Nama itu akhirnya memiliki bunyi.
Tanuwira.
Bukan lagi huruf-huruf samar yang tersembunyi di balik foto tua.
Bukan lagi bayangan yang berdiri jauh di belakang Mbah Sriyati.
Bukan lagi sosok yang hanya muncul dalam dugaan dan kemungkinan.
Tanuwira.
Satu nama.
Sesederhana itu.
Namun, beberapa hari setelah mendengarnya dari mulut Pak Gondho, Jenaning justru merasakan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
Kosong.
Bukan lega. Bukan bahagia. Bukan pula kemenangan.
Kosong.
Seperti seseorang yang mendaki bukit bertahun-tahun demi melihat laut dari puncaknya, lalu ketika akhirnya sampai, ia justru bertanya pada dirinya sendiri:
Lalu setelah ini apa?
***
Aktivitas di Pawon Sriyati kembali berjalan sebagaimana biasanya. Orang-orang datang. Orang-orang pergi. Kompor dinyalakan. Sayuran dipotong. Beras dicuci. Panci ditutup. Panci dibuka.
Segalanya berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, di dalam diri Jenaning, sesuatu terasa bergeser. Ia berdiri di dekat tungku sambil mengaduk kuah bening yang mulai mendidih. Gerakannya otomatis. Tubuhnya bekerja. Pikirannya mengembara.
Tanuwira.
Nama itu kembali muncul. Hanya saja, semakin sering ia mengingatnya, semakin jelas pula bahwa nama tersebut tidak benar-benar menjawab apa pun.
Siapa dia?
Seorang lelaki.
Lalu?
Apa yang sebenarnya berubah setelah mengetahui namanya?
Hampir tidak ada.
Misteri yang selama ini terasa begitu besar ternyata tidak runtuh ketika nama itu ditemukan. Justru sebaliknya. Ia berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih sulit dipahami.
Sari yang sedang menata mangkuk memperhatikan wajah sahabatnya dari kejauhan.
“Bahkan setelah pertanyaanmu terjawab, kamu tetap ngelamun.”
Jenaning tersadar.
“Hah?”
“Tuh kan. Mikir lagi.”
Sari menggeleng pelan.
“Kalau nasi di panci bisa ngomong, mungkin udah capek dipelototin sama kamu dari lima menit yang lalu.”
Jenaning tertawa kecil. Namun, tawanya cepat hilang.
Sari menangkap perubahan itu. Dan kali ini ia tidak menggoda lebih lanjut.
“Masih mikirin T.W alias Tanuwira?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Jujur. Tanpa basa-basi.
Jenaning tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan.
“Aku pikir setelah aku tahu namanya… apa ya… ya semuanya bakal jelas.”
“Tapi?”
“Tapi ternyata enggak, Sar.”
Sari duduk di bangku kayu dekat tungku. “Kamu kecewa? Karena penulis naskah Serat Rasa bukan seorang perempuan?”
Jenaning memikirkan pertanyaan itu.
Lama.
Sangat lama.
Lalu menggeleng.
“Bukan kecewa.”
“Ngerasa tertipu?”
“Bukan juga.”
“Terus?”
“Aku cuma sadar...” Ia menatap nyala api kecil di bawah panci. “...kalau ternyata selama ini aku mungkin nyari hal yang salah.”
Sari mengangguk. Seolah setuju dengan pernyataan sahabatnya.
“Aku lihat semua ini dari sudut pandang yang salah, Sar.”
“Aku juga.”
***
Menjelang tengah hari, Pak Gondho datang.
Kedatangannya tidak lagi mengejutkan seperti dulu. Tidak ada perasaan seolah seseorang baru turun dari lapisan waktu yang berbeda. Tidak ada pula kesan bahwa ia membawa rahasia yang siap dijatuhkan ke tengah percakapan.
Ia hanya tampak seperti pria tua yang telah berjalan terlalu jauh dalam hidupnya. Langkahnya pelan. Punggungnya sedikit membungkuk. Kulit wajahnya tampak semakin tipis dibanding beberapa bulan lalu.
Namun, yang paling berubah adalah matanya. Ada kelelahan di sana. Bukan kelelahan tubuh. Melainkan kelelahan seseorang yang terlalu lama menyimpan cerita milik orang lain.
Pak Wiryo segera mempersilahkannya duduk di bangku bambu dekat pawon. Sari masuk ke dapur mengambil teh. Sementara Banyu yang sedang memperbaiki kaki meja menghentikan pekerjaannya sejenak.
Sedangkan Jenaning hanya memperhatikan dari kejauhan. Tidak lagi dengan rasa penasaran yang membara seperti ketika semua ini dimulai. Rasa itu telah berubah. Menjadi sesuatu yang lebih tenang. Lebih jujur. Dan mungkin juga lebih lelah.
Pak Gondho menerima teh hangat yang disodorkan Sari. Uap tipis naik dari permukaannya. Ia menghirup aromanya lama sekali. Lalu tersenyum kecil.
“Masih sama yo.”
Pak Wiryo tertawa pendek. “Kalau rasa the itu berubah, berarti yang bikin bukan saya lagi.”
“Justru itu yang saya takutkan.”
“Lho?”
Pak Gondho menatap gelas di tangannya. “Karena ada rasa-rasa yang kalau hilang, orang tidak sadar sedang kehilangan sesuatu.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Tidak ada yang langsung menanggapi. Barangkali karena mereka semua memahami maksudnya.
Atau justru karena mereka belum benar-benar memahaminya.
Beberapa saat kemudian Jenaning akhirnya membuka suara. Pertanyaan itu sudah lama mengendap.
Terlalu lama.
“Pak...?”
Pak Gondho mengangkat kepala. “Ya, Nduk?”
Jenaning menarik napas panjang. Lalu berkata pelan, “Setelah semua ini... apa masih ada yang harus aku cari?”
Angin bergerak pelan melewati halaman. Daun kenanga bergesekan satu sama lain.
Pak Gondho tidak segera menjawab. Tatapannya justru jatuh pada tungku di sudut pawon. Pada panci yang menggantung. Pada dinding bambu yang mulai kusam dimakan usia. Seolah ia sedang mencari jawaban di tempat-tempat yang lebih tua daripada kata-kata.
“Menurutmu?”
“Aku nggak tahu.” Jenaning tersenyum tipis. “Kalau tahu, aku nggak bakal nanya ke Bapak.”
“Itu jawaban yang jujur.”
Jenaning menunduk sebentar. Lalu berkata, “Nama itu nggak mengubah apa-apa, Pak.”
Pak Gondho mengangguk pelan. “Memang.”
“Hah?”
Untuk pertama kalinya suara Jenaning terdengar sedikit kesal.
“Tapi… aku pikir setelah tahu namanya semuanya bakal lebih jelas.”
Pak Gondho tersenyum. Senyum yang aneh. Seperti seseorang yang pernah membuat kesalahan yang sama puluhan tahun lalu.
“Apa kamu kira yang selama ini kamu cari adalah nama?”
“Bukannya memang itu yang harus dicari?”
“Kamu dan teman-temanmu yang mengejarnya, lalu sekarang sudah ketemu.”
“Iya, udah.”
“Lalu?”
Pertanyaan itu jatuh begitu saja.
Sederhana.
Tetapi membuat Jenaning tidak mampu menjawab.
Pak Gondho meletakkan gelas tehnya perlahan. Bunyi kecil dari dasar gelas menyentuh meja kayu.
“Kalau yang berubah hanya nama, berarti sejak awal kamu memang berjalan ke arah yang salah.”
Sunyi turun.
Bahkan Sari yang biasanya paling cepat bereaksi hanya memandangi lantai.
Pak Gondho melanjutkan. “Pria itu...”
Ia berhenti sebentar. Bukan karena ragu. Melainkan karena menghormati seseorang yang sedang ia bicarakan.
“... beliau tidak meninggalkan dirinya.” Tatapannya bergerak ke arah lemari tempat Serat Rasa disimpan. “Yang ia tinggalkan bukan namanya. Bukan wajahnya. Bukan pula cerita hidupnya.”
“Terus apa, Pak?” Suara Jenaning nyaris berbisik.
Pak Gondho memandangnya lama. “Cara hidup.”
Kalimat itu membuat sesuatu bergetar di dalam dada Jenaning.
Pak Gondho melanjutkan, “Manusia selalu tergoda mencari sosok yang terlihat pantas diagung-agungkan. Menjadikan seseorang terlihat seperti pahlawan. Menentukan orang mana yang bisa diberi nama dan dikenang.”
Ia tertawa, bukan pada siapa pun. Melainkan pada kehidupan.