Desa Wonokuncar, Agustus 2023
Di antara banyak hal yang datang dan pergi dalam hidup, ada yang bertahan bukan karena dijaga rapat, melainkan karena terus diberi tempat untuk hidup.
Jenaning baru memahami itu setelah segala pencarian yang panjang berakhir.
Atau mungkin bukan berakhir.
Hanya berubah bentuk.
Beberapa minggu berlalu sejak malam ketika ia menutup tumpukan catatan di meja pawon, dan memutuskan untuk berhenti mengejar sesuatu yang selama ini selalu berada beberapa langkah di depannya.
Sejak saat itu, hari-hari berjalan tanpa kejutan besar. Tidak ada rahasia baru. Tidak ada nama lain yang harus dicari. Tidak ada perjalanan ke tempat-tempat yang jauh. Namun, justru di dalam kehidupan yang tampak biasa itulah sesuatu perlahan tumbuh.
Mula-mula hanya ada seorang perempuan muda yang datang membawa wadah plastik kosong. Ia berdiri canggung di depan pawon sambil menggandeng anak perempuannya yang masih mengenakan seragam taman kanak-kanak.
“Izin bertanya, Mbak. Apa benar di sini orang boleh belajar masak?” tanyanya.
Jenaning yang sedang menumbuk bawang menoleh dan tersenyum.
“Boleh.”
“Bayar berapa, ya?”
“Tergantung.”
Perempuan itu tampak bingung. “Tergantung apa?”
“Tergantung Mbak bawa cerita apa.”
Perempuan itu tertawa kecil karena mengira Jenaning bercanda.
Namun, beberapa jam kemudian, ketika bawang sudah teriris, santan sudah mendidih, dan anak kecil itu tertidur di bangku panjang dekat jendela, perempuan tersebut justru bercerita lebih banyak daripada yang pernah ia rencanakan.
Tentang suaminya yang bekerja di luar kota.
Tentang ibunya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
Tentang rasa takut membesarkan anak sendirian selama berbulan-bulan.
Dan tentang satu hal yang tidak pernah berhasil ia lakukan sejak ibunya tiada: memasak sayur lodeh dengan rasa yang sama.
“Aneh, ya?” katanya sambil tertawa malu. “Yang saya kangen justru bukan orangnya dulu.”
Jenaning diam mendengarkan.
“Saya malah kangen rasa masakannya.”
Kalimat itu tinggal cukup lama di udara. Tidak ada yang mencoba menjelaskan. Karena semua orang di pawon memahami maksudnya.
Ada kehilangan-kehilangan yang tidak tinggal di makam.
Mereka tinggal di meja makan.
Di aroma dapur.
Di kebiasaan kecil yang tiba-tiba menghilang dari rumah.
***
Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswa datang membawa buku catatan tebal. Ia mengaku sedang menulis penelitian tentang makanan tradisional. Namun, setelah tiga kali datang, tidak satu lembar pun catatannya bertambah.
Sebaliknya, ia lebih sering duduk dekat tungku sambil memperhatikan orang memasak.
Suatu sore Jenaning akhirnya bertanya, “Skripsinya nggak jadi-jadi?”
Mahasiswa itu tertawa. “Jadi, Mbak Jen.”
“Terus kenapa nggak ada yang ditulis?”
“Saya baru sadar saya salah topik.”
“Salah topik?”
“Iya.”
Jenaning mengangkat alis.
“Saya kira saya cuma datang untuk meneliti makanan tradisional di pawon ini.”
“Ternyata?”
“Ternyata yang saya temukan justru orang-orang. Dan setiap orang punya cerita yang bikin saya nggak bisa lupa.”
“Kenapa gitu?”
“Karena cerita mereka bukan sekedar tentang makanan, tapi tentang rasa.”
Jawaban itu membuat Jenaning tersenyum kecil. Karena ia mengerti. Ia pernah berada di tempat yang sama. Mengira sedang mencari sesuatu. Padahal yang sebenarnya ditemukan adalah hal lain.
Hal yang jauh lebih dekat.
***
Yang paling sering datang justru seorang pria paruh baya yang hampir tidak pernah banyak bicara.
Pria itu biasanya duduk dekat jendela. Memesan teh hangat. Lalu memperhatikan orang-orang di pawon.
Pada kunjungan keempat, Sari akhirnya tidak tahan.
“Bapak ini sebenarnya ngapain ke sini?”
Pria itu tertawa. “Saya juga ndak tahu.”
“Hah?”
“Iya. Saya juga bingung, Mbak.”
“Bapak ndak mau belajar masak?”
“Ndak.”
“Ndak mau ikut bantu juga? Biar ada kegiatan.”
“Ndak.”
“Apa mau cerita aja?”
“Ndak, Mbak.”
“Lalu ngapain jauh-jauh ke sini, toh?”
Pria itu menoleh ke arah pawon yang ramai. Ada suara ulekan. Ada anak kecil yang tertawa. Ada Pak Wiryo yang sedang mengajari seseorang mencuci beras. Ada Jenaning yang sibuk mengaduk santan. Ada aroma bawang goreng.
Ada kehidupan.
Pria itu memandang semuanya cukup lama sebelum menjawab, “Rumah saya sepi.”
Tidak ada yang langsung berbicara setelah itu.
Sari yang biasanya paling cepat menanggapi sesuatu justru terdiam.
“Anak-anak saya sudah kerja semua,” lanjut pria itu pelan. “Istri saya meninggal tahun lalu.”
Matanya tidak berkaca. Nada suaranya juga tidak bergetar. Namun, justru karena itulah kesedihannya terasa begitu nyata.
“Kalau di sini...” ia berhenti sejenak. “...rasanya masih ada suara orang. Masih ada kehidupan.”
Sunyi turun perlahan.
Jenaning yang tidak sengaja mendengar, lantas merasa sesuatu bergerak di dalam dirinya.
Bukan kebanggaan. Bukan kepuasan. Melainkan kesadaran.
Bahwa Pawon Sriyati tetap hidup dalam nama lain.
PAWON RASA
Dan Pawon Rasa tidak lahir karena sebuah nama baru.
Tidak lahir karena papan yang diganti.
Tidak lahir karena keputusan besar yang pernah ia ambil.
Pawon Rasa lahir dari orang-orang yang datang membawa lapar yang berbeda-beda.
Lapar akan kenangan.
Lapar akan kebersamaan.
Lapar akan rumah.
Dan tanpa benar-benar disadari siapa pun, pawon kecil itu mulai memberi mereka tempat untuk pulang.
***
Jika Jenaning adalah orang yang membuka pintu, maka Sari adalah orang yang memastikan pintu itu tidak copot dari engselnya.
Tidak ada yang secara resmi menunjuknya menjadi pengelola. Tidak ada rapat. Tidak ada pembagian tugas. Namun, entah sejak kapan, hampir semua orang yang datang ke Pawon Rasa akhirnya akan bertanya kepada Sari.
Di mana menyimpan panci.
Berapa lama santan harus dimasak.
Siapa yang harus dihubungi jika ingin datang minggu depan.
Bahkan kadang-kadang pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan memasak.
Suatu hari seorang mahasiswa yang sedang meneliti makanan tradisional datang membawa setumpuk kertas. Ia duduk hampir dua jam bersama Pak Wiryo, mencatat berbagai hal dengan sangat serius. Sesekali mengangguk, sesekali menulis cepat.
Ketika hendak pulang, ia menghampiri Sari yang sedang memotong cabai.
“Mbak, saya boleh tanya satu hal?”
“Boleh.”
“Menurut Mbak, apa makna terdalam dari Pawon Rasa?”
Sari tidak langsung menjawab. Ia terus memotong cabai.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu berkata, “Kalau saya jawab sekarang, kamu tetap bayar parkir, kan?”
Mahasiswa itu terdiam.
Jenaning yang kebetulan lewat hampir tersedak minumannya.
Sari mengangkat kepala. “Mukamu itu lho… serius amat.”
“Soalnya saya benar-benar ingin tahu, Mbak.”
“Nah, itu masalahnya, Dek.”
“Apa?”
“Kalian yang kuliah sering pengin tahu makna terdalam dari segala sesuatu.”
Mahasiswa itu berkedip.
Sari melanjutkan sambil menunjuk tumpukan piring kotor.
“Kadang makna terdalamnya… ya ikut aja cuci piring dulu.”
Tawa meledak dari beberapa orang yang sedang duduk di pawon.
Mahasiswa itu ikut tertawa meski wajahnya masih bingung. Namun, beberapa menit kemudian, justru dialah yang membantu mencuci piring sebelum pulang.
Dan tanpa sadar, ia mungkin telah mendapatkan jawaban yang lebih jujur daripada yang ia cari.
***
Orang-orang mulai mengenal Sari seperti mereka mengenal aroma bawang yang ditumis di dapur. Tidak selalu menjadi pusat perhatian, tetapi kehadirannya selalu terasa.
Jika Jenaning mengajarkan memasak dengan kesabaran, Sari mengajarkan kehidupan dengan cara yang jauh lebih sederhana. Ia mengingatkan orang untuk menaruh kembali barang pada tempatnya. Menutup toples setelah digunakan. Menyapu remah-remah yang jatuh ke lantai.
Hal-hal kecil yang nyaris tidak pernah dianggap penting. Padahal justru dari sanalah sebuah rumah bertahan.
Suatu sore, seorang ibu yang sering datang membawa dua anaknya berkata, “Mbak Sari itu aslinya memang galak, ya?”
Sari yang sedang menimbang beras langsung menjawab, “Bukan galak, Bu.”
“Lalu?”
“Aku hemat tenaga.”
Ibu itu tertawa. “Maksudnya?”
“Kalau ngomong baik-baik tiga kali terus ndak didengar, ya aku langsung ke intinya aja.”
“Dan intinya?”
“Biasanya lebih keras.”
Mereka tertawa bersama.
Namun setelah itu, Sari tetap membantu membawakan barang belanjaan ibu tersebut sampai ke sepeda motor.
Begitulah dirinya.
Mulutnya sering lebih tajam daripada pisau dapur, tetapi tangannya selalu lebih cepat membantu daripada orang lain.
Ada kalanya Jenaning memperhatikan sahabatnya itu dari kejauhan. Dan setiap kali melakukannya, ia menyadari sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar ia pahami.
Selama ia sibuk mengejar jejak-jejak masa lalu, ada orang-orang yang diam-diam menjaga hidupnya tetap berjalan.
Pak Wiryo.
Mbah Sriyati.
Banyu.
Dan Sari.
Terutama Sari.
Perempuan itu sebenarnya tidak pernah tertarik memburu misteri. Tidak pernah tertarik pada simbol. Tidak pernah peduli siapa Tanuwira. Namun, ketika Jenaning nyaris tenggelam dalam pencariannya sendiri, justru Sari yang terus menariknya kembali ke daratan.
Kadang dengan pura-pura ikut mencari.
Kadang dengan omelan.
Kadang dengan candaan.
Kadang dengan ketidaksabarannya yang khas.
Dan memang dengan caranya sendiri.
Ada cinta yang datang dalam bentuk pelukan. Ada cinta yang datang dalam bentuk pengorbanan. Dan ada cinta yang datang dalam bentuk seseorang yang terus berkata:
“Sudah makan belum?”
Bahkan ketika ia sedang kesal kepada kita.
Sari termasuk jenis yang terakhir.
***
Suatu malam, setelah orang-orang pulang dan suara percakapan perlahan menghilang dari pawon, Jenaning membantu membereskan meja.
Sari duduk di dekat rak beras sambil mencatat pengeluaran hari itu. Alisnya berkerut. Mulutnya komat-kamit menghitung sesuatu.
Jenaning memperhatikannya cukup lama. Lalu berkata pelan, “Sar?”
“Hmm?”
“Makasih, ya.”
Sari tidak mengangkat kepala. “Mau pinjam uang berapa?”
Jenaning tertawa. “Kenapa setiap aku bilang makasih, kamu mikir aku mau pinjam uang?”
“Karena pengalaman hidup aja.”
“Aku serius, Sar.”
“Aku juga serius, Ning.”
Jenaning menggeleng, lalu duduk di sebelahnya. Beberapa saat mereka hanya mendengar suara jangkrik dari luar.
Kemudian Sari menutup buku catatannya. Akhirnya menoleh.
“Kenapa?”
Jenaning sempat membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sulit menjelaskan rasa terima kasih kepada seseorang yang sudah terlalu lama menjadi bagian dari hidup kita. Sulit menjelaskan bahwa tanpa kehadirannya, mungkin banyak hal tidak akan sampai sejauh ini.
“Enggak kenapa-kenapa.”
Sari memicingkan mata. “Kamu itu selalu aneh.”
“Mungkin memang kepribadianku aneh.”
“Kamu capek?”
Jenaning mengangguk. “Tadinya, tapi sekarang enggak.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Sari tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek. Bukan senyum jahil. Melainkan senyum yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang hanya muncul ketika ia tahu semuanya baik-baik saja.
“Ya sudah.”
Hanya itu.
Dua kata sederhana.
Entah mengapa, bagi Jenaning, dua kata itu terasa seperti rumah. Karena pada akhirnya, tidak semua keluarga lahir dari hubungan darah. Sebagian lahir dari orang-orang yang memilih tetap tinggal.
Bahkan ketika mereka tidak punya alasan untuk melakukannya.
***
Anak-anak muda dari kota mulai memenuhi Pawon Rasa. Tidak setiap hari. Tidak pula dalam jumlah yang selalu sama.
Kadang hanya tiga orang.
Kadang belasan.
Kadang ada yang datang sekali lalu tidak pernah kembali.
Kadang ada yang datang setiap minggu tanpa pernah absen.
Mereka datang membawa alasan masing-masing. Ada yang ingin belajar memasak. Ada yang sedang menulis tugas akhir. Ada yang sekadar ingin menjauh beberapa jam dari kebisingan hidupnya sendiri.
Namun, hampir semuanya memiliki kesan yang sama ketika pertama kali bertemu Pak Wiryo. Mereka mengira pria tua itu akan mengajarkan resep.
Mereka salah.
Pada pertemuan pertama, Pak Wiryo bahkan tidak menyentuh panci. Ia tidak membicarakan bumbu. Tidak membicarakan santan. Tidak membicarakan masakan.
Ia hanya meletakkan sekarung beras di tengah pawon.
Lalu duduk.
Menunggu.
Anak-anak muda itu saling berpandangan.
Sampai akhirnya Pak Wiryo berkata, “Siapa yang bisa nyuci beras?”
Beberapa tangan langsung terangkat. Beberapa yang lain tertawa. Pertanyaan itu terasa terlalu mudah. Terlalu sederhana. Seolah tidak pantas diajukan oleh seseorang yang selama puluhan tahun hidup di dapur.
Pak Wiryo hanya mengangguk. “Silakan.”
Lalu mereka mulai mencuci.
Lima belas menit kemudian, tidak ada yang tertawa lagi.
Ada yang menggosok beras terlalu keras. Ada yang terlalu cepat mengganti air. Ada yang bahkan sibuk mengobrol sambil mencuci.
Pak Wiryo memperhatikan semuanya tanpa banyak bicara. Sampai akhirnya ia mengambil baskom itu perlahan.
Air di dalamnya masih keruh. Butiran beras banyak yang pecah. Ia mengembuskan napas pendek. Tidak marah. Tidak kecewa.
Hanya sedih.
“Kalau beras saja tidak dihargai...”
Ia mengangkat segenggam beras yang basah.
“...makanan pun tidak akan menghargaimu.”
Pawon langsung sunyi.
Bukan karena mereka mengerti. Melainkan karena mereka mendengar sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar teguran.
Seolah ada pengalaman panjang yang sedang berbicara melalui suara lelaki tua itu.
***
Hari berikutnya Pak Wiryo mengajarkan api.
Bukan memasak.
Api.
Ia menunjukkan cara menyusun kayu. Cara meniup bara. Cara mengenali bunyi api yang sehat. Cara mengetahui kapan tungku sedang terlalu panas dan kapan mulai kehilangan tenaga.
Anak-anak muda itu mendengarkan dengan wajah bingung.