Pagi itu datang tanpa kabut. Matahari sudah muncul ketika Jenaning membuka pintu depan Pawon Sriyati. Udara masih sejuk, tetapi tidak lagi membawa dingin yang menusuk seperti hari-hari ketika ia bolak-balik memikirkan Pawon Kenanga dan foto tua itu.
Suara sapu lidi terdengar dari halaman.
Pak Wiryo sedang membersihkan daun-daun kenanga yang berguguran semalaman.
Di dapur belakang, Sari menata kursi-kursi kayu yang beberapa bulan lalu masih jarang digunakan.
Kini hampir setiap hari ada orang datang. Bukan sekadar membeli makan. Bukan sekadar mampir karena lapar. Melainkan karena mereka ingin tinggal lebih lama.
Ingin bertanya. Ingin mendengar cerita. Ingin belajar memasak.
Dan semua itu masih terasa aneh bagi Jenaning. Sebab beberapa bulan lalu, Pawon Sriyati hanyalah warung kecil di pinggir desa.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Tempat orang singgah, makan, lalu pergi.
Namun kini, tanpa benar-benar ia rencanakan, tempat itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.
Belum pukul tujuh ketika tamu pertama datang. Seorang perempuan muda dengan bayi yang digendong di dada. Usianya mungkin belum tiga puluh. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya menyimpan tekad yang kuat.
“Ini Pawon Sriyati?”
Jenaning mengangguk.
“Iya, Mbak.”
Perempuan itu tersenyum malu. “Saya dari kecamatan sebelah.”
“Oh? Lumayan jauh juga ya.”
“Saya lihat video lama Mbak Jenaning.”
Jenaning sedikit terkejut. Video-video lama itu sudah lama tidak ia sentuh. Bahkan kanal YouTube-nya nyaris terbengkalai selama beberapa bulan terakhir.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
Perempuan itu mengusap kepala bayinya perlahan. “Saya cuma mau belajar masak. Boleh?”
Jenaning tersenyum kecil. “Belajar masak? Sama aku.”
“Iya.”
Jenaning tersenyum, tapi bingung. “Mm… emangnya mau masak apa, Mbak?”
“Saya nggak tahu, Mbak Jen.”
Jawaban itu membuat keduanya tertawa pelan.
Perempuan itu kemudian menunduk. “Dulu ibu saya jago masak. Saya biasa dimasakin sama ibu.”
Jari-jarinya membelai punggung bayi yang mulai tertidur.
“Tapi setelah beliau meninggal, saya sadar saya nggak bisa bikin satu pun masakan yang rasanya mirip.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, entah kenapa membuat Jenaning terdiam sesaat. Karena ia mengerti. Terlalu mengerti.
Kadang yang hilang dari seseorang bukan wajahnya. Bukan suaranya. Melainkan rasa yang dulu selalu hadir tanpa kita sadari. Dan ketika orang itu pergi, kita baru tahu betapa pentingnya rasa tersebut.
“Kalau begitu ikut ke dalam pawon saja hari ini.”
Perempuan itu tampak lega. Seolah baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
“O’iya, nama Mbak?”
“Rahmi. Panggil Rahmi saja, Mbak.”
“Kalau gitu panggil aku Ning aja.”
Perempuan itu tersenyum lembut.
***
Menjelang siang, tiba-tiba saja warung kedatangan dua mahasiswa dari kota. Mereka membawa buku catatan. Kamera kecil. Dan terlalu banyak pertanyaan.
“Mbak, emang benar ya katanya… makanan bisa menyimpan memori?”
“Oh, iya tuh. Terus Mbak, saya pengen tahu deh, kalau resep tradisional tuh bisa hilang dalam satu generasi nggak? Terus emangnya budaya dapur Jawa tuh udah mulai ditinggalkan?”
Sari yang mendengar dari kejauhan langsung menggeleng. “Waduh.”
Jenaning tertawa kecil. “Mereka mirip aku waktu masih kuliah.”
“Makanya aku kasihan sama dosenmu dulu.”
“Kalau aku sih lebih kasihan sama kamu, soalnya kamu yang ‘stuck’ sama aku.”
“Bener juga.”
Jauh di dalam hati, Jenaning justru merasa hangat. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pembicaraan tentang makanan tidak selalu berujung pada misteri.
Tidak selalu tentang foto tua.
Tidak selalu tentang Pawon Kenanga.
Tidak selalu tentang simbol lima kelopak.
Kadang memang hanya tentang makanan.
Dan itu terasa menyenangkan.
***
Menjelang tengah hari, ketika matahari tepat berada di atas halaman. Seorang pria tua datang perlahan. Ia tidak membawa apa-apa. Tidak membawa tas. Tidak membawa catatan. Tidak membawa telepon genggam. Hanya berjalan pelan menuju teras Pawon Sriyati.
Rambut pria itu sudah hampir seluruhnya putih. Tubuhnya kurus. Langkahnya hati-hati.
Jenaning yang sedang membersihkan meja segera menghampiri.
“Silakan, Pak.”
Pria itu tersenyum kecil. Senyum yang tampak sopan, tetapi juga menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan.
“Saya boleh duduk?”
“Tentu, Pak. Silakan duduk.”
Pria itu duduk perlahan. Matanya berkeliling melihat pawon. Melihat tungku. Melihat rak rempah. Melihat meja kayu. Seolah sedang memastikan sesuatu.
Jenaning menuangkan teh hangat.
“Bapak mau pesan makan?”
Pria itu menggeleng. “Tidak.”
“Oh… kalau begitu mau…?”
Pria itu diam cukup lama. Lalu berkata pelan, “Kalau saya mau belajar masak. Bisa, Mbak?”
Kalimat itu membuat Jenaning tersenyum.
Namun, pria tua itu tidak tersenyum kembali. Justru wajahnya terlihat semakin sendu.
“Mmm… maaf, tapi sebelumnya saya mau nanya, apa ada masakan tertentu yang mau Bapak pelajari?”
Pria itu memandang cangkir tehnya.
Lama sekali.
Sampai akhirnya ia berkata, “Saya cuma ingin belajar masak satu kali lagi.”
Jenaning tidak langsung mengerti. “Maaf, maksud Bapak?”
Pria itu menarik napas panjang. Matanya tetap tertuju pada teh yang mulai mengeluarkan uap tipis.
“Istri saya meninggal enam bulan yang lalu.”
Suasana di sekitar mereka perlahan berubah hening. Bahkan suara mahasiswa yang sedari tadi ramai bertanya mendadak terasa jauh.
“Saya masih ingat suaranya.” Pria tua itu tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat dada terasa sesak.
“Saya masih ingat cara dia memanggil saya.” Jari-jarinya bergerak pelan di atas meja. Seolah sedang menyentuh kenangan yang tidak bisa lagi disentuh.
“Saya masih ingat wajahnya.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Saya masih ingat semua.”
Lalu ia menunduk. Dan berkata dengan suara yang hampir pecah.
“Tapi… saya mulai lupa rasa masakannya.”
Tidak ada yang berbicara setelah itu.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa, sebab beberapa kehilangan memang tidak membutuhkan jawaban.
Hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.