Ada pencarian yang membuat seseorang menemukan dunia. Ada pula pencarian yang perlahan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Perbedaannya sering kali tidak terlihat pada awal perjalanan.
Baru ketika langkah sudah terlalu jauh, seseorang mulai bertanya: apa yang sedang kucari?
Dan yang lebih menakutkan: siapa yang tertinggal selama aku mencarinya?
Hari itu pagi turun perlahan di Pawon Sriyati.
Tidak megah.
Tidak dramatis.
Seperti pagi-pagi lain yang telah datang selama puluhan tahun.
Embun masih menggantung di ujung daun jambu dekat sumur. Cahaya matahari menyusup melalui sela-sela bambu dinding pawon. Bau kayu bakar semalam masih tertinggal tipis di udara, bercampur aroma tanah basah setelah hujan yang turun menjelang subuh.
Warung sudah buka. Pelanggan mulai berdatangan. Sendok beradu dengan mangkuk. Suara motor berhenti di depan halaman. Seseorang memesan teh hangat. Seseorang lagi meminta nasi pecel dibungkus. Semua berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, tidak bagi Jenaning. Tubuhnya berada di sana. Pikirannya tidak.
Sejak malam ketika Pak Gondho datang dan pergi kembali tanpa penjelasan apa pun, sesuatu di dalam dirinya seperti bergeser. Bukan karena ia menemukan jawaban. Justru karena ia tidak menemukannya.
Kalimat lelaki tua itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak selesai.
“Kalau kamu masih mencari nama orang dalam foto itu...
...kamu mencari ke arah yang salah.”
Ke arah yang salah.
Salah.
Salah.
Salah.
Semakin sering ia mengingatnya, semakin terasa menyebalkan. Karena selama beberapa bulan terakhir, seluruh hidupnya bergerak ke arah itu.
Foto.
Pawon Kenanga.
Simbol lima kelopak.
Tulisan samar.
Jejak-jejak yang ditinggalkan masa lalu.
Semua mengarah kepada satu pertanyaan yang sama: siapa orang itu?
Siapa orang yang berdiri di belakang Mbah Sriyati?
Siapa yang menulis Serat Rasa?
Dan siapa sebenarnya yang memulai semua ini?
Namun, sekarang seseorang berkata bahwa pertanyaan itu bukan pertanyaan yang tepat.
Lalu apa?
Kalau bukan itu yang harus dicari, apa sebenarnya yang selama ini sedang ia lakukan?
“Ning.”
Tidak ada jawaban.
“Ning.”
Masih tidak ada.
Baru ketika sebuah tangan melambai tepat di depan wajahnya, Jenaning tersentak.
“Hah?”
Di hadapannya berdiri seorang pelanggan. Wanita paruh baya yang hampir setiap minggu datang membeli sarapan.
“Gorengannya udah? Dari tadi saya tunggu lho.”
Jenaning berkedip. Baru sadar bungkusan yang berisi gorengan itu masih berada di tangannya. Belum ia serahkan. Padahal pelanggan itu sudah berdiri di depannya hampir satu menit.
“Oh... maaf, Bu.”
Wanita itu tertawa kecil. “Wes, ndak apa-apa.”
Namun, senyum Jenaning tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ketika wanita itu pergi, ia masih berdiri beberapa detik sambil memegang uang kembalian yang lupa ia berikan.
Lagi.
Belakangan ini semuanya terasa seperti itu.
Lagi.
Ia lupa mematikan api.
Lupa menaruh garam.
Lupa menjawab ketika dipanggil.
Lupa mendengar.
Lupa hadir.
Hal-hal kecil, tetapi semakin sering terjadi. Semakin sulit diabaikan. Dan seseorang memperhatikannya sejak lama.
Sari.
***
Menjelang siang, ketika pelanggan mulai berkurang dan matahari berdiri tepat di atas halaman, Sari akhirnya meletakkan lap dapur yang sedang ia pegang.
Cukup.
Sudah cukup.
Ia berjalan menuju meja tempat Jenaning duduk. Sahabatnya itu sedang memandangi sebuah catatan. Atau mungkin tidak benar-benar membacanya. Karena sejak lima menit lalu lembaran itu tidak berpindah halaman.
“Kita ngobrol, yuk.”
Jenaning mengangkat kepala. “Hmm?”
“Kita ngobrol.”
Bukan pertanyaan.
Bukan ajakan.
Keputusan.
Dan Jenaning langsung tahu ia tidak bisa menghindar.
“Aku lagi kerja, Sar. Maksudku, lagi ngerjain sesuatu.”
Sari menarik bangku. Duduk tepat di depannya.
“Ini kamu bilang kerja?”
Jenaning masih diam.
“Kamu udah nggak kerja dari beberapa minggu lalu, Ning.”
Kalimat itu membuat Jenaning mengernyit.
“Aku kerja, Sar. Selalu.”
“Tubuhmu.”
Sunyi.
Angin siang masuk melalui jendela bambu. Menggerakkan ujung tirai kain tipis di dekat rak bumbu.
“Kamu sadar nggak, Ning?”
“Apa sih, Sar?”
Sari menatapnya lama. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Aku capek ngeliat kamu kayak gini.”
Kalimat itu tidak keras. Justru karena pelan, ia terasa lebih menyakitkan.
Jenaning terdiam. Cukup lama.
“Aku baik-baik aja, Sar.”
“Kamu bohong.”
“Aku nggak bohong.”
“Kamu bohong.”
Sari mengulangnya dengan tenang. Dan ketenangan itulah yang membuat Jenaning tidak bisa membela diri.
“Kamu tuh udah beberapa minggu ini ndak makan teratur. Ndak tidur cukup. Kamu ndak pernah benar-benar dengerin orang kalau diajak ngomong. Kamu bahkan lupa pelanggan tadi.”
Jenaning menunduk.
Sari menarik napas panjang. Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka bersahabat, terdengar sedikit kemarahan dalam suaranya.
“Kamu masih ingat ndak kenapa semuanya dimulai?”
Pertanyaan itu membuat Jenaning mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
“Serat Rasa. Pawon Sriyati. Warung. Channel YouTube-mu. Mbah Sriyati. Semuanya, Ning.”
Sari menunjuk halaman di luar.
“Awalnya kamu cuma pengin menjaga sesuatu, lalu kamu pengin memahami Mbah, lalu berlanjut pengin memasak. Kamu pengin cerita.”
Suara Sari mulai bergetar tipis.
“Bukan jadi orang yang kehilangan dirinya sendiri.”
Kalimat itu jatuh pelan. Namun, menghantam jauh lebih keras daripada yang Jenaning duga. Karena untuk pertama kalinya, ada bagian dalam dirinya yang takut Sari benar.
Dan itulah yang paling tidak ingin ia akui.
“Aku udah sering bilang sama kamu, sama Banyu… aku tuh cuma mau tahu kebenarannya.”
Sari tersenyum tipis. Sedih.
“Jenaning…” Sari menghela sepenggal napas sebelum melanjutkan, “…kalau semua orang yang mengejar kebenaran kehilangan hidupnya sendiri, terus apa gunanya kebenaran itu?”
Tidak ada jawaban.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Jenaning merasa kalah.
Bukan oleh misteri.
Bukan oleh masa lalu.
Melainkan oleh seseorang yang mengenalnya terlalu baik.
***