyaris tidak berubah sejak tiga hari lalu.
Sari berhenti di belakang kursi.
“Kamu masih belum selesai?”
Jenaning mengangkat kepala. “Hmm. Belum.”
“Padahal minggu lalu kamu bilang tinggal sedikit.”
“Iya.”
“Tapi sampai sekarang malah belum jadi.”
Jenaning menatap layar. Di sana tersimpan puluhan potongan video. Pawon Sriyati. Mbah Sriyati. Proses memasak. Cerita tentang keluarga. Semua yang dulu ingin ia unggah. Semua yang dulu terasa penting. Namun sekarang, setiap kali ia mencoba menyusunnya menjadi satu cerita, tangannya selalu berhenti.
Seolah ada sesuatu yang menahan.
Atau mungkin memperingatkan.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana lagi, Sar.”
Sari menarik kursi. Duduk di sampingnya. “Kamu takut?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Jenaning tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa mungkin memang itulah masalahnya.
Bukan bingung.
Bukan lelah.
Melainkan takut. Takut jika apa yang ia ceritakan ternyata hanya sebagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Takut jika ia tanpa sadar membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.
“Aku nggak tahu.”
Sari menghela napas pelan. “Ning, kamu tahu nggak?”
“Hmm?”
“Aku ndak tahu bagaimana ibu kamu, tapi kamu ini mulai mirip Mbah Sriyati.”
Jenaning menoleh.
Sari tersenyum kecil. “Bukan wajahnya.”
“Terus apanya, dong?”
“Caranya nyimpen sesuatu sendirian.”
Kalimat itu membuat Jenaning diam cukup lama, karena mungkin Sari benar.
“Kamu lebih suka nyimpen semuanya sendirian. Bebannya kamu tanggung sendirian. Ndak mau dibagi-bagi.”
“Sar—”
“Kalau kamu ndak mau membaginya, kamu bisa turunin dulu sebentar.”
“Apanya?”
“Apa pun itu yang ada di kepalamu, Ning.”
Jenaning merenung.
Sari benar. Semakin banyak yang ia temukan, semakin sedikit yang ia ceritakan.
***
Malam datang lebih cepat daripada biasanya. Atau mungkin hanya terasa demikian karena kepala Jenaning tidak pernah benar-benar tenang.
Ia mencoba membaca.
Gagal.
Mencoba mengedit video.
Gagal.
Mencoba membantu Pak Wiryo menyiapkan bahan untuk esok hari.
Tetap gagal.
Pada akhirnya ia kembali membuka foto tua itu. Foto yang sama. Foto yang sudah ia lihat puluhan kali. Namun, tetap berhasil membuatnya merasa ada sesuatu yang terlewat. Sesuatu yang berdiri tepat di depan matanya, tetapi belum berhasil ia lihat.
Di ruang yang sama, Banyu sedang memperbaiki rak bambu yang patah. Sudah hampir satu jam. Dan selama satu jam itu pula ia melihat Jenaning memandangi foto yang sama berulang kali.
Akhirnya ia meletakkan palu.
“Lubangnya ndak bakal pindah.”
Jenaning mengangkat kepala. “Hah?”
“Itu foto.” Banyu menunjuk. “Kalau kamu lihat terus, dia nggak bakal tiba-tiba ngomong.”
Sari tertawa.
Jenaning mendecak. “Kalau soal ngeledek aku, kalian kompak banget.”
“Ndak.” Banyu kembali memasang paku. “Kita tuh cuma mulai khawatir sama kamu, Ning.”
Kalimat itu jauh lebih serius daripada yang terdengar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Jenaning tidak bisa membalas. Karena jauh di dalam dirinya, ia juga mulai khawatir.
***
Dua hari kemudian mereka kembali naik ke Gunung Kenanga. Bukan karena menemukan petunjuk baru. Justru karena tidak menemukan apa-apa. Dan ketidakadaan jawaban itu semakin mengganggu.
Jalan setapak menuju padepokan terasa lebih sepi dibanding sebelumnya. Pepohonan berdiri diam seperti biasanya. Kabut tipis menggantung rendah. Udara dingin menempel di kulit seperti lapisan tipis air.
Semakin tinggi mereka mendaki, semakin sedikit suara yang terdengar. Hingga akhirnya bangunan-bangunan Padepokan Kenanga muncul di antara pepohonan.
Namun, sesuatu terasa berbeda.
Sangat berbeda.
Sari berhenti lebih dulu.
“Ning.”