Sehan Kanisa: Suami Plenger Istri Jutek Mood 1%

Iksawijey Pradana
Chapter #4

Syarat berpisah Sehan #4

"Hei, kenapa diam saja menantuku, ayo katakan!" perintah Bu Shinta.


Sembil mesem dan berbohong Kanisa pun menjawab, "Emh, iya tentu Ibu mertua, kenapa dia seperti itu? Maksudku putramu Sehan sangat baik, hem.”


"Syukurlah!” lirih Sehan yang merasa lega.


"Lalu apa suamimu itu—" ucapan Bu Shinta terpotong.


"Berikan teleponnya!" pinta Sehan menyahut ponsel ditelinga Kanisa.


Yah, saat ibunya Sehan masih akan bertanya dalam telefon yang digenggam Kanisa malah dirampas Sehan dari tangan Kanisa, tentu saja bu Shinta memberhentikan pertanyaannya.


"Halo ibu, sudah bicara saja denganku ya, ayo beri aku pertanyaan," kata Sehan.


"Heh dasar! Kenapa kau malah merampas teleponnya dari tangan istrimu? Ibu masih mau bicara padanya! Dasar, Berikan teleponnya kembali padanya!" bentak Bu Shinta dalam telepon.


"Tidak mau, Ibu! Bicara padaku saja," ujar Sehan yang berkeringat dingin.


Tak diduga bu Shinta mematikan teleponnya dan otomatis pembicaraan mereka berhenti, tentu saja hal ini membuat Sehan sangat girang. Namun, Kanisa merasa tak ada apa-apa.


"Yey, yey, yey!! Telefonnya dimatikan! Hehhehe ... emh, oh iya sebaiknya kau jangan pergi ya, tetaplah di sini dan tinggal bersamaku, meskipun kau mungkin tidak suka," pinta Sehan.


"Tidak akan!" bentak Kanisa.


"Hei, kau tahu kan bagaimana keluarga kita, pasti mereka akan marah besar jika tahu kita berpisah setelah pernikahan kita ini, bagaimana jika mereka tahu kita pisah rumah dan tidak tinggal bersama? Pasti mereka akan menghukum kita," ucap Sehan lembut.


"Aku tidak mau dengar!" Kanisa bernada tinggi pada Sehan.


"Hei, jangan begitu ...." Sehan merasa begitu sangat bersalah.


"Lalu aku harus bagaimana? Dan apa urusanmu?!" Kanisa semakin emosi pada Sehan saat Sehan kekanak-kanakan.


"Kalau kita berpisah dan tidak tinggal serumah pasti kedua orang tua kita akan tahu dan kau juga tidak mau itu, 'kan?” tanya cemas Sehan.


Kanisa begitu sangat kesal, terlihat dari mukanya yang memerah. 


“Kedua orang tua kita sangat mempercayakan pernikahan ini pada kita, jadi sekarang katakan apa kau mau ayah dan ibumu tahu kalau kau keluar dari rumah ini tidak membangun keluarga kita dan mereka marah besar padamu?" tanya serius Sehan yang begitu sangat harap-harap cemas.


Terlihat ponsel yang dipegang Sehan tiba-tiba ada panggilan video masuk, terpampang nyata sang ibulah yang menelponnya kembali, tetapi kali ini video call!

Lihat selengkapnya