Sehan Kanisa: Suami Plenger Istri Jutek Mood 1%

Iksawijey Pradana
Chapter #7

Salah Paham #7

"Emh, tapi Nona apa semua ini atas persetujuan ayahmu? Apa ayahmu sudah menyetujui kau mengambil uangnya di kota dan juga bank kami ini?" tanya Zanira yang melayani Kanisa dengan segenap hatinya ini.


"Eh, hei tentu saja! Kenapa tidak? Tentu ayahku mengizinkan diriku untuk mengambil uang-uangnya, lagipula uang ayahku banyak tidak masalah jika kurampok!” jawab Kanisa lantang.


"Apa?! Merampok?!" Zanira terkejut.


Tentu saja Zanira si wanita penjaga Bank ini pun sangat terkejut mendengar Kanisa mengatakan merampok uang ayahnya.


Akankah Kanisa ketahuan dan gagal mendapatkan uang-uang itu?


"Emh, tidak! Maksudku mengambil uangnya bukan merampok perbaiki telingamu ya, Bu!” lirih Kanisa yang terlihat gugup saat salah bicara dalam emosinya.


"Hehehe ... maaf, Nona. Sebentar ya aku masih menghubungi pekerja Bank kami untuk memproses uangnya," tutur Zanira.


"Oh iya Bu, tambah 25 juta, ya? Jadi semua totalnya menjadi 100 juta," tutur jelas Kanisa.


"Emh, oke baiklah. Aku akan memanggil para pekerja kami untuk memprosesnya ...." Zanira si wanita pekerja Bank ini begitu sangat teliti saat melayani Kanisa yang akan mengambil uang.


"Terima kasih," ucap Kanisa.


Di sisi lain nampak kini Sehan sedang bersiap untuk pergi keluar dari rumahnya. Berpakaian rapi entah mau ke mana.


"Aku harus cepat-cepat pergi ke tempat makan karena aku begitu sangat lapar. Aku tidak memasak makanan apapun hari ini, karena bahan memasak seperti sayur dan bawang pun tidak ada. Ini juga adalah hari pertamaku hidup mandiri, sedangkan di rumahku sana dulu aku selalu makan masakan pembantu, sebenarnya aku ke rumah ini setelah menikah akan dimasakkan makanan lezat oleh istriku karena pernikahan kami ini, tapi ternyata istriku malah pergi. Ha, sudah aku tidak peduli," kata Sehan.


Sehan memakai sepatunya dengan mengikat tali sepatu itu.


"Aku juga akan pergi ke pasar untuk membeli keperluanku memasak sehari-hari. Uangku juga sangat banyak di tas karena dibekali ayah untuk kehidupan rumah tanggaku dengan gadis pilihan mereka yaitu si Kanisa." Tak lama ponsel Sehan yang di dalam saku celananya pun berdering dan Sehan langsung bergegas mengangkatnya.


Apakah yang akan terjadi? Akankah ketegangan terjadi? 


Sehan lagi dan lagi merasakan terkejut. Telepon tersebut tak lain dan tak bukan adalah dari sang ibunda.


"Halo, Nak?" Bu Shinta menyapa Sehan dalam telepon.


"Ap-apa? Ibu?!" Sehan begitu terkejut hebat.


"Iya, Nak, kenapa kau—" ucapan Bu Shinta terhenti.


Tak diduga tiba-tiba Sehan mematikan panggilan telepon itu, otomatis suara Bu Shinta di ponsel Sehan terputus.


"Hoh, mungkin keputusan yang tepat telefon ibu kumatikan. Aku tidak bisa meladeninya lagi, aku sungguh lelah harus membuat alasan. Aku butuh istirahat untuk berbohong pada ibu!” lirih Sehan.


Tentu saja tak lama kemudian Bu Shinta menelpon lagi.


"Aku akan tolak." Sehan langsung memutus dan tidak mengangkat panggilan itu.


Tak selang lama saat Sehan sedang berjalan menuju pintu utama panggilan terjadi lagi.


"Hoh astaga ibu ... kau ini menyebalkan sekali. Aku akan tolak lagi!"


Telepon berdering lagi.


Setelah berkali-kali Sehan menolak panggilan dari ibunya. Kini tak diduga ia mengangkat telepon.


"Hei, Sehan! Kenapa kamu selalu menolak telefon ibu?" tanya Bu Shinta sambil mengeluh.


"Iya, iya Ibu, apa? Aku tidak dengar! Astaga, maaf ya sinyalnya kurang bagus! Nanti aku telpon lagi, sampai jumpa!" seru Sehan dengan suara lantang dan lalu Sehan mematikan telefon.


"Hei, tapi?" Bu Shinta tak dapat terhubung.


Sehan yang telah mematikan panggilan bergegas keluar rumah dengan membuka pintu utama.


"Hoh, aku tidak bisa membuat alasan lagi. Dan ini mulai sangat berbahaya aku sungguh harus cepat-cepat mencari keberadaan Kanisa," kata Sehan.


Telepon berdering lagi.


"Hoh, astaga ... ibu menelpon lagi!" Sehan sangat mengeluh dalam hal ini.


Sehan yang menolak panggilan dari bu Shinta, telefon semakin menjadi-jadi dan telefon dari bu Shinta berkali-kali membuat ponsel Sehan berdering, tetapi dengan sekuat mungkin Sehan mematikan panggilannya.


"Howh, bagaimana ini? Sudahlah aku akan mematikan ponsel agar ibu tidak bisa terus menelfon dan ponselku akan tidak aktif," kata Sehan.


Sehan mengunci pintu rumahnya dan mulai berjalan meninggalkan rumah ini dengan langsung menuju jalan raya yang begitu sangat ramai.

Lihat selengkapnya