Sehan Kanisa: Suami Plenger Istri Jutek Mood 1%

Iksawijey Pradana
Chapter #5

Beli rumah sendiri #5

Tawaran Sehan dapat dipahami oleh Kanisa, tetapi Kanisa hanya diam dan melirik.


"Jadi misal saat adik atau ibuku bahkan ayahku meminta video call memperlihatkan keadaan kita berdua di rumah ini kau sudah harus langsung ada disini dan di sampingku, bagaimana? Kau sangat setuju?" tanya Sehan.


"Ha." Tak diduga Kanisa mengabaikan tawaran Sehan dengan membuang nafas dan langsung membalikkan badannya lalu bergegas pergi dari rumah ini dengan membuka pintu utama, berjalan memantapkan langkah kakinya dan keluar dari rumah ini menyeret tas kopernya.


Sungguh perpisahan terjadi diantara Sehan dan Kanisa yang baru saja menikah pada pagi hari tadi dan ego masing-masing yang tak mau mengalah yang membuat mereka benar-benar berpisah dan memutuskan untuk tak serumah, yang akan tetapi pernikahan mereka masih terjalin dan terikat kuat juga tidak memikirkan untuk melakukan perceraian.


Bagaimanakah kisah meraka yang telah berpisah dan bagaimana kehidupan pasangan suami dan istri yang akan mereka jalani kehidupan masing-masing? Bagaimana kisah rumah tangga Sehan dan Kanisa yang akan mereka jalani secara terpisah?


"Ya sudah hati-hati!" kata Sehan sangat lantang pada Kanisa yang sudah keluar dari rumah ini dan terlihat sudah begitu jauh.


Sehan pun menutup pintu utama rumahnya ini dan mulai merasa tak berat hati sang istri Kanisa pergi meninggalkan rumahnya.


"Hoh, semoga setelah ini dan sampai beberapa minggu ke depan ibuku maupun anggota keluarga kami yang lainnya tidak menelpon maupun meminta video call denganku dengan Kanisa. Kalau ada yang menelfon menanyakan Kanisa di mana aku akan membuat alasan juga mengatakan Kanisa sedang pergi ke pasar, Kanisa sedang memasak, Kanisa sedang mandi, Kanisa sedang arisan, kalau malam pun aku akan memberi alasan kalau Kanisa sedang ke rumah tetangga meminta micin," gumam aneh Sehan yang berbicara sendiri.


Di sisi lain kini terlihat Kanisa sedang berjalan santai di pinggir jalan menyeret tas kopernya melihat kesana dan kemari memandang keindahan kota di malam hari yang penuh dengan cahaya lampu terang berwarna-warni menyorot di sepanjang jalan.


"Sungguh pemandangan di kota ini sangat indah, cahaya lampu begitu sangat menyorot. Hmm, tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana di kota yang sangat asing bagiku ini. Ini adalah kali pertama aku datang ke kota ini, entah ke mana langkah kakiku akan berjalan. Namun, aku tidak boleh seperti ini, aku harus menemukan tempat tinggal untukku. Aku sangat bersyukur karena ayah menyelipkan se-bungkus uang yang mungkin jumlahnya tidak sedikit di dalam koperku. Sudahlah, aku akan mulai mencari sebuah rumah kecil untukku. Howh, aku sangat lapar aku akan mencari tempat makan dulu," gumam Kanisa.


Singkat cerita, saat ini Kanisa nampak sedang menikmati makanan di sebuah kedai dan duduk bersantai memakan nasi putih juga lauk ikan.


"Nampaknya kau seperti baru di kota ini," ucap Bu Nia pemilik kedai.


"Itu benar, Bu. Aku baru datang ke kota ini," jawab Kanisa.


"Apa tujuanmu?" tanya Bu Nia.


"Aku datang ke kota ini untuk pindah ke rumah baru yang disiapkan oleh mertuaku dengan suamiku dan juga akan menempati rumah baru membangun rumah tangga bersama suamiku.” Kanisa menjawab santai sembari menatap makanannya dan menjelaskan pada pemilik kedai tersebut.


"Hei, lalu kenapa kau sekarang ada di luar dan membawa kopermu juga?" tanya cecar Bu Nia.


"Hoh, tidak seharusnya aku mengatakan hal pribadi ini kepada orang asing," batin Kanisa. 


Waktu berlalu, nampak Kanisa sudah meninggalkan kedai itu dan terlihat sudah berjalan mencari sebuah rumah untuk ditinggali.


"Waw, ya ampun lihat itu! Ada sebuah rumah dijual dan rumahnya pun tidak terlalu besar, pasti pas dikantongku. Aku akan pergi mengunjungi rumah itu!" seru Kanisa berjalan bergegas akan menyebrang jalan.


Kanisa yang melihat papan pengumuman sebuah rumah dijual di pinggir jalan raya ini pun langsung berusaha menyeberang jalan yang sangat ramai untuk sampai pada rumah yang nampak tidak terlalu besar terletak di pinggir jalan raya dengan tas kopernya. Sedangkan jalan raya begitu sangat ramai.


Lihat selengkapnya