“Iya, sudah tidak apa. Ini sungguh salahmu, Nona. Bagaimana jika yang diseret-seret bukan aku? Bagaimana jika yang diseret dan digampar pipinya itu seorang berandal? Bisa-bisa ayahmu habis,” ujar Sehan yang ditujukan untuk Neha.
“Hei, apa memangnya aku makanan, Nak?” tanya Pak Abhilash.
“Maksudnya?” tanya balik Sehan.
“Kau bilang aku bisa dihabiskan,” jawab Pak Abhilash yang lugu.
“Hacz! Kau ini tidak gaul sama sekali, Pak,” kata Sehan melirik Pak Abhilash.
“Ajari aku cara bergaul, Nak,” pinta Pak Abhilash.
“Ha, astaga ….” Sehan nampak ketus pada Pak Abhilash yang habis melukainya.
Lalu Pak Abhilash menyentuh dan mengelus pipi Sehan yang tadi ditampar keras olehnya.
“Nak, pasti ini sangat sakit, aku akan mengganti rugi, aku akan memberimu sejumlah uang,” tutur Pak Abhilash.
“Wah, itu pekerjaan yang baik,” balas Sehan.
“Hiks-hiks!” Neha begitu sangat betah menangis padahal ini di pinggir jalan raya.
Pak Abhilash mengeluarkan dompet dari saku celananya, kemudian ia membuka dompetnya itu yang terpampang nyata uangnya sangat banyak dan merah-merah.
Setelah itu tak pakai lama Pak Abhilash menjulurkan uang beberapa lembar yang ternyata uang yang Ia berikan untuk Sehan hanya dua ribuan ada juga lima ratus perak pun ini membuat Sehan kesal.
“Ini Nak ambillah!” Pak Abhilash.
“Hei, kau pikir aku anak-anak yang kau berikan uang receh seperti ini? Sungguh sia-sia aku tadi berharap kau akan memberikan aku uang seratus ribuan, dengan begitu lumayan kan bisa kubuat untuk membeli permen,” kata Sehan jutek.
Pak Abhilash nampak tak enak pada Sehan dan merasa sangat bersalah. “Hei, ya sudah, Nak, sekarang katakan katakan berapa uang yang kau mau, biar aku akan memberimu!”
“Tidak banyak, hanya 500 ribu saja, kalau boleh semua sama dompetnya pun tak apa,” jawab Sehan.
“Hei, kau mau merampokku, ya? Sudah ayo, Nak kita pergi!” ajak Pak Abhilash yang menarik tangan Neha.
Pak Abhilash yang menarik tangan Neha lalu bergegas pergi dari sini meninggalkan Sehan karena Pak Abhilash nampak kesal lagi saat salah paham dengan perkataan Sehan yang meminta banyak uang.
“Hei, dasar tidak jelas,” kata Sehan.
Di sisi lain nampak Kanisa sedang menyapu di rumah baru yang ia beli dari pak Swardan tersebut.