Sega Liwet & Serat Rasa

Ara Segara
Chapter #32

SEGA LIWET

Hujan yang turun dua malam lalu telah lama berhenti, tetapi jejaknya masih tinggal di mana-mana. Di sela akar kenanga. Di batu-batu halaman yang menghitam. Di udara pagi yang terasa lebih berat dari biasanya.

Dan entah bagaimana, sisa hujan itu juga seperti tertinggal di dalam diri Jenaning.

Ia masih berada di Pawon Sriyati. Masih bangun sebelum matahari muncul. Masih menyalakan tungku. Masih menata meja. Masih melayani pelanggan.

Namun, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari dirinya. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak segera menyadarinya.

Pelanggan pertama datang ketika matahari baru menyentuh pucuk pohon mangga. Seorang bapak tua yang hampir setiap pagi memesan teh panas dan pisang goreng.

“Biasanya udah jadi, Ning.”

Suara itu membuat Jenaning tersentak. Ia baru sadar minyak di wajan bahkan belum dipanaskan.

“Oh... iya, Pak.”

Tangannya buru-buru bergerak.

Terlambat.

Terlalu lambat.

Biasanya semua sudah siap jauh sebelum pelanggan pertama datang.

Hari itu tidak.

Bapak tua tersebut hanya tersenyum maklum.

Namun, setelah ia pergi, Sari langsung menghampiri.

“Kamu kenapa, Ning?”

Jenaning sedang memandangi ketel air yang bahkan belum mendidih.

“Kenapa apanya?”

“Kamu ngelamun terus. Lagi dan lagi.”

“Aku nggak ngelamun, Sar.”

Sari mengangkat alis. “Masa? Terus… barusan pisang belum digoreng.”

Jenaning terdiam.

Sari menunjuk ketel. “Air teh juga belum mateng.”

Diam.

“Terus kamu bilang ndak ngelamun?”

Jenaning mengembuskan napas pelan. Tidak membantah. Karena ia tahu Sari benar. Pikirannya memang tidak berada di pawon. Tidak berada di warung. Tidak berada di hadapan pelanggan.

Pikirannya masih tertinggal di lereng Gunung Kenanga. Di tungku yang terbakar. Di simbol lima kelopak yang dicoret. Di papan kayu tua bertuliskan: Ora kanggo kabeh wong.

Yang artinya ‘bukan untuk semua orang’.

Kalimat itu terus berputar.

Siang.

Malam.

Bahkan ketika ia tidur.

Jika ia benar-benar tidur.

 

***

 

Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah. Justru itulah masalahnya. Segalanya tampak normal. Namun, Pawon Sriyati perlahan mulai kehilangan iramanya.

Seorang pelanggan menunggu pesanan terlalu lama. Jenaning lupa memasukkan garam ke dalam sayur.

Dua kali ia salah memberikan pesanan.

Tiga kali ia tidak mendengar namanya dipanggil.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, Sari mulai merasa takut.

Bukan pada Serat Rasa.

Bukan pada Pawon Kenanga.

Bukan pada misteri apa pun.

Melainkan pada sahabatnya sendiri.

 

***

 

Menjelang siang, ketika warung mulai sepi, Sari menemukan Jenaning sedang duduk di bangku belakang sambil memandangi foto lama yang telah mereka pindai berkali-kali.

Foto yang sama.

Foto yang kini terasa semakin penting.

Dan semakin berbahaya.

“Itu lagi.”

Jenaning tidak menjawab.

“Kamu sudah lihat foto itu berapa kali hari ini?”

Tetap diam.

“Sepuluh?”

Diam.

“Dua puluh?”

Jenaning yang merasa terganggu, akhirnya mengangkat wajah.

“Aku cuma lagi mikir aja.”

“Nah itu masalahnya.”

“Apa?”

“Kamu tuh selalu mikir, mikir, dan mikir. Ndak tahu kapan harus berhenti.”

Sari duduk di sampingnya.

“Aku kangen Jenaning yang dulu.”

Kalimat itu membuat Jenaning tersenyum tipis. “Yang dulu gimana?”

“Yang bisa ngobrol tanpa nyebut Pawon Kenanga setiap lima menit.”

Mereka sama-sama tertawa kecil. Namun, tawa itu cepat hilang. Karena keduanya tahu Sari tidak sedang bercanda sepenuhnya.

“Kamu takut aku berubah?”

Sari menatap halaman.

Lama.

Lalu mengangguk.

“Aku takut kamu lupa pulang, Ning.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Jenaning mengencang.

“Bahkan sekarang kamu udah jauh pergi meninggalkan Pawon Sriyati.”

Dada Jenaning semakin mengencang hingga rasanya sulit bernapas.

Sebab untuk sesaat, ia mengerti maksudnya.

 

***

 

Menjelang sore, Banyu datang seperti biasa. Tidak membawa pertanyaan. Tidak membawa teori. Tidak membawa dugaan baru. Ia hanya datang membawa satu karung beras dan beberapa ikat daun pisang.

Sesederhana itu.

Dan mungkin justru karena kesederhanaan itulah Jenaning merasa sedikit lega melihatnya.

Banyu meletakkan karung beras di dekat tungku. Lalu memandangi Jenaning beberapa saat.

“Kamu capek.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Jenaning tersenyum tipis. “Emang kelihatan ya?”

“Iya.”

“Separah itu?”

“Iya.”

Sari yang sedang menyapu halaman langsung menyahut dari jauh.

“Syukurlah ada orang lain yang bilang.”

Jenaning memutar mata.

Banyu tertawa kecil. Namun, kemudian ia berjalan ke arah rak bahan makanan. Mengambil beras, santan, daun salam, dan serai.

“Bantu aku, yuk!”

Jenaning mengernyit. “Ngapain?”

“Masak.”

Jenaning tersenyum hambar. “Tiap hari juga masak.”

“Bukan buat warung.”

Lihat selengkapnya