Ada saat ketika seseorang berjalan begitu jauh untuk mencari jawaban hingga ia lupa mengapa pertanyaan itu pertama kali muncul.
Jalan yang mula-mula tampak jelas perlahan berubah menjadi lorong yang bercabang ke mana-mana. Setiap petunjuk melahirkan petunjuk lain. Setiap jawaban membuka pintu menuju ruang yang lebih dalam. Dan tanpa disadari, pencarian itu berhenti menjadi alat.
Itu berubah menjadi tujuan.
Beberapa hari terakhir, Jenaning sering memikirkan hal tersebut. Bukan ketika membaca Serat Rasa. Bukan ketika menatap foto lama yang sudah berkali-kali ia pelajari. Melainkan ketika sedang melakukan hal-hal biasa.
Saat menyapu halaman. Saat menanak nasi. Saat melayani pelanggan yang datang ke Pawon Sriyati. Saat melihat seorang ibu muda tertawa karena sambalnya terlalu asin. Saat mendengar bapak tua yang kehilangan istrinya bercerita tentang rasa masakan yang mulai memudar dari ingatan.
Justru pada saat-saat seperti itulah ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa berat.
Ia tidak lagi benar-benar hadir.
Tubuhnya memang berada di Pawon Sriyati. Namun, sebagian pikirannya terus tinggal di tempat lain. Di gunung. Di reruntuhan. Di tungku yang hangus. Di simbol lima kelopak. Di Pawon Kenanga.
Dan semakin ia menyadari hal itu, semakin sulit baginya untuk merasa tenang.
Di sisi lain, hari bergerak pelan. Beberapa pelanggan datang lalu pergi.
Sari sibuk melayani pesanan. Banyu membantu memindahkan karung beras ke gudang kecil di belakang. Pak Wiryo sedang memperbaiki rak kayu yang mulai longgar.
Sementara Jenaning berdiri terlalu lama di depan tungku. Panci di hadapannya sudah mendidih sejak beberapa menit lalu. Namun, ia belum juga bergerak.
“Ning.”
Tidak ada jawaban.
“Ning.”
Masih diam.
Sampai akhirnya suara Sari terdengar lebih keras.
“Jenaning!”
Jenaning tersentak. “Hah?”
Sari memejamkan mata beberapa detik.
“Masakannya.”
Jenaning menoleh. Air dalam panci hampir meluap. Ia buru-buru mengecilkan api.
Sari menghela napas panjang. “Kamu tuh… pasti mikir lagi.”
“Mikir dikit, Sar.”
“Dikit?” Sari menunjuk panci. “Kalau aku ndak ada, kamu bisa terluka gara-gara air mendidih itu. Dapur juga bakal hancur.”
Jenaning tertawa kecil. Namun, tawanya tidak benar-benar sampai ke mata.
Sari melihat itu. Dan justru itulah yang membuatnya khawatir. Karena biasanya Jenaning akan membalas dengan lelucon panjang. Biasanya ia akan berdebat. Biasanya ia akan cerewet.
Kini tidak.
Beberapa bulan terakhir telah mengubah banyak hal.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kecil, Sari mulai merasa ia tidak selalu tahu isi kepala sahabatnya sendiri.
***
Menjelang siang, ketika keramaian mulai mereda, seekor burung prenjak hinggap di pagar bambu depan halaman. Ia berkicau sebentar. Lalu terbang lagi.
Gerakannya sederhana. Nyaris tidak penting. Namun, entah mengapa Pak Wiryo yang sedang duduk dekat sumur tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. Tatapannya bergerak ke arah jalan kecil yang menghubungkan rumah dengan jalur menuju gunung.
Ia diam beberapa saat, lalu berdiri perlahan.
Banyu yang sedang mengangkat ember air mengikuti arah pandangnya.
“Ada apa, Pak?”
Pak Wiryo tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke kejauhan.
Barulah beberapa detik kemudian sebuah sosok muncul di ujung jalan. Berjalan pelan. Membawa tongkat kayu. Kain lurik yang mulai pudar. Tubuh yang tampak semakin kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Sari langsung mengenali sosok itu. Begitu pula Jenaning.
Pak Gondho.
Tidak ada yang berbicara ketika lelaki tua itu memasuki halaman. Tidak ada pula rasa terkejut yang meledak-ledak.
Justru sebaliknya.
Kehadirannya terasa seperti sesuatu yang sejak lama ditunggu. Dan karena terlalu lama ditunggu, tidak ada lagi energi tersisa untuk terkejut.
Pak Gondho berhenti di dekat pohon kenanga. Memandang halaman. Memandang pawon. Memandang orang-orang yang berdiri memperhatikannya, lalu tersenyum tipis.
“Ternyata masih berdiri kokoh.”
Pak Wiryo tertawa kecil. “Kalau Pawon Sriyati ini roboh, saya yang pertama nangis.”
Pak Gondho mengangguk pelan. “Bagus.”
Jenaning memperhatikan wajah pria tua itu. Ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak tampak sedang menghindar. Tidak tampak tergesa pergi. Tidak tampak sedang memilih kata-kata yang aman.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, Pak Gondho terlihat seperti seseorang yang telah membuat keputusan.
Keputusan yang mungkin sudah ia tunda terlalu lama.
Sari akhirnya angkat bicara.
“Kalau Pak Gondho datang cuma mau bikin kami tambah bingung lagi, lebih baik Bapak kembali ke persembunyian saja.”
Pak Gondho terkekeh. “Lihat, Ning. Temanmu jadi galak setelah lama tidak bertemu.”
“Soalnya Bapak biasanya begitu. Menggantungkan jawaban, dan bikin kami semakin bingung.”
“Itu karena kalian selalu tanya hal yang salah.”
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah.
Banyu menyandarkan ember di dekat sumur. Pak Wiryo ikut duduk.
Dan Jenaning menarik kursi kayu.
Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, tidak ada seorang pun yang ingin segera bertanya. Mereka hanya menunggu.
Pak Gondho menerima secangkir teh dari Jenaning. Menyeruputnya perlahan.
Baru setelah beberapa saat ia berkata, “Kalian masih mencari nama orang dalam foto itu?”
Pertanyaan itu jatuh ringan. Namun, semua orang memahami bobotnya.
Jenaning menatap cangkir di tangannya. Jika pertanyaan itu diajukan beberapa bulan lalu, jawabannya pasti sederhana.
Ya.
Ia akan menjawab “ya” tanpa ragu. Hanya saja, sekarang ia tidak yakin lagi.
“Entahlah, Pak.”
Pak Gondho mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di wajah tuanya.
“Bagus.”
“Hm?” Jenaning merasa bingung.
“Ayo ikut saya.”
“Ke mana?”
“Kamu tahu ke mana.”
***
Matahari bergerak perlahan ke arah barat ketika mereka mulai berjalan menuju Gunung Kenanga.
Perjalanan itu terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada semangat memburu petunjuk. Tidak ada harapan menemukan benda tersembunyi. Tidak ada perasaan sedang memecahkan teka-teki. Mereka hanya mengikuti langkah Pak Gondho.
Jalan setapak yang dulu terasa asing kini mulai akrab. Bebatuan. Akar pohon. Tanjakan pendek. Belokan sempit. Semuanya pernah mereka lewati. Namun, kali ini mereka melihatnya dengan cara berbeda. Seolah tempat-tempat itu bukan lagi bagian dari misteri. Melainkan bagian dari perjalanan yang perlahan mulai dipahami.
Ketika kawasan Padepokan Kenanga mulai terlihat di antara pepohonan, Pak Gondho tidak berhenti. Ia terus berjalan. Melewati bangunan utama. Melewati halaman yang kosong. Melewati jalur kecil yang mulai dipenuhi ilalang.
Sampai akhirnya mereka tiba di tempat yang selama ini menjadi pusat segala pertanyaan.
Pawon Kenanga.
Atau tepatnya: sisa-sisa Pawon Kenanga.