Sehan Kanisa: Suami Plenger Istri Jutek Mood 1%

Iksawijey Pradana
Chapter #6

Curiga #6

Di sisi lain kini menampilkan Sehan yang nampak tenang mandi pada malam-malam begini.


"Yuhu, yuhu aku bahagia, kekasihku telah datang menghampiriku, hari minggu kutitip cintaku ... yeah! Suaraku sangat bagus." Sehan yang sedang mandi ini malah asyik bernyanyi dan bersenandung.


"Hoh, tidak! Kenapa aku malah tenang-tenang saja dan berdendang? Istriku Kanisa pergi meninggalkan rumah suaminya ini dan aku tidak mau para orang tua kami tahu, kan? Bukan aku tidak mengizinkan Kanisa memiliki keputusan seperti itu, tetapi aku sangat takut jika ayah ibuku dan kedua orang tua Kanisa sampai tahu, akan marah besar pasti mereka," kata Sehan mengeluh dan yang mengguyur badannya dengan air mengalir.


Sehan begitu sangat merasa tidak kedinginan mandi malam-malam begini. Apalagi suhu dingin di kota besar ini sedang naik-naiknya.


"Hohh, aku harus menenangkan diriku dulu dan mulai berfikir. Aku harus tahu Kanisa sekarang berada di mana juga apakah tidak jauh dari rumah ini. Aku yakin pasti Kanisa pergi ke sebuah rumah yayasan singgah wanita yang dihuni para wanita yang tidak memiliki tempat tinggal maupun suami, yah pasti itu benar. Dan Kanisa juga sudah mengerti kan bahwa dia harus datang ke sini kapan saja jika memang sangat mendesak ataupun saat ada panggilan vidio dari keluarga kami misalnya." Sehan mulai selesai mandi dan mengeringkan badannya dengan handuk.


Tak lama Sehan pun sampai di ranjangnya dan langsung naik ke ranjang, mematikan lampu, tarik selimut dan lalu mulai mencoba tidur sendiri di tempat sekaligus status yang baru ini. Sungguh ini pemandangan yang tak biasa, ia yang seharusnya tidur bersama sang istri setelah pernikahannya malah tidur sendirian dan tanpa belaian dari pasangannya itu maupun memulai hal baru.


Namun, status Sehan juga masih sangat dipertanyakan, ia yang berstatus sebagai seorang suami apalagi menikah pada pagi hari tadi, telah ditinggal sang istri karena permintaan anehnya.


Pagi hari pun telah tiba.


Nampak kini Kanisa baru bangun tertidur di rumah yang semalam baru saja dibelinya yakni rumah pak Swardan.


"Hem, tidurku sangat nyenyak. Aku tidur semalam sama sekali tiada yang mengganggu dan merasa tentram, sungguh rumah ini sangat nyaman, aku tidak salah memilih dan juga membeli rumah ini." Kanisa pun bergegas beranjak dari baringnya dan duduk di kasur ini.


"Oh astaga aku harus cepat-cepat pergi ke Bank dan tidak boleh terlupakan soal uang ayah yang akan kuambil diam-diam untuk membayar sisa tagihan rumah yang kubeli ini," gumam Kanisa.


Di sisi lain, kini terlihat Sehan juga baru saja bangun dari tidurnya dan menggosok matanya.


"Howhh, beginilah nasib sesudah menikah dan mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Biarlah aku tidak bersedih, aku juga sebenarnya belum siap menikah. Aku dan Kanisa menikah karena dijodohkan para orang tua dan beginilah akhirnya!” lirih Sehan yang bergegas menuju kamar mandi.


Tapi tak selang lama saat Sehan baru berjalan beberapa langkah, ponselnya pun berbunyi dan Sehan berlari menghampiri ponselnya lalu segera mengangkatnya. Firasat Sehan yang menelponnya pagi-pagi begini adalah sang ibu yang kemarin juga menelfon.


"Hoh, astaga firasatku ternyata benar!" lirih cemas Sehan.


Apakah yang akan terjadi? 


Panggilan telepon pun dimulai setelah Sehan mengangkat telefonnya.


"Halo, Nak, putraku yang tampan," sapa lembut Bu Shinta.


"Ehmp, iya Ibu? Ke-kenapa kau menelfon?" Sehan yang gugup malah salah melontarkan pertanyaan.


"Hei, apa Ibu salah jika menelfon?" tanya Bu Shinta yang terdengar kesal.


"Emh, bukan seperti itu Ibu, maksudku …." Sehan tak menyelesaikan perkataannya.


"Sudah ayo katakan di mana istrimu itu?!" suruh Bu Shinta.


Lihat selengkapnya